Resensi Buku "Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang"
Oleh: Fin
Yaa
seperti novel sebelumnya (Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta), pengarang buku ini
juga direkomendasikan teman kakak saya. Karena edisi pertama buku ini termasuk
masih baru (2020), jadi sepertinya judul “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang
Mengajarinya Terbang” masih belum terlalu terkenal jika dibandingkan “Pak Tua
yang Membaca Kisah Cinta”. Sebenarnya saya tidak ada niatan untuk membeli buku
ini, tapi karena satu paket karya beliau lebih murah daripada beli eceran jadi
sekalian aja hehe (maaf malah promosi:v).
1
Identitas
Judul:
Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Penulis:
Luis Sepúlveda
Penerjemah:
Ronny Agustinus
Jumlah
Halaman: 90 halaman
Ukuran:
14 x 20,3 cm
Penerbit:
Marjin Kiri
Tahun
Terbit: 2020
2
Sinopsis
Di
daerah sekitar pelabuhan Hamburg, tinggal kucing bernama Zorbas. Suatu hari, ketika
ia sedang asyik berjemur di balkon, seekor burung camar terjatuh didekatnya
dengan bulu-bulunya yang lengket karena terkena tumpahan minyak dari kapal tanker
di laut. Burung camar tersebut tidak dapat meneruskan terbangnya karena
energinya sudah habis saat berusaha terbang ke tempat tersebut untuk bertelur.
Sebelum meninggal, ia meminta Zorbas berjanji merawat telurnya sampai menetas
dan mengajari anaknya terbang. Sebagai kucing pelabuhan, Zorbas pantang
melanggar janjinya. Kisah ini menceritakan bagaimana Zorbas dan teman-teman
kucing pelabuhannya menepati janji mengajari bayi camar tersebut terbang.
3
Kepengarangan
Luis
Sepúlveda (1949) merupakan salah satu penulis Cile, di mana
karya-karyanya (fiksi, non-fiksi dan buku anak-anak) telah diterjemahkan lebih
dari 40 bahasa. Ia aktif berpolitik sejak muda dan pernah dipenjara oleh rezim
militer Pinochet akibat aktivitasnya dalam gerakan mahasiwa, lalu diasingkan
keluar dari Cile pada usia 26 tahun. Di tengah aktivitas sosial-politik, ia
terus menulis dan menyabet berbagai penghargaan sastra dari banyak negara. Luis
Sepủlveda meninggal dunia pada 16 April 2020 akibat Covid-19.
Buku
kali ini ditujukan untuk Zorbes (kucing), pelabuhan, dan anak-anak Luis Sepúlveda
sendiri, sehingga gaya kepenulisannya tidak seberat novel sebelumnya. Walaupun begitu
“Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” tidak menghilangkan
kritik sosial maupun lingkungan seperti karya-karya Sepúlveda sebelumnya,
sehingga dapat mengasah kepekaan dan kesadaran mereka akan sekitarnya.
4
Kelebihan
Kritik Luis Sepúlveda tentang perbuatan
manusia ke lingkungan menjadi tema yang menarik bagi saya. Tidak hanya itu,
kisah ini juga menceritakan tentang persahabatan di mana saling membantu untuk
menepati janji salah satu tokoh. Penokohannya jelas dan kuat, apalagi diceritakan
dari sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasanya juga lebih ringan sehingga
mudah dipahami. Selain itu, kisah ini juga apa yaa, hmm… membawa suasana baru yang hangat,
sehingga rasanya seperti tinggal di daerah pelabuhan secara langsung. Dan seperti
biasanya, buku ini juga memuat informasi-informasi yang sebelumnya kurang diketahui
secara umum, seperti di sekumpulan camar yang terbang ada “pilot”nya, lokasi-lokasi
tujuan migrasi camar, dan lain-lain.
5
Kekurangan
Sebenarnya saya seperti tidak
menemukan “kekurangan” dari buku ini, namun ketika saya ceritakan ulang ke ibu
saya, menurut beliau endingnya kurang “greget”, tapi mau bagaimana lagi, memang
cerita tersebut ditujukan ke anak-anak, sehingga hampir tidak ada plot twist
dan endingnya tidak complicated, walaupun menurut saya sudah cukup

Komentar
Posting Komentar