Cerpen 17
Sehangat Warna Senja
Oleh: Fin
Aku sengaja mengambil cuti dari pekerjaanku setelah orang tuaku, ralat, orang tua angkatku memberi tahu alamat rumah Ibu kandungku. Sebenarnya aku sendiri samar-samar dengan wajah dan perawakan beliau. Toh, setelah ayah meninggal, aku langsung dijual pada pasutri ini yang sudah lama menikah namun tidak kunjung dikaruniai anak. Dijual? Mungkin bahasaku terlalu kasar. Tapi, yaa bagaimana lagi, apa kata yang tepat untuk menggantikannya. Setelah Ibu memberikanku pada mereka, beliau mendapatkan uang sebagai gantinya. Aku tidak tahu bagaimana yang sebenarnya, karena aku pun hanya mendengarnya dari warga sekitar. Karena sekarang aku sudah bisa hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang tua angkatku, aku ingin mencari Ibu untuk menanyakan langsung kebenarannya.
Walaupun dekat, desa ini cukup sulit dijangkau, bahkan aku bolak-balik harus menuntun montor andalanku ini. Kupikir saat nanti tiba disini, aku akan kembali ke 'rumah', namun saat tiba, hanya pemandangan asing dengan penduduk dengan wajah yang sama sekali tidak kukenal. Hmm... Darimana aku harus memulai mencari Ibu?
"Permisi Bu... " Aku mengetuk halus kaca etalase warung.
"Beli apa heh?" Jawabnya ketus.
"Maaf Bu, saya cuma izin tanya, alamat ini dimana ya?" Aku menyodorkan secarik kertas. Pemilik warung tersebut mengernyit sehingga kedua alisnya bertaut. Ia lalu melihatku dari bawah ke atas, atas ke bawah.
"Hmm... Jika Anda tidak tahu tidak apa-apa, biar saya tanya ke orang lain saja." Kataku akhirnya. Risih juga dipandang seperti itu terus.
"Lurus aja, terus ada pohon ceri belok kiri, jalan dikit di kanannya bakso Cak Santo." Orang itu mengembalikan kertasku dengan cepat seakan mengusirku dan kembali memasak, padahal aku belum mengucapkan terimakasih. Sabar sabar...
Aku lalu mengikuti petunjuk orang tadi, namun aku tidak menemukan apa yang kucari.
"Permisi Pak, apakah Anda tahu alamat ini? "
"Yo iku Mas, sing sebelah pas." Aku kaget melihat bangunan yang sudah rata dengan tanah dan berpalang 'dijual' tersebut.
"Pak, anu... Apa Anda kenal siapa pemiliknya?" Tanyaku lagi.
"Nggak ngerti aku Mas, wong aku sek tas pindah tekok Ngalam." Jawabnya santai.
"Oo nggeh Pak, matur nuwun." Aku mencoba mengelilingi sekitar 'rumah' lamaku itu.
"Nak?" Suara wanita di belakangku itu membuatku mematung.
"He dimana anakku? Kau bawa kemana?" Tiba-tiba nadanya meninggi, saat kutoleh ternyata ada wanita muda berpakaian lusuh yang menggendong boneka! Astaga... Jangan sampai Ibuku seperti ini.
"Ee... Itu Mbak yang sampeyan bawa itu bukan? Anaknya cantik Mbak." Jawabku ikutan tidak waras untuk mengimbanginya.
"Bener kan? Cantik banget hehe... " Wanita itu berlalu sambil menciumi boneka yang digendongnya itu. Hah... Bisa gila aku, apa sebaiknya aku kembali ke rumah saja?
Dan disinilah aku sekarang, ditemani es teh anget khas warung-warung di desa. Ibu Warung tadi sekarang sudah tidak segarang tadi setelah aku membeli beberapa hidangan di warungnya. Ia bahkan menanyaiku ramah mengapa aku datang ke desa ini.
"Oalah, takkira mau beli tanah itu."
"Endak, saya kesini mau mencari Ibu saya..."
"Sek toh... Orang yang kamu cari itu namanya Sumarti?" Aku kaget, walaupun aku tidak hapal wajah dan perawakan Ibuku, aku masih ingat nama Ayah dan Ibu.
"Iya Bu benar, apa Anda kenal?"
"Heleh wong iku... Malu-maluin, menjual anaknya biar bisa hidup katanya... " Jelasnya sambil mencembik.
"Terus, Anda tahu dimana orangnya sekarang?"
"Manusia hina seperti dia nggak pantes dicariin!" Sepertinya saking jijiknya, Ibu Warung itu sampai memalingkan wajahnya.
"Astaghfirullah, ndak boleh seperti itu Bu... "
"Haah... Intinya kamu nggak usah mencari si Sumarti lagi, lebih baik kamu lanjutkan pekerjaanmu saja Nak Agam!" Lagi-lagi aku kaget. Belum sempat aku bertanya bagaimana Ibu Warung itu mengetahui namaku, ia segera menunjuk pin name tag di kemejaku. Ah kebiasaan!
Aku lalu memutuskan mengikuti saran orang itu untuk tidak mencari Ibuku lagi dan kembali bekerja, toh petunjuknya hampir tak berbekas tentang dimana keberadaan Ibu. Dua hari setelahnya aku baru sadar, di banner 'dijual' tersebut terdapat nomor telepon yang dapat dihubungi. Haa, bodoh sekali kau Agam!
Lagi-lagi aku harus menuntun montorku untuk sampai di desa tersebut, namun kali ini aku harus cepat karena nanti kalau kelamaan dimarahi bos. Setelah memotret banner tersebut aku buru-buru kembali ke kantor, hingga sapaan Ibu Warung tidak kuhiraukan.
Hari ini pun tiba, aku memantapkan diriku untuk menelpon nomor yang sesuai di banner. Tuut... Tuut... Tuut... Nada sambung itu membuatku semakin deg-degan. 00.00, tersambung!
"Halo, Assalamualaikum, Selamat Sore, mohon maaf menganggu waktunya, saya Taufiqul Agam, apakah benar Anda pemilik tanah di Jalan Seruni nomor 7?"
"Agam... " Deg! Isi kepalaku langsung berputar, kembali ke masa lalu dengan cepat. Ya! Hanya Ibu dan aku sendiri yang memanggil dengan nama Agam, bahkan orang tua angkat dan teman-teman semuanya memanggil Taufiq. Banyak sekali kata yang memberontak ingin keluar dari mulutku, namun rahang ini kaku, lidah pun rasanya membatu, mereka tidak mau diajak bekerja sama. Dan akhirnya hanya air mata yang mengalir dari sudut mataku. Aku menangis! Menangis tanpa suara.
"Huft... Sudah kubilang bukan, tidak usah mencariku! "
"Bu... Ibu... " Hanya kata itu yang mampu kukeluarkan untuk membalas suara penerima telepon di seberang. Suara Ibu Warung. Ibu Sumiarti. Ibu kandungku.
"Tidak, tidak, aku ini tidak pantas kau panggil begitu Nak Agam, aku ini orang yang menjijikkan, aku... Huhuhu. " Walaupun aku tidak tahu bagaimana cerita aslinya, kini aku yakin, Ibuku bukanlah orang seperti itu, walaupun jika begitu, itu memang hal yang wajar dilakukan jika aku berada di situasinya. Rasa tulusnya bahkan menembus ponsel, aku bisa melihatnya menangis menyesal dari suaranya.
"Ibu tetap Ibu Agam, Ibu tidak boleh menyiksa diri sendiri, maafkanlah diri Ibu sendiri karena Agam juga sudah memaafkan Ibu. " Entah darimana kalimat mutiara ini meluncur. "Mari bertemu besok Bu, kita bercerita, lalu tinggal bersama, biarkan Agam menjaga Ibu, tidak-tidak, izinkan Agam berbakti pada Ibu... " Aku tersenyum menghilangkan semua sesak di dada. Entah senyumku tersampaikan ditelinga Ibu atau tidak. Tapi setidaknya senja kali ini terasa hangat, tidak mencekam seperti hari-hari yang lalu.
Malang, 27 April 2021, 21.21
MasyaAlloh, ceritanya membuat hati ikut dag dig dug ... Semangat berkarya ALU. Matur nuwun request ku udah di bikin������
BalasHapusYehee.... Sama-sama✨
Hapus