Riddle 1


                                                                     Hotel Angker?
                                                                        Oleh: ALU
Saat study tour  ke Jogjakarta, kami menginap di sebuah hotel yang menurut kakak kelas merupakan hotel angker, karena tahun lalu beberapa dari mereka mengalami hal yang janggal. Hotel ini luas namun tidak terlalu tinggi mengingat letaknya di kawasan penerbangan. Hotel ini hanya terdiri dari tiga lantai dengan atap gentingnya yang berwarna coklat tua. Dindingnya yang berwarna putih serta banyaknya tanaman besar menambah kesan menyeramkan. 'Untung saja hanya menginap satu malam.' pikirku yang penakut ini.
Setelah mengambil barang kami yang ada di bus, kami lalu mengambil kunci kamar. Setiap kamar berisi empat orang, namun di kamarku ada lima orang karena kamarnya yang lebih luas jika dibanding kamar yang lain.
"Kamu kamar nomor berapa?" Tanyaku pada teman kelasku.
"202." Jawab Lila.
"218." Jawab Ana.
"Kalian di lantai dua semua? Yah di lantai satu sendiri." Keluhku.
"Kan kamu sekamar sama Mimi sama Dila, jadi nggak sendirian dong." Timpal Rara yang sekamar dengan Lila.
"Ya sudah deh bye ! , nanti kalau sudah beres-beres aku ke kamar kalian, kita main UNO bareng." Kataku sambil melambaikan tangan pada mereka yang naik lift.
Setelah itu aku masuk ke kamar ku yang berada di depan kolam renang. Saat aku tiba di kamar, yang lainnya sudah selesai beres-beres. Bahkan ada yang sudah di dalam kamar mandi.
"Ayo kita ke kamar Lila!" Ajakku setelah beres-beres.
"Males ah, ngantuk!" Jawab Dila dari balik selimut yang tebal dan hangat pastinya.
"Mmm, aku nggak ikut deh maaf ya, rambutku kotor banget nih, mau keramas." Kata Mimi yang sungkan menolak.
"Ya sudah deh, duluan ya!" Aku melambaikan tangan kananku karena tangan kiriku membawa kartu UNO, lalu menutup kembali pintu kamar.
Aku melirik jam tangan hijau ku yang menunjukkan pukul 23.17. Berjalan melewati kolam renang sendirian membuatku merinding. Tapi aku harus melewatinya untuk bisa kelantai atas, karena lift dan tangga bersebrangan dengan kamarku. Sesampainya di depan lift aku lega, namun ternyata layar yang ada di atas lift menunjukkan ' 4⬆'. 'Yah, lift nya masih dipakai, lewat tangga aja deh.' pikirku.
Lalu aku nelewati tangga yang hanya mendapat penerangan dari lampu yang ada di lantai atas. Setelah langkah kelima, aku melihat sebuah lukisan di belokan tangga. Katanya, setiap lukisan disini tidak ada yang sama agar pengunjung tidak  bosan. Lukisan yang kulihat di belokan tangga adalah lukisan tiga bunga sepatu berwarna jingga. 'Jangan menyentuh sembarangan kalau kau tidak ingin menemui hal janggal.' teringat pesan temanku, aku menahan tanganku untuk menyentuh lukisan itu. Bulu kudukku rasanya berdiri, jadi aku menaiki tangga dengan berlari. Lalu aku belok kanan, dan akhirnya aku sampai di kamar Lila yaitu kamar kedua dari tangga.
"Akhirnya!!!" Seruku.
"Wah kamu sudah datang, tapi kita mau pergi nih ke kolam renang." Kata mereka.
"Nggak jadi main UNO nih?" Tanyaku sedikit kecewa.
"Jadi dong, tapi kita mainnya di pinggir kolam renang aja." Jawab Rara.
"Oke deh." Kami lalu belok ke kanan untuk turun melewati tangga.
Saat kami berada di belokan tangga, aku sangat kaget karena lukisan yang kulihat bukan lukisan yang tadi. Lukisan yang sekarang adalah lukisan lima bunga melati berwarna putih. Aku ketakutan setengah mati lalu berlari menuruni tangga. Teman-temanku refleks ikut berlari tanpa tahu sebab. Sesampainya di pinggir kolam renang kami duduk di kursi yang telah disediakan.
"Ada apa sih, kok kamu tiba-tiba lari?" Tanya Lila.
"Tadi, waktu aku lewat tangga, lukisan yang aku lihat itu 3 bunga sepatu berwarna jingga, tapi saat lewat dengan kalian yang aku lihat 5 bunga melati berwarna putih." Jelasku.
"Iih...serem banget." Kata Lila yang juga penakut sama sepertiku.
"Kalian ini ya... Coba perhatikan baik-baik, kamar kita berada di antara dua tangga yang satu dekat lift, yang satunya di pojokan, mungkin tadi kamu berangkatnya lewat yang di dekat lift karena jaraknya dengan kamarmu lebih dekat, tapi kita tadi kan memang lewat yang di pojokan, jadi wajar dong kalau lukisannya berbeda, soalnya kita memang lewat jalan yang berbeda, dan setiap lukisan disini memang berbeda di setiap tempat." Jelas Rara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oo begitu..." Jawabku dan Lila kompak.
'Bodohnya aku yang terlalu penakut ini, masih saja percaya sama takhayul.' pikirku sambil menertawakan diriku sendiri.
Jadi tidak ada kejadian yang janggal bukan?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"