Resensi Novel "Dollagoot: Toko Penjual Mimpi"

 

Oleh: Fin


Novel kali ini saya baca karena rekomendasi Wonwoo SEVENTEEN (walaupun tidak secara langsung:v), di mana menurutnya bacaan ini bernuansa hangat dan dikemas secara ringan sehingga bisa dijadikan selingan di kehidupan yang crowded. Wonwoo sendiri memang salah satu member yang suka membaca sehingga banyak buku yang direkomendasikannya (pingin beli yang lainnya jugaa, tapi masih nabung), hal itu juga yang menyebabkan saya suka Wonwoo selain deep voicenya (Heh! Astaghfirullah… tobat nak). Baiklah daripada membahas itu, langsung cek resensinya saja yaw



(btw ini aku seneng banget masih kebagian cetakan pertama yang covernya menurutku lebih cantik dibandingkan yang satunya:”)

1 Identitas

Judul: Dollagoot Toko Penjual Mimpi

Penulis: Lee Mi Ye

Penerjemah: Dwita Rizki Nientyas

Jumlah Halaman: 290 halaman

Ukuran: 13,3 x 20,5 cm

Penerbit: Baca

Tahun Terbit: 2021

2 Sinopsis

Di sebuah desa yang hanya bisa dikunjungi dalam tidur, terdapat tempat yang paling populer yakni Toko Penjual Mimpi dengan pemilik bernama Dollagoot. Dalam toko tersebut terdapat 5 lantai dengan pembagian lantai pertama berisi mimpi khusus dengan harga eksklusif, lantai kedua berisi mimpi tentang liburan atau hal umum lainnya, lantai ketiga berisi mimpi yang imajinatif dan cenderung tidak masuk akal, lantai keempat dikhusukan untuk hewan-hewan dan anak kecil, sedangkan lantai kelima berisi mimpi-mimpi yang sudah kadaluwarsa sehingga dijual dengan harga diskon. Novel ini, tidak hanya berfokus pada cerita Penny sebagai karyawan baru di toko Dollagoot yang mencoba menyesuaikan diri dengan karyawan lantai lain, pelanggan maupun pekerjaan barunya, namun juga menceritakan masalah-masalah tiap pengunjung yang datang di Dollagoot dan bagaimana penyelesaian masalah mereka. Dikemas dengan bahasa yang ringan dan penuh akan pesan-pesan kehidupan, novel ini cocok dibaca semua kalangan.

3 Kepengarangan

Lee Mi Ye lahir di Busan, Korea Selatan pada 1990. Ia termasuk “baru” dalam karir kepenulisannya. Dollagoot sendiri merupakan tulisan pertamanya yang awalnya hanya berwujud e-book, dengan permintaan, dukungan serta sumbangan dana dari masyarakat Korea Selatan, Lee Mi Ye pun akhirnya dapat menerbitkan buku ini pada 2021 dan menjadi salah satu novel dengan penjualan terbaik dalam skala internasional sehingga  diterjemahkan ke beberapa bahasa.

Lee Mi Ye sendiri memang sangat penasaran dengan “mimpi dan tidur”, seperti menanyakan: Kenapa manusia bermimpi? Kenapa 1/3 hidupnya dirancang untuk tidur? Apakah orang, tempat, dan kejadian janggal, misterius, mustahil dalam mimpi hanya sekedar khayalan alam bawah sadar? Sambil mempertanyakan hal-hal tersebut, ia menulis buku ini dengan hati yang bahagia.

4 Kelebihan

            Tema yang dipilih Lee Mi Ye seakan membawa kita ke masa kecil di mana dunia penuh dengan khayalan, bahasa yang digunakan pun ringan sehingga mudah dibaca, apalagi banyak pesan yang disampaikan dalam buku tesrsebut seperti: “…Manusia bukan mobil yang bisa menyetir sendiri. Mereka tidak hanya melaju melihat ke tujuan akhir. Hidup baru akan terasa sempurna kalau kia tahu cara untuk menyalakan mesin, menginjak gas dan kadang menginjak rem secara langsung…”. Alur yang digunakan maju dengan ritme yang cukup cepat sehingga pembaca tidak bosan. Selain itu tiap babnya menceritakan kisah tokoh berbeda dengan masalahnya masing-masing, yang kadang terselesaikan setelah berkunjung di Dollagoot, sehingga kita bisa membaca hanya bab tertentu.

5 Kekurangan

             Penokohan Penny yang penuh ingin tahu, riang tapi ceroboh itu menurut saya terlalu mainstream, walaupun ia pekerja keras namun kurang relate jika pekerja baru mendapatkan hoki sebanyak itu, bisa jadi juga karena Dollagoot memang menyukai cara berpikir Penny yang penuh ingin tahu dan tidak kaku terhadap anggapan mimpi sehingga cocok dengannya. Selain itu walaupun masalah yang dimiliki tiap pengunjung berbeda-beda namun konfliknya kurang dalam, sehingga menurut saya terkesan sedikit lempeng. Saya harap di buku keduanya (sudah terbit tapi belum beli) konflik dimunculkan lebih dalam sehingga ceritanya lebih menarik lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"