Postingan

Celetukan#1

Oleh: Fin Apa kau masih tetap ingin ke Indonesia? " "Cita-citaku memang pergi ke emerald equator. " Jawab Lyne ringan, sambil mengaduk lemon tea miliknya.  "Bukannya sudah kubilang, hutan disana sudah tidak seperti setting film Anaconda lagi, bukan tempat asal Nagini di cerita Harry Potter kesukaanmu itu, berubah jadi kebun kelapa sawit semua! " "Hmm, tapi aku masih ingin kesana, kau tahu? Katanya biota laut disana indah sekali... " Lyne masih antusias.  "Apa kau lupa? Aku kan anak nelayan di salah satu pesisir Indonesia, tentu saja aku tahu. Tapi terakhir kali aku ke sana, banyak ikan yang mati karena kebanyakan makan plastik. " Wajah Lyne bingung mendengar kalimatku. "Ya, seperti itulah... " Aku mengedikkan bahu.  "Tunggu-tunggu, kenapa kau seperti mencegahku pergi kesana, Sam? Bukannya itu adalah tanah airmu? " "Aku tidak mencegah, hanya saja keindahan yang kau bicarakan itu hanya tinggal sisa-sisa..." "...

Cerpen 18

Nostalgia(2)  Oleh: Fin "Ya ampuun! Barusan ganti... " Ibu histeris melihat Fina datang membawa takjil dengan mukena parasut sebagai bungkusnya.  "Lha Tya sama Inas mbawa kresek bagus, warna-warni, aku tapi lupa mbawa kresek hehe." Fina nyengir menunjukkan giginya yang gigis.  "Yaweslah, pake mukena itu aja. " Ibu menunjuk mukena putih dengan pinggiran kain kaca yang dihiasi sulaman bunga, cantik sekali.  "Yeyy!!! " Matanya berbinar-binar.  "Harus dijaga yaa... " Pesan Ibu.  ******* "Pak Jum, sudah qiroah! " Anak-anak ricuh.  "Yaa, mari kita tutup dengan doa kafaratul majelis. " Pak Jum hanya tersenyum.      Setelah berdoa, anak-anak segera mengambil posisi terbaik, bahkan ada yang sampai dorong-dorongan memperebutkan tempat dekat tiang mushola dimana takjil akan aman jika diletakkan disana(tidak akan tumpah ataupun terinjak).  "Aku bawa kresek warna hijau. " Tya menunjukkan kreseknya. Inas tidak mau kalah ...

Cerpen 17

Sehangat Warna Senja Oleh: Fin     Aku sengaja mengambil cuti dari pekerjaanku setelah orang tuaku, ralat, orang tua angkatku memberi tahu alamat rumah Ibu kandungku. Sebenarnya aku sendiri samar-samar dengan wajah dan perawakan beliau. Toh, setelah ayah  meninggal, aku langsung dijual pada pasutri ini yang sudah lama menikah namun tidak kunjung dikaruniai anak. Dijual? Mungkin bahasaku terlalu kasar. Tapi, yaa bagaimana lagi, apa kata yang tepat untuk menggantikannya. Setelah Ibu memberikanku pada mereka, beliau mendapatkan uang sebagai gantinya. Aku tidak tahu bagaimana yang sebenarnya, karena aku pun hanya mendengarnya dari warga sekitar. Karena sekarang aku sudah bisa hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang tua angkatku, aku ingin mencari Ibu untuk menanyakan langsung kebenarannya.     Walaupun dekat, desa ini cukup sulit dijangkau, bahkan aku bolak-balik harus menuntun montor andalanku ini. Kupikir saat nanti tiba disini, aku akan kembali ke 'rumah', na...

Cerpen 16

 Aurora di Zamrud Khatulistiwa Oleh: Fin     Teet... Teet... Teet... Profesor Wardaya terbangun dan segera memencet tombol berhenti pada jam digital di depannya, ya ia tertidur di meja ditemani kertas-kertas yang berisi rumus dan coretan. Tapi suara itu masih terdengar, ia langsung sadar dan berlari ke komputer-komputernya yang bertuliskan " error " dimana-mana.  "Halo... " Ia mencoba menghubungi timnya, namun tidak ada yang menjawab.  "Jangan-jangan... " Orang tua itu segera mencari buku telepon di antara tumpukan buku-buku ilmiahnya.  "Halo Tirta? " "Akan saya jelaskan Prof... " "Tidak, tidak usah, coba kamu kirimkan C2-L54E ! " Profesor Wardaya semakin gelisah.  "Sudah terlambat Prof. " Jawab Tirta.  "Maksudmu mereka? Tapi mereka tim terbaik saya! Kalau... " Protes Profesor Wardaya terputus. Beberapa kabel di laboratoriumnya mengeluarkan percikan api. Ia segera mengenakan mantelnya dan keluar dari labora...

Riddle 12

 Hanya Mimpi Oleh: Fin     Tek Thuk...Tek Thuk... Suara detik jam semakin membuatku tidak bisa tidur. Aku sudah membaca doa sebelum tidur berkali-kali, menghitung domba, membuka buku pelajaran, dan mencoba semua hal yang katanya bisa membuat mengantuk, tapi tetap saja... Pukul 00.47, suara aerator aquarium macet di lantai bawah tak ubahnya seperti suara gesekan daun bambu. Aku tahu aku penakut, tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku untuk membaca episode lanjutan komik horor yang baru rilis jam 00.00 tadi. Jadi, ya... seperti ini keadaanku sekarang, apalagi orang tuaku sedang ke luar kota, menjenguk paman yang sedang sakit, tapi tenang saja, aku sudah meningkatkan keamanan, jendela dan pintu sudah kukunci mulai maghrib kemarin.      Hey, dimana ini? Di depanku ada mayat seorang wanita dengan kode darah disampingnya.  "Bagaimana, apa sudah mendapat petunjuk? " Tanya laki-laki berkumis tebal padaku. Padaku? Wah pasti ini mimpi, tapi yes berarti akh...

Fiksi Mini 3

 Pembersih Lemak Oleh: Fin "Terimakasih, semua masalahku sudah selesai... " Ucap temanku dengan mulut penuh busa, disampingnya ada berbotol-botol M*m* lemon bebas lemak yang sudah kosong. Aku ingat, terakhir kita bertemu aku menganjurkannya memakai cairan tersebut untuk menghilangkan salah satu masalahnya, lemak. 

Cerpen 15

Kuliah Dimana? Oleh: Fin "Ayo ke BK!" Ajak Laila, akhir-akhir ini memang tempat favorit kami adalah BK, tentunya setelah Kantin dan Kopsis. "Ngapain?" "Ya kayak biasanya... Ayowes, mumpung teman-teman nggak tahu..." Aku menoleh ke sekitar, kelas sepi, teman-teman masih ganti seragam setelah olahraga, aku lalu mengangguk mengiyakan, daripada nanti bareng banyak teman jadi tidak dihiraukan sama guru BK. "Sampeyan sudah fix a Fin mau ndaftar dimana SNMPTN nya?" "Belum eh... Kalau jurusannya sudah fix, tapi kalau universitasnya belum." "Huwaa, aku malah belum fix semua..." "Assalamualaikum, Bu Indrinya ada?" Kami melongok ke dalam ruang BK. "Oh, iya Mbak, silakan masuk, janga lupa isi presensinya dulu ya..." Setelah kami mengisi presensi, kami duduk berhadapan dengan Bu Indri. "Ada apa ini? Mau konsultasi apa?" Tanya Bu Indri, entah kenapa, selalu seperti ini, saat audah ditanyai aku langsung blank, l...