Riddle 4
Tuyul?
Oleh: Fin
Sore itu, aku dan kakakku pergi ke rumah saudara sepupuku yang baru
saja pindah rumah. Rumahnya berada di daerah pedesaan yang masih jarang
penduduk. Desa itu dikelilingi oleh hutan bambu(barongan) sehingga, tak
jarang orang mengira bahwa tidak ada desa disitu. Aku dan kakakku pergi naik
sepeda motor, kami berangkat pukul 17.00 dan sampai disana pukul 18.00 tepat
setelah maghrib.
"Ayo cepet masuk! Nggak baik ada
diluar waktu maghrib-maghrib." Kata kakak sepupuku sewaktu kami datang.
"Kenapa emangnya?" Tanya
kakakku.
"Katanya banyak tuyul disini."
Jawab kakak sepupuku. Aku langsung memegangi kepalaku yang baru saja digundul
karena melanggar peraturan sehingga menyerupai kepala tuyul.
"Nggak...nggak... Bukan kamu."
Kakak sepupuku melambai-lambaikan tangannya.
"Hmm." Aku menghela napas.
"Kayaknya nggak mungkin deh ada
tuyul, kan sekarang udah jaman modern." Sahut kakakku.
Walaupun aku setuju dengan ucapan kakakku, aku merasa merinding.
'Mungkin ini cuma efek sehabis digundul, jadi hawanya kerasa lebih dingin.'
gumamku menenangkan diri sendiri sambil melangkah masuk ke rumah saudara sepupuku.
"Ayo ke ruang makan dulu,
kalian belum makan kan." Ajak kakak sepupuku.
Aku dan kakakku pun mengikutinya ke ruang makan yang berada di
bagian belakang. Di ruang makan terdapat dua jendela kayu yang menghadap ke barongan.
Celah-celah kayu jendela itu menampilkan barongan dengan nuansa senja
yang berwarna kemerah-merahan. Di meja makan terdapat nasi hangat, sayur lodeh,
ikan goreng, tempe, dan kerupuk yang berada di toples.
"Ini kerupuknya dimakan
loh!" Kakak sepupuku membukakan toples.
"Iya." Jawabku dan kakakku
bersamaan sambil mengambil kerupuk.
Prangg!!! Terdengar suara barang jatuh dari ruang depan.
"Siapa ya?" Tanyaku.
"Kucing mungkin, disini nggak
ada siapa-siapa, istri sama anakku baru aja pergi ke rumah mertua." Jawab
kakak sepupuku.
"Hmm, tapi aku KEPO." Kata
kakakku sambil keluar diikuti kakak sepupuku.
Aku yang sedang mengambil kerupuk tak mau ketinggalan karena
suasana disini menyeramkan. Aku mengambil dua kerupuk sehinggak di toples
tersisa tujuh kerupuk. Aku lalu menutup toples itu dan berlari ke ruang depan untuk
melihat apa yang terjadi sambil menghabiskan dua kerupuk yang ada di
genggamanku.
Sesampainya di ruang depan, ternyata betul dugaan kakak sepupuku.
Penyebab suara itu adalah kucing yang mencoba mengambil ikan dari akuarium dan
malah menjatuhkan vas alumunium yang ada di sebelah akuarium. Ponakanku memang
suka binatang, jadi banyak ikan dirumah ini sehingga menarik kucing liar untuk singgah
kesini. Setelah menangkap kucing itu dan mengeluarkannya, kakak sepupuku
penutup pintu dan menguncinya.
"Kok kucingnya bisa masuk
ya..." Gumam kakakku.
"Eh kalau itu aku minta maaf,
tadi waktu masuk aku lupa menutup pintu, hehe." Kataku sambil meringis.
"Nggak papa kok." Jawab
kakak sepupuku.
"Ya udah aku bantuin ngepel air
vas nya yang tumpah." Kata kakakku.
"Eh terus aku ngapain?"
Tanyaku.
"Udah kamu makan aja duluan,
kamu kan susah banget makannya." Sahut kakak sepupuku.
"Ya udah duluan ya..."
Kataku sambil berjalan ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan aku menyendok nasi yang ada dipiringku,
lalu aku membuka toples yang berisi enam kerupuk, aku lalu mengambil satu
sehingga tinggal lima. Aku melanjutkan makanku dengan asyik hingga
kakak-kakakku datang, lalu kami makan bersama. Aku baru sadar jika aku tadi berani
di belakang sendirian. 'Mungkin karena
aku terlalu lapar.' pikirku.
Setelah makan dan berbincang-bincang aku dan kakakku pulang pukul 19.00.
"Kak kalau menurut kakak gimana?" Tanyaku.
"Gimana apanya?" Kakakku
bertanya balik.
"Menurut kakak tuyul itu ada apa nggak?" Aku bertanya
lagi.
"Mmm, kalau kamu?" Kata kakakku.
"Entah kenapa, aku ngerasa kok
ada ya..." Jawabku.
Sepeda motor kami melaju meninggalkan kampung itu. Bulan purnama di
atas kampung menyinari perjalanan kami. Aku dan kakakku berharap segera sampai
dirumah dengan mempercepat laju sepeda motor kami sambil menggigil kedinginan.
Tuyulnya kelas teri.nyurinya kerupuk wkwk
BalasHapus