Resensi Buku "Seperti Roda Berputar"
Oleh: Fin
Buku
Seperti Roda Berputar saya beli di Festival Sastra Kota Malang (pada 22
Oktober 2023). Waktu itu sebenarnya saya bingung mau membeli apa, karena saya
tidak menemukan buku yang saya cari. Akhirnya bapak saya menunjukkan buku ini (dalam1
bundle) sambil berkata: “Ini lho kayaknya bagus, mengajarkan hidup itu
berputar seperti roda. Beli ini aja wes, terus langsung pulang, Bapak pusing
lihat orang banyak.” Karena bapak saya pantang pulang dari toko sebelum membali
sesuatu (katanya sungkan sudah lihat-lihat tapi tidak beli), akhirnya saya
mengangkut bundle buku tersebut ke kasir dan membayarnya. Buku ini baru
mulai saya baca tanggal 3 Desember kemarin dan selesai tanggal 19 Desember, ternyata
butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan buku di sela-sela pekerjaan (uhuy
akhirnya sudah tidak menganggur lagi guys). Selamat membaca resensi
singkat saya tentang buku Seperti Roda Berputar.
1 Identitas
Judul: Seperti Roda
Berputar
Penulis: Rusdi Mathari
Jumlah Halaman: viii+ 78
halaman
Ukuran: 18 cm x 12 cm
Penerbit: Mojok
Cetakan pertama, 2018
2 Sinopsis
“Saya harus mengetik,
harus bertahan dan hidup. Menulis adalah pekerjaan saya. Karena itu saya
mencoba menulis menggunakan gajet, meskipun hanya dengan satu jari. Tangan kiri
memegang gajet, jempol tangan kanan mengetik.” Buku berisi tentang catatan Cak
Rusdi saat di rumah sakit, terdapat beberapa judul sebagai berikut.
·
Perayaan
·
Di Rumah Sakit
·
Seperti Roda Berputar
·
Kongkalikong
·
Dokter “Sir. Yes, Sir”
·
Elu Pengin Mati?
·
Bye-Bye, ICU, Bye…
·
Para Perawat Itu
·
Selepas dari Ruang ICU
·
Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku (1)
·
Sadar
·
Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku (2)
·
Batal
·
Epilog
3 Kepengarangan
Rusdi
Mathari lahir di Situbondo pada 12 Oktober 1967, ia menekuni profesi
jurnalistik sejak 1990-an. Ia telah melanglang karier sebagai wartawan di Suara
Pembaharuan, lalu bekerja di InfoBank, detikcom, Pusat Data dan Analisa Tempo,
serta Trust. Pada 1999, dia terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif
terbaik versi ISAI dan dikirim ke Bangkok untuk mengikuti crashprogram penulisan
jurnalistik tentang HAM. Beberapa buku yang pernah diterbitkan antara lain: Merasa
Pintar, Bodoh Saja Tak Punya; Aleppo; Mereka Sibuk Menghitung
Langkah Ayam; Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan; Laki-Laki
yang Tak Berhenti Menangis; dan Laki-Laki Memang Tidak Menangis, Tapi
Hatinya Berdarah, Dik.
4 Kelebihan
Rusdi Mathari mengangkat tema tentang
catatannya di rumah sakit, ia menggunakan gaya bahasa yang santai dan mengalir.
Latar tempat, waktu dan suasana juga digambarkan dengan jelas, sehingga pembaca
seperti dapat turut menyaksikan dan merasakan apa yang terjadi di buku tersebut.
Dari percakapan dan narasi-narasi singkat, Rusdi Mathari dapat menunjukkan
watak dan penokohan dengan baik. Terdapat amanat-amanat yang disampaikan oleh
beliau, baik secara langsung ataupun tidak. Namun yang pasti, dari keinginan Rusdi
Mathari untuk menyampaikan gagasan dan menulis yang tetap membara walaupun dalam
kondisi sakit, memotivasi kita untuk menjaga semangat menulis dan berkarya
selama masih muda dan diberi kesehatan.
5 Kekurangan
Terdapat kata “bokong” pada buku ini tepatnya pada
halaman 24, walaupun penggunaan kata dalam konteks tersebut tidak merujuk ke
seksual, namun menurut saya buku ini lebih cocok dibaca untuk usia di atas 17
tahun, bukan untuk anak-anak.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar