Riddle 12
Hanya Mimpi
Oleh: Fin
Tek Thuk...Tek Thuk... Suara detik jam semakin membuatku tidak bisa tidur. Aku sudah membaca doa sebelum tidur berkali-kali, menghitung domba, membuka buku pelajaran, dan mencoba semua hal yang katanya bisa membuat mengantuk, tapi tetap saja... Pukul 00.47, suara aerator aquarium macet di lantai bawah tak ubahnya seperti suara gesekan daun bambu. Aku tahu aku penakut, tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaranku untuk membaca episode lanjutan komik horor yang baru rilis jam 00.00 tadi. Jadi, ya... seperti ini keadaanku sekarang, apalagi orang tuaku sedang ke luar kota, menjenguk paman yang sedang sakit, tapi tenang saja, aku sudah meningkatkan keamanan, jendela dan pintu sudah kukunci mulai maghrib kemarin.
Hey, dimana ini? Di depanku ada mayat seorang wanita dengan kode darah disampingnya.
"Bagaimana, apa sudah mendapat petunjuk? " Tanya laki-laki berkumis tebal padaku. Padaku? Wah pasti ini mimpi, tapi yes berarti akhirnya aku bisa tidur.
Aku membaca kode yang ditulis dengan darah tersebut: FHNZV dan ada tulisan kecil lagi disampingnya: AN. Yah, ini kan mudah sekali, untung pelakunya tidak sadar. Aku segera mencari kontak dengan nama yang sesuai di handphone korban yang masih berfungsi tersebut.
"Halo, dengan *****? "
"Iya benar... Ini siapa ya, kenapa menggunakan nomor Freya? "
"Kami polisi, dimohon anda untuk segera kesini!"
"Ada apa ini? Baiklah saya akan secepatnya kesana. " Tit. Telepon dimatikan.
"Mengapa Nona tidak menyebutkan alamat ini? " Tanya Pak Kumis.
"Kalau memang dia benar pembunuhnya, dia pasti akan langsung datang kesini karena sudah tahu lokasinya. "
"Oo begitu... "
Tilililit Tilililit, handphone yang ada di saku Pak Kumis berbunyi. Beliau memberikan handphonenya padaku setelah mengangkatnya sebentar.
"Ya halo?" Aku mengangkat telepon yang diberikan Pak Kumis.
"..."
"Ha? Ada orang ke kantor polisi?"
"..."
"Saya yang suruh? Bukan-bukan, ini saya ada di Jalan Mawar nomor 1."
"... "
"Ya, baik, selamat malam. " Aku memutuskan telepon dengan frustasi.
"Kenapa wajah anda murung? " Tanya Pak Kumis lagi. Bagaimana tidak murung, sepertinya ini orang yang salah, karena tidak tahu lokasi pembunuhan. Haish, aku harus mencoba cara lain untuk membaca kode itu.
"Ada apa ini? " Tertuduh salah tadi datang dengan mengendarai mobil sedannya. "Siapa yang tega menusuk Freya dengan pisau dapur? " Wajahnya penuh khawatir.
"Tenang saja, kami akan mengusutnya sampai tuntas. " Pak Kumis menenangkan.
"Dan kebetulan, kami sudah menangkapnya. "
"Siapa? "
"Anda." Jawabku membuat wajah tersebut pucat.
"Saya? Hahaha, kalau sudah ketahuan begini apa boleh buat! " Orang tersebut dengan gila menusuk Pak Kumis dan Polisi satunya menggunakan pisau yang disembunyikan di lengan jaketnya. "Sekarang giliranmu Nona! " Oh tidak, tubuh yang kutempati ini sepertinya lemah sekali, berlari beberapa langkah saja sudah capek. Ini dimana lagi? Heh, kakiku jadi penuh lumpur, orang itu sudah dekat lagi. Oo iya aku baru ingat, ini kan mimpi, aku segera menampar wajahku sekuat-kuatnya. Plak! Yes berhasil, semilir angin menerpa wajahku yang penuh keringat. Huft... Sungguh mimpi yang menegangkan, lihat kakiku sampai kotor seperti bekas lumpur yang mengering, haha.
1. Siapa tertuduh tersebut(isi kode darah)?
2. Bagaimana tokoh 'Aku' bisa tahu bahwa tertuduh tersebut memang benar pelakunya?
3. Apa ada yang janggal? 👻
Komentar
Posting Komentar