Cerpen 13

Matsama Suku Osing
Oleh: Fin
"Duduk sendiri a? Aku duduk disini ya." Tanya perempuan berkulit putih dengan muka mirip teddy bear, aku mengangguk cepat. Untung saja ada yang mau duduk di sebelahku, salahku sendiri sih datang terlalu siang, sampai bangku favorit yang di bagian belakang sudah terisi semua dan hanya menyisakan bangku di bagian depan. Sebenarnya, ada satu bangku kosong di sebelah Alifia, tapi menurut peraturan yang diumumkan kemarin, saat matsama(masa taaruf siswa madrasah) tidak boleh duduk bersebelahan dengan teman dari sekolah yang sama.Peraturan  itu bertujuan baik sih, tapi alumni dari sekolahku yang melanjutkan sekolah disini sekitar 40%, jadi di deretan Tsabita, banyak anak dari sekolah asalku yang duduk berdekatan, seperti Miya, Tsabita dan Alifia. Aku yang terlalu kaku pada peraturan langsung memilih deret yang berbeda dan jadi terkesan sombong, tapi biarlah, daripada aku dikeluarkan dari sekolah ini gara-gara tidak menaati peraturan.
"Ya ampun, tahu nggak se, aku tadi dari Blitar ke sini ngebut, aku baru tahu kalau hari ini itu waktunya matsama, terus ternyata bajunya harus hitam putih, terus aku cari pinjaman ke temennya Masku, terus...." Aku menoleh ke belakang mengikuti Mbak Teddy yang disebelahku, cewek di belakangku dengan casing handphone Doraemon itu masih menerocos tentang pengalamannya, sementara cewek di sebelahnya yang lebih kecil menanggapi dengan suara cempreng nan tinggi, aku mendengarkan sambil mengomentari dalam hati 'salah siapa datang tanpa persiapan, harusnya kan dari jauh-jauh hari sudah siap semua, semoga aku tidak sekelas dengan anak ini.' . Di belakang cewek casing Doraemon, ada cewek yang sekelas denganku saat tes masuk, kalau tidak salah namanya Adelia Alga, aku pun bingung, apa sebegitu terobsesinya kah orang tuanya dengan anggota Protista sampai menamai anaknya dengan nama itu, tapi ya... itu kan hak mereka, tapi sepertinya Adelia tidak mengenaliku, tapi aku memakluminya, karena menurut orang-orang yang kukenal mukaku ini mimikri, berubah-ubah sesuai dengan lingkungan, mungkin sekarang mukaku sedang mirip Mbak Teddy. Sedangkan di sebelah Adelia ada cewek berkulit seputih pualam dengan wajah dingin dan mengenakan kerudung yang ditalikan ke depan, melihat itu aku langsung kembali menghadap depan.
"Halo semuanya, selama empat hari ke depan kami akan membantu kalian untuk mengenal sekolah ini." Kata perempuan bermata besar dengan nada sedikit jutek yang diapit cowok berbadan besar dan cowok kurus. Seruan tertahan keluar dari cewek-cewek di belakangku, kuduga itu karena si cowok kurus, maksudku kakak cowok kurus yang kata teman dekatku terlihat manis, aku pun bingung. Mendengar seruan tersebut, yang dituju malah tersenyum menunjukkan sederet gigi putihnya yang tersusun rapi. Dasar tepe-tepe, batinku.
"Tapi sebelum itu, kami akan menanyai secara acak, siapa nama teman yang ada di sebelah kalian." Kali ini cowok berbadan besar yang berbicara. Aku dan Mbak Teddy langsung saling menoleh.
"Ana." Katanya sambil mengulurkan tangan.
"Fina." Jawabku sambil menjabat tangannya.
"Kamu!" Tunjuk kakak itu pada cewek casing Doraemon.
"Zushinka." Jawab cewek itu.
"Hayo sebelahnya namanya siapa?" Tanya kakak itu pada sebelah cewek casing Doraemon.
"Rohmah." Jawab Zushinka.
"Benar?" Tanya kakak itu pada mereka berdua, mereka hanya manggut-manggut.
"Lanjut, kamu!" Kakak itu menunjuk lagi, akhirnya aku bisa bernaas lega saat sesi tunjuk-menunjuk selesai.
"Sekarang kita absen dulu." Kata Mbak bermata besar mulai mengabsen.
"Adelia Elga." Ee ternyata namanya Elga bukan Alga, batinku.
"..."
"Fathimah Azzahra'." Lalu cewek dengan muka yang terlihat pendiam mengangkat tangannya.
"Fatimah Azaha, eh lho ini kayaknya yang nyetak daftarnya kelebihan deh." Mbak bermata besar itu ragu. 
"Saya Kak." Cewek dengan muka seperti tokoh utama di film-film mengangkat tangannya.
"Oo bener ya berarti, kamu yang dari Bali itu ya?"
"Eh bukan, Kak."
"Oo jadi yang dari Bali, Fathimah ya bukan Fatimah." Mbak bermata besar itu menyimpulkan.
"Sekarang, kita kalian memilih ketua dan wakil untuk kelas sementara ini, satu laki-laki satu perempuan." Aku langsung menunduk tidak mau ditunjuk. Kelas tetap hening.
"Loh kok nggak ada yang mau, ayo kamu, itu yang cowok tinggi maju." Kakak itu menunjuk cowok tinggi yang duduk di belakang.
"Ayo, siapa tadi namanya..."
"Ilham."
"Oiya, kamu jadi ketua suku ini, kurang satu lagi." Kelas matsama kami memang dinamai dengan nama-nama suku.
     Seorang cewek maju dengan pedenya, lalu disusul satu cewek lagi yang maju karena didorong-dorong temannya.
"Nah ini ada dua yang mencalonkan, jadi kalian perkrnalkan diri dulu."
"Nama saya Rara, saya dulu OSIS di SMP saya."
"Saya Alfi, saya dulu ikut Pramuka di SMP."
"Sekarang, kalian vote ya, yang milih Rara?" Entah kenapa tidak ada yang mengangkat tangannya.
"Yang milih Alfi." Ada beberapa yang mengankat tangan.
"Jadi wakilnya, Alfi." Kata kakak itu, setelah dibentuk ketua dan wakilnya, kami lalu ke aula untuk pengumuman jadwal kegiatan besok yang disampaikan kakak-kakak OSIS.
     Setibanya di aula, aku memilih duduk diantara Ana dan Alifia.
"Hei kamu yang dari Bali kan?" Alifia menjawil Fathimah yang duduk di depanku dan dijawab dengan anggukan, dari raut mukanya sepertinya dia tidak nyaman.
"Aku minta oleh-olehnya pai susu ya." Kata Alifia sambil tersenyum, aku menyikut dan memelototinya, bisa-bisanya minta oleh-oleh ke orang yang baru kamu kenal, kira-kira seperti itu maksud tatapanku.
"Eh iya sori sori."
     Pada hari kedua, karena ternyata jumlah cewek di kelas ini ganjil, aku dan Ana pindah di sebelah Alifia, dan kami jadi duduk bertiga di baris nomor dua, tidak di depan lagi, lalu sesuai jadwal, kami mebuat yel-yel kelas, ralat bukan kami, tapi Safia, Vany dan Tsabita. Aku benar-benar lemah kalau soal begini, akhirnya aku hanya berperan sebagai 'peramai' tempat diskusi.
"Lha yang ini gimana?" Tanya Vany.
"Jadi ini nanti nadanya gini..." Safia menunjukkan bagaimana maksud yel-yel buatannya. Saat aku diperkenalkan denggannya oleh Intan, teman sekelasku, Safia terlihat seperti kutu buku garis keras jadi aku tidak menyangka kalau ternyata dia pandai membuat yel-yel.
"Oo berarti langsung nyambung ke yang bagian ini ya..." Tsabita manggut-manggut.
"Iya, nanti tulisannya tak kirim di grup whatsapp ya, jangan lupa dihafalkan, soalnya besok setiap suku harus menampilkan yel-yel nya." Kami yang ada disitu hanya mengangguk-angguk.
     Esoknya acara penampilan yel-yel berjalan lancar, walaupun dari suku kami suaranya tidak keras dan tidak terdengar oleh kakak-kakak yang ada di depan. Rencananya besok adalah kegiatan outbound yang akan dilakukan di Arhanud dan itu adalah puncak atau perpisahan kami dengan kakak-kakak yang membimbing kami mulai tiga hari yang lalu. Kami boleh memberikan surat sebagai ucapan terimakasih, kritik  maupun saran kepada mereka.
     Hari itu pun tiba, aku sengaja datang lima belas menit sebelum acara dimulai, tapi ternyata masih sepi, aku langsung mengenali Vany dari warna dan motif tas punggung yang biasa ia gunakan. Aku menghampiri lalu mengekorinya ke tempat acara tersebut dilaksanakan(untung saja Vany baik hati, sehingga bersedia saja kuekori). Disana kami bertemu dengan Miya dan teman-teman Vany lainnya. Acara pun dimulai, setiap suku dibagi menjadi tiga kelompok, agar tidak terlalu besar.
"Tiarap!" Kami pun tiarap.
"Kedua tangan menumpu di depan! Angkat pundaknya! Kepala ditarik ke belakang."
"Lah gimana sih?!" Aku bingung sendiri, kalau kedua tangan buat menumpu, lalu aku menarik kepalaku dengan apa?!
"Gini lho maksudnya." Fathimah menunjukkan posisi gabungan dari plank dan spinx.
"Oo gitu..." 
     Setelah outbound selesai, waktunya kami menyerahkan surat kepada kakak-kakak yang telah membina kami. Aku segera mengumpulkan surat yang kubuat kepada ketua suku.
"Aku aja yang ngasih ke Kak Reza." Kata Rara.
"Aku aja nggak papa kok." Cewek berkulit putih pualam yang ternyata saat diabsen bernama Rismawanda itu menyahut kalem.
"Ya udah punyaku aku kasihin sendiri aja." Rara langsung berlalu.
"Terserah."
     Aku meninggalkan mereka yang bersaing-ria untuk memberikan surat kepada kakak-kakak. Aku sibuk mengingat pesan bapakku tadi, kalau tidak salah, nanti aku pulangnya harus naik angkot warna putih! Aku mundur-mundur melihat keadaan sampai tida sengaja menabrak cowok di belakangku.
"Eh maaf." Tapi cowok itu sepertinya tidak mendengarkanku dan asyik mengobrol dengan temannya, aku segera pergi dari situ.
     Besoknya setelah perpisahan dan outbound, ada acara halal bihalal dengan para guru. Tidak seperti sebelumnya yang menggunakan baju warna hitam putih, hari ini kami sudah mengenakan seragam berwarna putih abu-abu dan berbaris rapi di lapangan sekolah untuk antre bersalaman dengan para guru.
"Eh itu lho Fi, mirip Bu Nur." Kataku pada Alifia yang baris disebelahku.
"Eh mana-mana?" 
"Yang pake kerudung panjang."
"Oiya he, aduh Mi..." Alifia menoleh histeris pada Miya. Miya yang berbicara seperlunya hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Yang pojok kanan kah?" Godaku.
"Eh bukan, emoh aku iku tuek, elek."
"Eh, hus, iku guru lho!"
"Oiyo maafkan aku Bu..."
     Setelah matsama berakhir dan sekolah mulai normal, aku masih berkomunikasi dengan Alifia dan Miya karena mereka sering membeli kue padaku. Sedangkan Safia dan Vany, aku masih sering seangkot dengan mereka, dan hobi kami lumayan nyambung. Lalu cewek casing doraemon, Rohmah, ternyata malah sekelas denganku, lalu temannya, Zushinka, menjadi tetangga kelasku. Kalau Ana masih berkomunikasi denganku lewat whatsapp. Aku pernah bertemu dengan Rara di kamar mandi. Waktu itu aku menunggu antrian di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba Rara keluar.
"Gendeng a?! sopo mateni lampuku." Katanya berang sambil menatapku, aku balas menatapnya datar, kurang kerjaan apa? Lagian saklar lampu kamar mandi kan ada di dalam! Lalu dia pun kembali ke dalam kamar mandi dengan malu saat menyadari hal itu. Aku juga pernah bertemu dengan Fathimah di balkon depan kelasnya, saat itu aku menunggu temanku selesai ekskul, jadi aku menghampirinya.
"Hei, sampean Fathimah kan." Lawan bicaraku mengangguk.
"Sek iling a, jare kate ngasih pai susu nang Alifia." Oh aku kehabisan bahan obrolan, memang dasarnya aku tidak pandai mengobrol sih. Fathimah diam lagi.
"Ojok lali lho." Akhirnya aku pun beranjak dari situ seperti orang bodoh.

Malang, 7 Juli 2020

Komentar

  1. Safia pandai membuat yel yel :") dan kutu buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlihat seperti itu, ternyata seperti ini, penuh kejutan

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"