Cerpen 1
Aku
Oleh: ALU
Burung-burung bernyanyi merdu, menyambut sang
surya yang mulai menampakkan dirinya. Aku mengerjapkan mataku dan melihat
sekitar. Tapi, dimana aku? Mengapa aku tiba-tiba berada di pinggir lapangan?
Dan siapa Pak Tua berbadan besar yang ada disebelahku? Hei lihat Pak Tua itu
terbangun! Mungkin aku bisa bertanya padanya tentang apa yang terjadi kemarin.
“Kemarin ada
anak kecil yang menyelamatkanmu dan membawamu kesini” tanpa kuminta Pak Tua itu
menjelaskan padaku.
“Menyelamatkan?
Dari apa?”
“Jadi kau
benar-benar lupa ya! Kemarin kau hampir mati berada di pinggir jalan itu
gara-gara kekurangan air” aha, aku baru ingat aku kemarin memang sekarat
gara-gara tempatku tercemar sampah jadi
aku sering sakit-sakitan ditambah lagi saat itu aku kekurangan air.
“Lalu siapa
yang menyelamatkanku?
“Manusia
yang sedang menuju kemari” Pak Tua itu menunjuk anak perempuan yang berusia
kira-kira 16 tahun menuju ketempat kami sambil membawa ember yang penuh air di
kedua tangannya yang ringkih, sesekali air itu tumpah mengenai kakinya yang
tidak menggunakan alas kaki.
Anak itu lalu menyiramkan air itu disekitarku dan Pak Tua. Akarku mulai menyerap air itu lalu batangku mengangkutnya dan menyebar dengan cepat ke seluruh daun-daunku. Ah rasanya segar sekali. Pak Tua disebelahku sepertinya merasakan hal yang sama. Lalu kami mulai bersekutu dengan sang surya untuk mengubah air dan karbondioksida menjadi oksigen dan glukosa, manusia menyebut persekutuan ini sebagai fotosintesis.
Anak itu lalu menyiramkan air itu disekitarku dan Pak Tua. Akarku mulai menyerap air itu lalu batangku mengangkutnya dan menyebar dengan cepat ke seluruh daun-daunku. Ah rasanya segar sekali. Pak Tua disebelahku sepertinya merasakan hal yang sama. Lalu kami mulai bersekutu dengan sang surya untuk mengubah air dan karbondioksida menjadi oksigen dan glukosa, manusia menyebut persekutuan ini sebagai fotosintesis.
“Fyuh…
capeknya” anak itu bersandar di batang Pak Tua sambil menyeka keringatnya. Pak
Tua lalu melindungi anak itu dari terik sang surya degan kerindangan yang
dimiliki Pak Tua. Pak Tua juga memberikan oksigennya pada anak itu hingga
saking sejuknya anak itu tertidur dibawah kerindangan Pak Tua.
“Pak Tua
kenapa kau melakukan itu pada anak ini?”
“Apa lagi
yang bisa kuberbuat untuk membalas kebaikan.”
“Membalas
kebaikan? Jadi anak ini juga yang membawamu?”
“Lebih
tepatnya kakek anak ini yang menyelamatkanku dan membawaku kesini.”
“Menyelamatkanmu?
Apa kau juga mengalami hal sepertiku?”
“Tidak, saat
itu aku berada di tempat pembuangan sampah, karena pemilikku sudah bosan
denganku dan membeli pohon lain, saat itu aku sangat sedih tapi tiba-tiba ada
tangan yang membawaku keluar dari tempat
itu dan menanamku disini.”
“Manusia itu
selalu saja seenaknya sendiri, aku heran kenapa saudara-saudaraku tetap berbuat
baik pada manusia sampai akhir hayat mereka padahal mereka juga sering melihat
anggota keluarga mereka mati satu persatu di tangan manusia”
“Tidak semua
manusia seperti itu lihatlah anak ini, jika saja di tidak membawamu kesini
pasti kau sekarang tak bisa lagi melihat
sang surya muncul dari ufuk”
Anak itu bangun lalu mengambil embernya yang berserakan dan segera pergi dari tempat kami. Beberapa bulan kemudian tinggi badanku sudah mencapai separuh dari tubuh Pak Tua.
Anak itu bangun lalu mengambil embernya yang berserakan dan segera pergi dari tempat kami. Beberapa bulan kemudian tinggi badanku sudah mencapai separuh dari tubuh Pak Tua.
"Asyik...
tinggi badanku bertambah!" aku bersorak riang.
"Jangan
senang dulu, jika kamu semakin tinggi maka lebih banyak angin yang
menerpamu" kata Pak Tua.
"Diterpa
angin itu kan enak" sahutku.
"Bagaimana
jika yang menerpamu itu angin topan? Tidak semua angin itu baik anak
muda!" nasehat Pak Tua ada benarnya juga jika kupikir lagi.
"Lalu
aku harus bagaimana?" tanyaku.
"Tetaplah
tumbuh walaupun itu membuatmu tersambar petir sekalipun asalkan jangan lupa
untuk saling berbagi."
"Kalau
aku tersambar petir bagaimana aku bisa berbagi dengan yang lain?"
"Kau
akan tahu sendiri suatu saat nanti, aku akan senang sekali jika mati untuk
kehidupan yang lain."
"Pak
Tua bicara apa sih kayak mau mati aja!" aku menatap langit yang mulai
petang.
"Sudahlah
kamu istirhat saja sudah malam."
Esoknya saat aku bangun terdengar
suara seperti kepakan sayap lalat hijau namu lebih keras dan memekakan telinga.
Saat kubuka mataku betapa terkejutnya aku ada segeeombolan manusia berada
disekitar Pak Tua. Dan yang lebih mengejutkan lagi mereka menggunakan alat yang
bersuara bising itu untuk memotong tubuh Pak Tua.
"Pak
Tua sadarlah! Apa yang terjadi?" aku bingung.
"Hanya
hal biasa."
"Apa
maksudmu? Kau sedang ditebang dan kau tidak..." aku kehabisan kata-kata.
"Sudahlah
anak muda, ini sudah takdir, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan."
"Tunggu
dulu, jadi Pak Tua sudah tahu jika ini akan terjadi?"
"Walaupun
sudah tahu namun apa yang bisa dilakukan pohon tua sepertiku?" aku lemas
akarku seakan tidak kuat lagi menopang tubuhku. Walaupun aku sering menyaksikan
ini, namun aku tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Pak Tua. Rasa sakitnya
memang tidak sesakit seperti ibu yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawa agar
anaknya bisa teelahir hidup, tapi sakit ini serasa ulu hatiku ditarik paksa
dari tubuhku lalu dilumuri dengan racun.
"Sudahlah
anak muda jangan biarkan amarah dan sedihmu menguasai dirimu, ingatlah pesanku
tidak semua manusia sama bagaimanapun juga tetap lindungi mereka dan berilah
yang terbaik bagi mereka, wak..tu..ku...su..dah...ha..ham..pir..ha..bis.."
Pak Tua terengah-engah menahan sakit yang dirasakannya.
"Tunggu,
bagaimana dengan mati untuk kehidupan yang lain?"
"Kau
akan mengetahuinya suatu saat nanti." Pak Tua tersenyum untuk terakhir
kalinya tak terasa beberapa daunku berguguran menangisi kematian Pak Tua.
Sudah beberapa tahun sejak Pak Tua tidak lagi disisiku, menasehatiku, dan sekedar menemaniku. Jika Pak Tua masih hidup tinggiku kira-kira sudah tiga perempat dari tingginya. Tiba-tiba aku teringat dengan 'mati untuk kehidupan yang lain' lalu aku menengok akar Pak Tua yang ditinggalkan begitu saja oleh manusia hingga ditumbuhi lumut dan jadi rumah baru untuk rayap. Sudah lama sekali memang hingga akar itu busuk. Tunggu dulu, busuk? Aha! itu dia pembusukan disebabkan oleh makhluk pengurai, lalu bukankah lumut dan rayap itu muncul setelah Pak Tua mati? Jadi maksud dari 'mati untuk kehidupan yang lainnya' itu begini. Aku memandang indahnya matahari pagi sambil menikmati alunan burung yang bertengger di dahanku. Dalan hati aku bersyukur pada Allah yang telah memberikan kehidupan padaku dan aku berjanji akan berbagi indahnya kehidupan pada makhluk-Nya yang lain.
Sudah beberapa tahun sejak Pak Tua tidak lagi disisiku, menasehatiku, dan sekedar menemaniku. Jika Pak Tua masih hidup tinggiku kira-kira sudah tiga perempat dari tingginya. Tiba-tiba aku teringat dengan 'mati untuk kehidupan yang lain' lalu aku menengok akar Pak Tua yang ditinggalkan begitu saja oleh manusia hingga ditumbuhi lumut dan jadi rumah baru untuk rayap. Sudah lama sekali memang hingga akar itu busuk. Tunggu dulu, busuk? Aha! itu dia pembusukan disebabkan oleh makhluk pengurai, lalu bukankah lumut dan rayap itu muncul setelah Pak Tua mati? Jadi maksud dari 'mati untuk kehidupan yang lainnya' itu begini. Aku memandang indahnya matahari pagi sambil menikmati alunan burung yang bertengger di dahanku. Dalan hati aku bersyukur pada Allah yang telah memberikan kehidupan padaku dan aku berjanji akan berbagi indahnya kehidupan pada makhluk-Nya yang lain.
Malang, 8
Februari 2018
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCerpennya bikin sendiri neng?
BalasHapusAlhamdulillah iya
Hapus