Cerpen 3


                                                        Predestined
                Oleh: ALU
  Seorang laki-laki dengan panah yang dislempangkannya di punggung, berdiri di tebing sambil menengadah ke langit yang bertabur bintang. Angin malam yang lembut memainkan rambut birunya yang sedikit panjang. Ia menghela nafas panjang, luka yang ia alami bukannya terobati seiring berjalannya waktu, luka itu justru menganga lebar.
"Master Zaffre!" Panggil laki-laki berambut coklat.
"Sudah kubilang, tidak usah memanggilku 'master' , ada apa?" Jawab laki-laki berambut biru, Zaffre.
"Sepertinya sudah waktunya."
"Baiklah, aku akan pergi kesana."
Zaffre beranjak pergi dari tebing itu, dan menuju ke pondok kecil yang berada di pinggir telaga. Pondok yang terbuat dari kayu itu adalah tempat kediaman guru bela dirinya. Gurunya itu ahli bela diri yang terkenal, namun ia memilih menyembunyikan dirinya dari manusia yang membuatnya terasingkan dari alam. Dan, ia hanya mengakui satu murid, yaitu Zaffre.
"Pergilah ke utara, dan temui takdirmu!" Cahaya lilin yang remang-remang menyinari wajah tenang sang guru.
"Baik guru." Jawab Zaffre sambil undur diri.
Setelah sekian lama, akhirnya Zaffre dapat menghirup udara luar. Membawa panah sudah cukup menarik perhatian penduduk, jadi dia menutupi rambut birunya dengan tudung berwarna coklat unta. Zaffre menuju pasar untuk membeli makanan, karena persediaan makanannya telah habis. Tanpa sengaja, matanya menangkap gerak-gerik mencurigakan dari orang yang berada di depan toko emas. Dan binggo ! Orang itu menyambar emas milik salah satu pembeli. Melihat hal itu Zaffre mengejar orang itu, saat mendapat jarak yang cukup pas, Zaffre membidik panah sehingga anak panah tersebut menyerempet telinga si pencuri tanpa menimbulkan luka. Pencuri tersebut berhenti lalu berbalik, dan tiba-tiba pencuri tersebut menyerang Zaffre menggunakan belati. Zaffre berhasil menghindar, namun ternyata sasaran belati itu bukan dia, sasarannya adalah gadis pemilik emas tersebut yang berhasil mengejar si pencuri. Tanpa pikir panjang Zaffre menahan belati tersebut dengan telapak tangannya. Si pencuri sedikit gentar melihat kenekatan lawannya. Keadaan pun berbalik, Zafree dapat merebut belati si pencuri. Si pencuri tersenyum misterius.
"Hadiah, karena sudah berhasil merebut senjataku!" Kata pencuri itu sambil melemparkan barang curiannya.
Zaffre menangkap barang curian tersebut dan mengembalikannya pada si pemilik. Dalam sekejap mata si pencuri sudah hilang dalam pandangan Zaffre.
"Anda terluka!" Ujar gadis tersebut.
"Hanya luka kecil, tidak apa-apa." Jawab Zaffre.
"Dilihat dari lukanya yang kehitaman sepertinya belati tersebut dilumuri racun, di dekat sini ada tabib yang sangat handal, mari saya antar kesana untuk membalas budi."
"Jangan terlalu khawatir, luka seperti ini tidak akan..." Belum sampai Zaffre menyelesaikan perkataannya, pandangannya menjadi gelap dan tubuhnya terasa berat.
Saat Zaffre membuka mata, ia berada di atas dipan, dan telapak tangannya dibalut perban. Ada gadis berambut ombak dan panjang berwarna hijau di pojok ruangan, sepertinya sedang meramu obat. Zafree lalu bangun, sehingga posisinya sekarang sedang duduk di atas dipan. Saat gadis tersebut menoleh kearah Zaffre, waktu terasa berhenti. Wajah itu, wajah itulah yang membuat Zaffre tersiksa selama ini, wajah itu yang ingin Zaffre lupakan karena telah membuat luka. Saat itu Zaffre menyaksikan gadis tersebut meregang nyawa dengan mata kepalanya sendiri, namun sekarang gadis tersebut berdiri di depannya.
"Scarlett?" Tanya Zafree.
"Oh, anda sudah bangun ternyata. Scarlett? Siapa itu?" Gadis itu balik bertanya.
"Kau? Kau bukan Scarlett?"
"Emerald. Tabib dari Klan Hutan Hijau." Bukan gadis itu yang menjawab, namun suara tersebut dari arah laki-laki berambut merah tua dengan pedang yang disabukkan di pingangnya.
"Jangan hiraukan si pembual itu." Kata si gadis.
"Enak saja si pembual! aku adalah Reddo sang ahli pedang." Reddo menimpali perkataan Emerald sambil berpose layaknya ahli pedang sungguhan.
"Walaupun ahli pedang, sekali pembual ya tetap pembual! dan bla bla bla." Zaffre sibuk berpikir, hingga percakapan mereka berdua tidak terdengar. Dalam kekalutan pikirannya ia teringat akan perintah gurunya.
"Permisi, apa kalian tahu tentang putra mahkota dari Kerajaan Bulan Merah di utara?" Tanya Zaffre.
"Jadi kau memang bukan orang sini ya? Sampai tidak tahu hal begituan." Reddo menautkan kedua alisnya yang tebal sambil memegang dagunya.
"Kerajaan itu sudah dikuasai pengkhianat, untungnya sang putra mahkota saat pemberontakan berlangsung dia dapat kabur, namun tidak ada yang tahu dia dimana sekarang, bahkan saya sendiri tidak tahu wajah putra mahkota itu." Jawab Emerald.
"Dilihat dari warna rambutmu, kau berasal dari Klan Berlian Biru yang sudah punah itu kan? Lalu kenapa kau mencari putra mahkota itu?" Reddo bertanya dengan nada sarkastis.
"Hus! Aduh maaf ya atas ketidaksopanan teman saya." Kata Emerald sambil membungkuk.
"Tidak apa-apa, memang benar perkataan teman anda itu, dan tujuan saya mencari putra mahkota tersebut adalah untuk melindunginya atas perintah guru saya, namun sayangnya saya belum menemukan putra mahkota tersebut." Zaffre menghela nafas panjang.
"Kami juga akan melakukan perjalanan ke utara, karena saya akan mencari tanaman obat yang hanya ada disana, sedangkan tujuannya tidak jelas, jadi anda bisa ikut kami." Kata Emerald sambil menunjuk Reddo.
"Eh? Tidak jelas katamu? Aku ini orang yang melakukan sesuatu dengan perencanaan terlebih dahulu tahu!" Reddo tidak terima.
"Baiklah, terimakasih atas tawarannya."
Jarak paling dekat dari sini ke kerajaan utara adalah dengan menggunakan jalan pintas melewati Hutan. Perjalanan pun dimulai. Siangnya mereka berjalan, saat malam mereka beristirahat. Karena Emerald perempuan, ia tidur di dahan pohon. Sedangkan Zaffre dan Reddo tidur di bawah pohon sambil berjaga.
Suatu malam, Zaffre terjaga karena suara desingan pedang. Ia mencari sumber suara itu, ternyata Reddo sedang berlatih pedang. Tidak seperti biasanya yang terlihat konyol dan urakan, saat berlatih ia terlihat fokus dan tegas. Ia melakukan teknik dasar pedang, namun itu terlihat sangat keren, ditambah setiap gerakannya menimbulkan suara mendesing seakan-akan pedang tersebut beradu dengan angin. Sepertinya dia memang ahli pedang, atau mungkin lebih dari itu.
Zaffre lalu memutuskan untuk kembali ke pohon tempat istirahatnya. Saat sampai di pohon itu, ia melihat Emerald yang sedang menatap kosong hutan gelap yang dihiasi oleh sinar kunang-kunang yang berterbangan.
"Sedang apa?" Tanya Zaffre.
"Saya dari tadi tidak bisa tidur, jadi saya menyibukkan diri dengan melihat pemandangan, tapi semakin saya melihat pemandangan itu pikiran saya jadi semakin kacau." Jawab Emerald.
"O begitu."
"Ngomong-ngomong, saat pertama kita bertemu, anda mengira saya Scarlett kan? Siapa itu Scarlett?" Emerald bertanya dengan mata yang berbinar-binar seperti biasanya, sambil memainkan jari-jarinya.
"Dia orang yang indah,  hanya itu yang perlu kau tahu." Jawab Zaffre dingin, lalu ia meninggalkan Emerald yang tatapannya semakin kosong.
Zaffre lalu pergi ke tanah terbuka yang lumayan jauh dari lokasi pohon, ia ingin melupakan tentang Scarlett. Zaffre lalu memandang langit, kali ini bintang yang terang pun tertutup oleh awan, cahaya yang dipancarkan bulan pun terasa janggal. Ada sesuatu yang mengusik pikiran Zaffre, ia berharap semoga Reddo dan Emerald baik-baik saja. 'Oh tapi Reddo kan ahli pedang, jadi dia bisa melindungi diri sendiri dan Emerald, tidak ada yang perlu kukhawatirkan.' Pikirnya. Zaffre lalu menutup matanya dan menengadah ke langit. Tetes pertama jatuh ke hidungnya yang mancung. Hujan. Tapi hujan ini membuat pikiran buruk itu kembali terbesit. Zaffre akhirnya memutuskan untuk kembali ke pohon itu.
Sesampainya di pohon itu, ternyata mereka berdua tidak ada, bahkan barang bawaan mereka berserakan di tanah. Tiba-tiba leher belakangnya terasa gatal. Saat ia menyentunya, ternyata ada jarum yang menempel disana. Sebelum ia sadar bahwa itu obat bius, ia sudah tergeletak di tanah.
Tempat gelap dengan stalaktit yang menghiasi langit langitnya. Itulah yang Zaffre lihat saat ia membuka matanya. Saat ia mencoba menggerakkan tangannya, ternyata tangannya terikat. Ia mencoba melepaskan ikatan itu.
"Wah...wah... Lihatlah siapa ini." Suara ini, Zaffre pernah mengenalnya."Bagaimana Si Kelinci Percobaan ini masih bisa hidup? Padahal racun yang kubalurkan di belatiku itu racun terbaru yang kukembangkan lho." Orang itu melanjutkan sambil mendekatkan obor ke wajahnya.
"Kau! Seharusnya aku tak membiarkanmu lolos waktu itu." Zaffre menggeram saat melihat wajah orang itu, Si Pencuri.
"Wah, ternyata murid Si Tua Bangka ini tidak memiliki sopan santun sama sekali, tapi apa kau tidak menghawatirkan teman-temanmu?" Zaffre baru ingat tentang Reddo dan Emerald.
"Jangan berani-berani menyebut guruku dengan mulut kotormu itu, dimana mereka?" Tanya Zaffre.
"Oh, tidak semudah itu, apalagi harga kepala teman-temanmu itu sangat mahal, terutama Si Putra Mahkota." Jawab Si Pencuri.
"Apa yang kau katakan? putra mahkota?" Zaffre bingung.
"Ternyata kau tidak tahu ya? Si Rambut Merah itu putra mahkota Kerajaan Bulan Merah, kau bodoh sekali sampai tidak menyadarinya." Seharusnya Zaffre sadar sejak melihat warna rambut Reddo, dan saat dia menggunakan pedang, yang hanya dengan melakukan gerakan dasar sederhana, namun terlihat seperti gerakan baru yang lebih kuat.
"Tu..Tuan... Si Putra Mahkota berhasil kabur!" Anak buah Si Pencuri datang dengan tergopoh-gopoh dengan obor ditangannya.
"Bukannya disana ada beberapa penjaga?" Si Pencuri terlihat gusar.
"Saat saya sampai disana, semuanya sudah tidak sadarkan diri."
"Sialan! Cepat cari dia!" Si Pencuri sampai tidak memedulikan keberadaan Zaffre, saking sibuknya memikirkan uangnya yang melayang.
Si Pencuri lalu meninggalkan Zaffre untuk mencari Si Putra Mahkota. Ini kesempatan yang bagus untuk Zaffre kabur. Zaffre menutup matanya dan mengingat apa yang telah diajarkan gurunya. 'Tenang dan fokus, hanya itu yang kuperlukan, tidak perlu terburu-buru.' Ujarnya pada diri sendiri. Lima detik kemudian ikatan di tangannya sedikit longgar, sehingga sekarang kedua tangannya bebas. Ia lalu menyusuri tempat yang diduganya adalah gua, untuk mencari Emerald. Matanya sudah terbiasa dalam gelap sehingga ia berjalan tanpa perlu menggunakan obor. Lalu ia menemukan jalan bercabang. Ia berhenti sejenak, ia bingung memilih jalan yang kanan atau yang kiri. Akhirnya ia memilih jalan yang kiri, karena jalan itu terlihat sepi. Setelah masuk cukup dalam pada jalan tersebut, bahu Zaffre ditepuk oleh seseorang dari belakang. Dengan cekatan, Zaffre memelintir tangan Si Penepuk dan menyudutkannya ke dinding gua.
"Ah... Hentikan! Sakit tahu!" Kata Si Penepuk yang tak lain adalah Reddo.
"Maafkan saya, Putra Mahkota!" Zaffre membungkukkan badannya.
"Ya ampun! Baru saja tanganku bebas dari jeratan, sekarang malah kau pelintir! Kau itu jangan terlalu kaku begitu dong!" Reddo merangkul Zaffre yang lebih tinggi darinya dengan sok akrab, sehingga Zaffre berjalan dengan terseret-seret. 'Mungkin aku salah orang' pikir Zaffre sambil melirik ke arah Reddo yang mengoceh dengan antusias.
"Sekarang kita harus kembali ke ujung jalan, lalu melewati jalan yang sebelah kanan untuk menyelamatkan Emerald." Jelas Zaffre.
"Ya ampun, itu kan jauh sekali. Aku punya ide!" Reddo membisikkan idenya tersebut ditelinga Zaffre.
"Bukannya itu menghabiskan banyak tenaga?" Tanya Zaffre.
"Sudahlah, percayalah padaku." Reddo meyakinkan Zaffre.
Setelah memindahkan beberapa batu di dinding pembatas antara jalan kanan dengan kiri, akhirnya usaha mereka menghasilkan lubang yang dapat dilewati satu orang. Setelah mereka berdua bergantian melewati lubang tersebut, mereka sampai di jalan kanan. Jalan itu terlihat terang, karena di sepanjang dinding kanannya terpasang banyak obor, sehingga bayangan mereka yang berjalan mengendap-ngendap terlihat jelas di bagian dinding satunya. Reddo menggenggam terus pedang di pinggangnya. Sedangkan Zaffre, memegang busur panah dengan tangan kirinya, bersiaga. Tiba-tiba ada pasukan orang bertopeng menyerang mereka, dengan semangat Reddo menarik pedang dari sarungnya dan mulai menyerang orang-orang tersebut. Dengan panahnya, Zaffre mendukung Reddo dari jauh. Namun, orang-orang tersebut tidak ada habisnya, tenaga mereka mulai terkuras. Akhirnya, setelah beberapa jam, dengan sisa tenaga yang mereka miliki, pasukan orang bertopeng tersebut habis.
"Hei, apa kau yakin kita tidak salah jalan?" Tanya Reddo.
"Sepertinya tidak tuan, jika salah jalan kenapa tadi ada pasukan yang menyerang kita?" Jawab Zaffre.
"Hmm, masuk akal juga." Reddo manggut-manggut.
"Sebaiknya kita harus cepat menyelamatkan Emerald." Ajak Zaffre yang dibalas anggukan oleh Reddo.
Mereka mempercepat langkah menuju ujung gua. Tanpa mereka sadari mrreka telah membuat kesalahan, di tempat lubang yang mereka buat, batu-batu mulai berjatuhan. Sesampainya di ujung gua, mereka melihat Emerald sendirian dengan kedua tangan terikat dan mulut tersumpal. Reddo menganggap hal ini kesempatan yang bagus untuk menyelamatkan Emerald, namun tidak bagi Zaffre, ia menganggap hal ini terlalu mencurigakan. 'Mana mungkin tawanannya dibiarkan sendirian seperti itu, saat kami berdua sudah bebas.' pikir Zaffre. Tanpa pikir panjang, Reddo langsung berlari ke arah Emerald. Melihat hal tersebut Emerald mencoba mencegah Reddo dengan menggeleng-geleng kan kepalanya, 'Jangan ini jebakan!' teriakan Emerald percuma karena teredam oleh kain yang disumpalkan ke mulutnya.
"Tenang saja, aku hanya menginginkan kepalamu!" Kata Si Pencuri yang tiba-tiba berada di belakang Reddo sambil menodongkan pedangnya di leher Reddo.
"Ambil saja kalau bisa." Reddo menghindar lalu mencabut pedang dari sarung pedangnya.
Melihat hal tersebut, Zaffre mengambil anak panah dan bersiap memanah Si Pencuri.
"Hei, apa yang kau lakukan bodoh! Daripada itu, cepatlah bebaskan Emerald!" Teriak Reddo di tengah-tengah perkelahiannya dengan Si Pencuri.
Mendengar perintah Reddo, Zaffre lalu menuju ke tempat Emerald. Saat tiba disana ternyata Emerald dijaga oleh dua orang bertubuh besar dan kekar. 'Aku harus mencari titik kelemahan mereka!' pikir Zaffre sambil beberapa kali memanah mereka, namun mereka tidak peduli dan terus maju, bahkan mereka mencabuti anak panah di tubuh mereka sendiri seolah-olah hal tersebut sama sekali tidak menyakitkan. Zaffre lalu meletakkan panahnya dan mulai menyerang keduanya dengan tangan kosong. 'Jurus ini hanya bisa dilakukan oleh Klan Berlian Biru dan membutuhkan ketenangan dan kekuatan yang luar biasa, dan yang perlu kau ingat, karena ini jurus tingkat tinggi, setelah menggunakan jurus ini tubuh pengguna akan mengalami kelelahan yang amat sangat.' kata gurunya waktu itu. Mau tidak mau Zaffre harus mengeluarkan jurus itu agar bisa menyelamatkan Emerald. Zaffre mengambil ancang-ancang, ia memejamkan matanya untuk mendapat ketenangan, setelah itu ia membuka matanya dan memfokuskan serangan. Pada serangan kedua, mereka sudah tidak sadarkan diri. Zaffre lalu membebaskan Emerald.
"Terimakasih." Ucap Emerald lirih di tengah suara desingan pedang yang beradu.
Pada pertarungan Reddo dan Si Pencuri, Si Pencuri kalah telak hingga terkapar di tanah. Suara runtuhan dari dalam gua diikuti berguncangnya tanah di seluruh bafian gua.
"Ayo cepat keluar!" Zaffre dan Emerald berlari keluar setelah mendengar teriakan Reddo.
"Hei, mau kemana kau?" Si Pencuri mencengkeram pergelangan kaki Reddo.
Melihat hal tersebut Zaffre kembali ke dalam, membiarkan Emerald berlari sendiri. 'Tugasku adalah melindungi Putra Mahkota.' kata Zaffre dalam hati. Zaffre lalu melepaskan cengkraman Si Pencuri dan mendorong Reddo agar cepat keluar. Ia lalu mencoba menyusul Reddo, namun kecepatannya menurun setelah menggunakan jurus tersebut, langit-langit gua mulai runtuh, dan semuanya menjadi gelap. Saat Zaffre membuka mata, hanya ada warna putih disekelilingnya.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi." Ucap seorang gadis berambut lurus dan panjang yang berwarna merah darah.
"Scarlett? Oh jadi aku sudah mati ya... Tapi bagaimana dengan Putra Mahkota?" Tanya Zaffre.
"Dasar kau ini, aku sudah lama menunggumu disini, tapi saat kau datang kau malah memikirkan orang lain." Scarlett menyilangkan kedua tangannya, sebal.
"Kau masih sama ya." Zaffre tersenyum dan mengacak-acak rambut Scarlett.
"Mereka berdua baik-baik saja kok." Scarlett menjawab tanpa dipaksa.
"Syukurlah."
"Berhubung urusanmu sudah selesai ayo kita pergi!" Ajak Scarlett yang dibalas anggukan oleh Zaffre. Mereka berdua lalu berjalan menuju pusat cahaya.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"