Postingan

Riddle 4

Tuyul? Oleh: Fin Sore itu, aku dan kakakku pergi ke rumah saudara sepupuku yang baru saja pindah rumah. Rumahnya berada di daerah pedesaan yang masih jarang penduduk. Desa itu dikelilingi oleh hutan bambu( barongan ) sehingga, tak jarang orang mengira bahwa tidak ada desa disitu. Aku dan kakakku pergi naik sepeda motor, kami berangkat pukul 17.00 dan sampai disana pukul 18.00 tepat setelah maghrib. "Ayo cepet masuk! Nggak baik ada diluar waktu maghrib-maghrib." Kata kakak sepupuku sewaktu kami datang. "Kenapa emangnya?" Tanya kakakku. "Katanya banyak tuyul disini." Jawab kakak sepupuku. Aku langsung memegangi kepalaku yang baru saja digundul karena melanggar peraturan sehingga menyerupai kepala tuyul. "Nggak...nggak... Bukan kamu." Kakak sepupuku melambai-lambaikan tangannya. "Hmm." Aku menghela napas. "Kayaknya nggak mungkin deh ada tuyul, kan sekarang udah jaman modern." Sahut kakakku. Wal...

Riddle 3

Apartemen Oleh:ALU     Kring...kring...kring... Suara telepon yang ada dikamarku berdering, membangunkanku yang tengah tertidur lelap. Jam digital menunjukkan pukul 23.11. Aku berjalan malas ke arah telepon yang masih berdering tersebut, sambil menebak-nebak siapakah dan ada perlu apakah hingga menelpon tengah malam begini. "Halo, siapa ya?" Tanyaku. "Aduh nak, anak saya hilang." Jawab suara perempuan dari seberang. Perempuan tersebut adalah pemilik apartemen berlantai tiga yang kutinggali. "Hilang bagaimana bu?" "Dia tidak ada dilantai kedua, tempat saya sekeluarga tinggal. Terus kata satpam yang berjaga di lantai pertama juga nggak ada. Kan kamu di lantai ketiga, apa dia ada disana?" Ibu itu menjelaskan dengan sesenggukan. "Saya belum tahu, biar saya cari dulu bu, tenang bu nggak usah berpikir aneh-aneh." Hiburku.     Setelah menutup telepon aku lalu bergegas mencari anak pemilik apartemen ini. Di setiap lantai aparte...

Riddle 2

                        Hotel Angker? (2)                                Oleh: ALU     Malam itu pukul 23.40, kami bermain UNO di bangku pinggir kolam renang. Angin malam berhembus perlahan menimbulkan suara gemerisik daun pohon-pohon yang ada di belakang kami. Cahaya lampu yang dipasang di setiap sudut kolam renang, dipantulkan kembali oleh air yang tenang. Jujur saja, mungkin aku sudah ketakutan jika hanya aku, Rara, Lila, dan Ana yang ada disini, karena tempat ini cukup luas dan menurutku cocok untuk shooting adegan horor. Untungnya, ada beberapa orang disini, yang di bangku sebelah ada teman-teman sekolah kami yang sedang asyik berfoto, sedangkan di bangku bagian pojok ada beberapa orang yang merokok karena di hotel ini dilarang merokok di dalam ruangan. Karena efek angin, jadi asap rokok mereka terbawa hingga bangku kami. Kar...

Riddle 1

                                                                      Hotel Angker?                                                                             Oleh: ALU Saat study tour   ke Jogjakarta, kami menginap di sebuah hotel yang menurut kakak kelas merupakan hotel angker, karena t...

Cerpen 3

                                                           Predestined                  Oleh: ALU   Seorang laki-laki dengan panah yang dislempangkannya di punggung, berdiri di tebing sambil menengadah ke langit yang bertabur bintang. Angin malam yang lembut memainkan rambut birunya yang sedikit panjang. Ia menghela nafas panjang, luka yang ia alami bukannya terobati seiring berjalannya waktu, luka itu justru menganga lebar. "Master Zaffre!" Panggil laki-laki berambut coklat. "Sudah kubilang, tidak usah memanggilku 'master' , ada apa?" Jawab laki-laki berambut biru, Zaffre. "Sepertinya sudah waktunya." "Baiklah, aku ...

Cerpen 1

Aku Oleh: ALU    Burung-burung bernyanyi merdu, menyambut sang surya yang mulai menampakkan dirinya. Aku mengerjapkan mataku dan melihat sekitar. Tapi, dimana aku? Mengapa aku tiba-tiba berada di pinggir lapangan? Dan siapa Pak Tua berbadan besar yang ada disebelahku? Hei lihat Pak Tua itu terbangun! Mungkin aku bisa bertanya padanya tentang apa yang terjadi kemarin. “Kemarin ada anak kecil yang menyelamatkanmu dan membawamu kesini” tanpa kuminta Pak Tua itu menjelaskan padaku. “Menyelamatkan? Dari apa?” “Jadi kau benar-benar lupa ya! Kemarin kau hampir mati berada di pinggir jalan itu gara-gara kekurangan air” aha, aku baru ingat aku kemarin memang sekarat gara-gara tempatku tercemar sampah   jadi aku sering sakit-sakitan ditambah lagi saat itu aku kekurangan air. “Lalu siapa yang menyelamatkanku? “Manusia yang sedang menuju kemari” Pak Tua itu menunjuk anak perempuan yang berusia kira-kira 16 tahun menuju ketempat kami sambil membawa ...