Cerpen 18

Nostalgia(2) 

Oleh: Fin

"Ya ampuun! Barusan ganti... " Ibu histeris melihat Fina datang membawa takjil dengan mukena parasut sebagai bungkusnya. 

"Lha Tya sama Inas mbawa kresek bagus, warna-warni, aku tapi lupa mbawa kresek hehe." Fina nyengir menunjukkan giginya yang gigis. 

"Yaweslah, pake mukena itu aja. " Ibu menunjuk mukena putih dengan pinggiran kain kaca yang dihiasi sulaman bunga, cantik sekali. 

"Yeyy!!! " Matanya berbinar-binar. 

"Harus dijaga yaa... " Pesan Ibu. 

*******

"Pak Jum, sudah qiroah! " Anak-anak ricuh. 

"Yaa, mari kita tutup dengan doa kafaratul majelis. " Pak Jum hanya tersenyum. 

    Setelah berdoa, anak-anak segera mengambil posisi terbaik, bahkan ada yang sampai dorong-dorongan memperebutkan tempat dekat tiang mushola dimana takjil akan aman jika diletakkan disana(tidak akan tumpah ataupun terinjak). 

"Aku bawa kresek warna hijau. " Tya menunjukkan kreseknya. Inas tidak mau kalah menunjukkan kresek birunya. 

"Aku hitam:) " Fina menunjukkan kresek yang lebih besar daripada kepalanya itu. 

"Kalau kata Emak, kalau hitam itu daur ulang, nggak boleh dibuat bungkus makanan. " Jelas Inas. 

"Sampeyan bawa kresek berapa? " Tanyaku. 

"Cuma satuu... " Jawab Tya dan Inas kompak. 

"Yawes, berarti nggak papa pake yang hitam. " Fina sudah bodo amat. Yang penting tidak dimarahi Ibu dan pastinya isinya bisa lebih banyak dong kalau pakai kresek ini hehe, begitu pikirnya. 

"Hey tak kasih tahu, awas nanti kalau sholat, kreseknya ditaruh di deket tempat sujud, daripada diambil sama anak itu... "  Bisik Devi. Mereka hanya manut mengangguk-angguk. 

    Setelah berbuka, mereka sholat berjamaah, shaf depan banyak diisi oleh orang tua-tua, sedangkan anak-anak berada di paling belakang sendiri, bukan karena menghormati yang tua, tapi untuk berebut takjil, final war memperebutkan tempe goreng buatan Bu Suni favorit semua orang. 

    Pak Dahlan, selaku imam, belum selesai salam, anak laki-laki sudah banyak yang berlari, sementara anak perempuan tidak mau kalah dan berdoa dalam sholat agar Pak Dahlan segera menyelesaikan sholatnya. Selesai salam, anak perempuan langsung mengomel, tentu saja, takjil yang dibawa pulang jadi sedikit. 

"Siapa itu tadi yang lari-lari sebelum sholat selesai? " Wajah Pak Dahlan mengeras. "Kalau seperti itu lagi, lebih baik nggak usah takjil-takjilan, sholat kok dibuat mainan! " Lanjut beliau. Baik anak laki-laki maupun perempuan menunduk merasa bersalah. 

*******

"Halah, Kamu se tadi? Hu! Hu!" Bikul menjundu kepala Wildan yang saking takutnya sampai hampir menangis. 

"Loh Bikul, yo nggak boleh tah, ayo ikut aku! " Fikri merangkul paksa Bikul dan membawanya ke pohon pisang di depan mushola. 

"Ampun, ampun... " Bikul yang takut genderuwo itu berusaha kembali ke mushola. 

"Mangkanya, jangan njundu-njundu. " Fikri lalu melepaskannya. 

"Iya, iya, maaf... " Setelah itu mereka segera pulang, untuk mengisi amunisi(makanan dan petasan) saat teraweh nanti. Fina pun juga segera pulang untuk menunjukkan mukenanya yang tetap bersih mulai berangkat sampai pulang. 

*******

    11 tahun berlalu, kini mushola sudah sepi, apalagi musim pandemi seperti ini, namun tempe goreng Bu Suni setia datang setiap ramadhan, entah untuk siapa, atau mungkin ia hanya ingin mengingatkan suasana seperti dulu? 

Malang, 9 Mei 2021, 20.55

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"