Cerpen 15

Kuliah Dimana?

Oleh: Fin

"Ayo ke BK!" Ajak Laila, akhir-akhir ini memang tempat favorit kami adalah BK, tentunya setelah Kantin dan Kopsis.

"Ngapain?"

"Ya kayak biasanya... Ayowes, mumpung teman-teman nggak tahu..." Aku menoleh ke sekitar, kelas sepi, teman-teman masih ganti seragam setelah olahraga, aku lalu mengangguk mengiyakan, daripada nanti bareng banyak teman jadi tidak dihiraukan sama guru BK.

"Sampeyan sudah fix a Fin mau ndaftar dimana SNMPTN nya?"

"Belum eh... Kalau jurusannya sudah fix, tapi kalau universitasnya belum."

"Huwaa, aku malah belum fix semua..."

"Assalamualaikum, Bu Indrinya ada?" Kami melongok ke dalam ruang BK.

"Oh, iya Mbak, silakan masuk, janga lupa isi presensinya dulu ya..." Setelah kami mengisi presensi, kami duduk berhadapan dengan Bu Indri.

"Ada apa ini? Mau konsultasi apa?" Tanya Bu Indri, entah kenapa, selalu seperti ini, saat audah ditanyai aku langsung blank, lidahku seperti tidak bisa mengucapkan kalimat yang sudah kususun di perjalanan menuju BK tadi.

"Mau konsultasi untuk memilih jurusan dan universitas Bu..." Huft... Untung aku kesini bersama Laila.

"Jadi begini Mbak, Sampeyan suka apa, minatnya dibidang apa?" Kami hanya diam.

"Kalau belum tahu minatnya bisa dilihat di rapornya dulu Mbak, mana nilainya yang paling tinggi dan bagus, bisa digunakan sebagai pertimbangan memilih jurusan..." Lanjut Bu Indri.

"Kalau universitasnya Bu?" Tanya Laila.

"Jadi dilihat dulu Mbak, kadang ada universitas yang memprioritaskan anak dari daerahnya dulu, diambil prosentase lebih banyak daripada yang di luar daerah, jadi harus tahu berapa peluang kita keterima disana, kalau memang peluangnya gede nih Mbak, dan sudah yakin, minta izin dan restu ke orang tua, karena doa dan ridho dari mereka lebih penting Mbak..." Kami terdiam lagi.

"Kalau masih bingung, coba Sholat Istikhoroh biar semakin mantap, nah ini ada gulungan kata motivasi, silakan diambil." Bu Indri menyodorkan toples seng berisi gulungan kertas kecil-kecil. Aku dan Laila mengambil secara bergantian.

"Boleh dibawa Mbak, disimpan." Kata Bu Indri.

"Lho nanti jadi habis Bu kertasnya..." Akhirnya suaraku keluar juga.

"Nggak papa Mbak, ini juga waktunya ngganti kertasnya, sudah banyak yang kusut."

"Terimakasih Bu." Kami pun salim lalu beranjak dari BK sambil mengintip tulisan dibalik gulungan kertas yang kami ambil.

"Waduh... Mati aku!" Seruku kaget.

"Kenapa?" Tanya Laila yang memang pada dasarnya adalah anak yang KEPO.

"Kan aku bingung mau ngambil universitas yang di luar kota, ITS atau yang di Malang aja, di UM. Terus waktu aku buka ini tulisanya anjuran buat merantau!"

"Ya bagus dong, bisa kok Sampeyan masuk ITS, kan Sampeyan pinter..." Jawab Laila.

"Hee enggak... Cuma sedang beruntung bisa dapat kesempatan ikut SNMPTN." Timpalku.

      Kami pun kembali ke kelas. Di perjalanan, aku memantapkan hatiku untuk mempesiapkan diri bilang kepada Bapak dan Ibu nanti saat pulang sekolah.

*******

"Bu, aku boleh a kuliah di ITS?"

"Dimana itu?" Ibuku tetap sibuk dengan cucian piringnya.

"Surabaya..." Jawabanku berhasil membuat Ibu meletakkan sponge cuci piring.

"Nggak di Malang aja tah?" Aku hanya menunduk. "Hmm... Kalau memang sudah cocoknya itu, ya nggak papa, pokoknya bisa jaga diri." Ibu memegang pundakku lalu balik badan melanjutkan mencuci piring, tidak ingin wajah khawatirnya ditampakkan padaku.

"Pak, aku boleh a kuliah di ITS?" Tanyaku pada Bapak yang sedang mengemas Ikan Gurame untuk dikirim di rumah makan di pinggir jalan raya.

"Terserah, pokoknya suka, kalau Ibu sudah mengizinkan ya nggak papa." Seperti biasa, Bapak menjawab dengan santai.

"Terimakasii Bapak." Aku lalu mengisi pendaftaran SNMPTN di LTMPT di depan Bapak. Yosh, tinggal menunggu pengumuman.

*******

      Mila, teman sekelasku sudah mempersiapkan SBMPTN mulai kelas 12 semester awal. Sementara aku tidak ada persiapan SBMPTN sama sekali, aku terlalu yakin dan PD saat mendaftar SNMPTN. Namun saat melihat story whatsapp teman-temanku, aku jadi gupuh sendiri. Akhirnya di H-1 pengumuman SNMPTN, aku mulai belajar SBMPTN.

*******

      Firasatku benar, saat pengumuman SNMPTN lewat LTMPT hasilnya 'merah', aku tidak diterima. Sedih? Pastinya. Aku lalu melihat story whatsapp teman-temanku yang tidak sedikit gagal dalam SNMPTN. Dalam kontakku hanya ada tiga temanku yang lolos, setelah mengucapkan selamat, aku lamgsung menonaktifkan jaringan data selular.

"Nggak papa, nggak usah sedih, masih ada SBMPTN, lagian SNMPTN itu bukan lihat per individu, tapi dari sekolahnya..." Hibur kakakku, aku semakin sedih. Masalahnya aku nggak ada persiapan untuk SBMPTN, teriakku dalam hati.

"Nggak papa Nduk, nyoba nanti kalau SBMPTN ndaftarnya di Malang aja, yang deket-deket." Kata Ibu, walaupun ucapannya bela sungkawa, namun aku bisa melihat kelegaan dalam raut wajahnya.

      Sementara Bapakku tidak berkomentar apa-apa, sebagai gantinya, beliau membelikan belut goreng kesukaanku... Kejadian menyedihkan ini malah jadi seperti acara tasyakuran. Akhirnya rasa sedih pun terusir dariku.

      Esoknya, saat aku membuka kembali story whatsapp milik teman￾temanku yang menampilkan kegagalannya mengikuti SNMPTN, aku jadisadar kalau aku tidak sendirian dan ada yang lebih parah dariku. Ada temanku yang mendapat 'hijau' dan senang bukan main, namun saat direfresh berubah menjadi 'merah', ada temanku lainnya yang mendaftar di universitas biasa saja yang tidak terkenal namun ternyata tidak diterima, padahal temanku itu menurutku pintar, mungkin memang benar perkataan Kakakku kalau SNMPTN lebih melihat ke sekolah daripada ke individu. Aku jadi bersyukur, bahwa aku dulu mengambil gulungan itu, sehingga mendaftar di universitas yang gradenya tinggi, sehingga saat jatuh tidak terlalu parah seperti halnya temanku yang hanya mengambil universitas yang gradenya rendah untuk mencari aman. Mungkin memang benar pepatah "Mimpilah setinggi langit, agar saat jatuh kau masih ada diantara bintang-bintang.". Aku pun lalu lebih semangat lagi, karena mimpi memang perlu, namun usaha nyata lebih diperlukan lagi, baik usaha lahiriah maupun batiniyah.

*******

      Setelah beberapa bulan berlalu, kini catatanku untuk UTBK-SBMPTN adalah dua buku tulis yang kugabung menjadi satu menggunakan staples. Aku menunggu pengumuman SBMPTN dengan penuh harap dan tawakkal setelah berikhtiar. Alhamdulillah, atas izin Allah dan doa orang tua serta teman-teman, laman LTMPTku berwana 'hijau', diterima. Aku merefreshnya berkali-kali agar tidak seperti temanku, dan tetap 'hijau'... Aku sangat bersyukur atas semuanya. Manusia yang merencanakan, Tuhan yang menentukan. Selalu ada hal yang lebih baik yang disiapkan untuk kita, jadi setelah berikhtiar kita sebaiknya bertawakkal, ridho dan qonaah atas takdir yang Allah berikan pada kita. Semoga kita diberi keluasan hati dan ketetapan iman agar dapat menerima takdir dengan ikhlas tanpa protes.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"