Cerpen 16
Aurora di Zamrud Khatulistiwa
Oleh: Fin
Teet... Teet... Teet... Profesor Wardaya terbangun dan segera memencet tombol berhenti pada jam digital di depannya, ya ia tertidur di meja ditemani kertas-kertas yang berisi rumus dan coretan. Tapi suara itu masih terdengar, ia langsung sadar dan berlari ke komputer-komputernya yang bertuliskan "error" dimana-mana.
"Halo... " Ia mencoba menghubungi timnya, namun tidak ada yang menjawab.
"Jangan-jangan... " Orang tua itu segera mencari buku telepon di antara tumpukan buku-buku ilmiahnya.
"Halo Tirta? "
"Akan saya jelaskan Prof... "
"Tidak, tidak usah, coba kamu kirimkan C2-L54E ! " Profesor Wardaya semakin gelisah.
"Sudah terlambat Prof. " Jawab Tirta.
"Maksudmu mereka? Tapi mereka tim terbaik saya! Kalau... " Protes Profesor Wardaya terputus. Beberapa kabel di laboratoriumnya mengeluarkan percikan api. Ia segera mengenakan mantelnya dan keluar dari laboratorium. Ctek! Ctek! Ia memutuskan sambungan listrik pusat. Gelap. Mungkin hanya itu yang menemaninya sekarang. Ia duduk bersandar pada tembok laboratoriumnya, tatapannya kosong, tapi isi kepalanya sangat penuh.
"Padahal menurut prediksi, masih empat tahun lagi. Kenapa harus datang sekarang?! Dari laporan kemarin pun tidak ada aktivitas abnormal..." Profesor Wardaya memang sedang mengembangkan cara agar meminimalisir dampak letusan matahari mulai sepuluh tahun yang lalu, dan mengirimkan timnya ke stasiun luar angkasa sembari ia menyempurnakan temuannya. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Sekarang ia menuju mobil sambil merutuki takdir.
"Lebih baik yang mana? Oo mungkin tebing pilihan yang tepat... " Ia mengemudi menuju ke tebing yang terkenal akhir-akhir ini, karena konten youtube yang menceritakan tentang banyaknya hantu gentayangan karena bunuh diri atau dibunuh disana.
Ckiit... Profesor Wardaya terdorong ke depan setelah mengerem dadakan karena di depan ada anak kecil berkalungkan kotak cangcimen. Profesor segera keluar sambil khawatir.
"Tidak papa Nak? "
"Iya Kek... " Jawab anak itu sambil tersenyum. Mungkin kalau aku punya cucu sepantaran anak ini, pikir Profesor.
"Dimana orang tuamu? " Tanya Profesor sambil celingukan. "Padahal masih jam tiga pagi, siapa orang tua yang membiarkan anaknya berkeliaran begini... " Batinnya.
"Saya masih mencari Kek... " Jawab anak itu sambil menempelkan kedua ujung telunjuknya.
"Semoga ketemu. " Jawab Profesor sambil kembali ke mobilnya saat ingat kalau ia bunuh diri di siang bolong pasti akan tambah aneh.
Ia sudah sampai di tebing. Sebenarnya ia juga sayang jika tebing sebagus ini dijadikan tempat bunuh diri, tapi mau bagaimana lagi, tempat ini sudah terbukti keberhasilannya.
"Kakek sedang apa? " Tanya anak kecil itu. Profesor kaget, harusnya ia yang tanya itu, kenapa anak itu disini? Tidak mungkin ia bunuh diri di depan anak kecil.
"Kenapa kamu disini? Belum ketemu juga orang tuamu? " Tanyanya balik.
"Wah lihat! Ada hijau-hijau di langit! " Profesor tidak akan tertipu oleh pengalihan murahan seperti ini, ia tidak menoleh hingga semuanya terasa terang, ia melotot melihat aurora bersinar seterang ini di daerah yang tidak mungkin muncul. "Badai matahari dimulai. " Batinnya.
"Indah sekali Kek! " Anak kecil itu duduk di tebing yang aman sambil mengeluarkan kertas yang sepertinya fungsi awalnya adalah untuk membungkus jajanannya itu.
"Kamu suka menggambar? " Profesor Wardaya mencoba berbasa-basi. Anak itu mengangguk sambil mengeluarkan tiga pensil warna dari saku celananya.
"Suka sekali, tapi kata Ibu tidak boleh karena habis-habisin kertas... " Anak kecil itu mulai menggambar.
"Wah anak ini tidak tahu kalau bumi sedang terancam... " Pikir Profesor.
"Ini buat Kakek. " Ia menyodorkan gambarannya yang terkesan polos itu pada Profesor.
"Terimakasih." Jawab Profesor. "Maaf Kenanga, sepertinya aku tidak bisa menyusulmu dulu, disini ada yang masih membutuhkanku. " Batinnya sambil tersenyum. Selama Profesor berbincang dengan anak itu, ia tidak sadar kalau telapak kaki si anak tidak pernah menyentuh bumi...
Komentar
Posting Komentar