Cerpen 14
Cover Itu (tidak) Penting
Oleh: Fin
"Ya ampun, nggak tau ya kenapa, kok aku bisa mirip banget sama Kanna sih." Kata Lira, membuat Maia menautkan kedua alisnya.
"Kanna siapa?"
"Ya Kanna Hashimoto lah, siapa lagi." Jawab Lira, Maia hanya memutar kedua bola matanya malas .
"Kamu pingin dirajam orang se-Jepang?!"
"Hee kok gitu, katanya disuruh PD, tapi sekarang kamu malah menghancurkan kePDanku!" Lira mengerucutkan bibirnya, tidak terima.
"Iyadeh, sori sori." Kata Maia meninju pelan lengan sepupunya yang moody-an dan gampang ngambek itu.
"Sakit tahu!"
"Nggak tahu tuh." Maia mengedikkan kedua bahunya.
"Huh, memangkelkan!"
Ya, seperti itulah hubungan percousinan antara Maia dan Lira. Sebenarnya Lira lebih tua satu tahun dibandingkan Maia, tapi jika dilihat dari nasab, Lira adalah adik sepupu Maia, jadi mereka memutuskan untuk tidak memanggil dengan embel-embel 'mbak' satu sama lain, karena itu hanya akan membuat bingung sendiri.
Lira mengalami krisis identitas dan kepercayaan diri yang rendah. Pasalnya ia menganggap dirinya tidak secantik teman-temannya yang putih seperti mayat(karena gagal menggunakan produk pemutih) dengan mata besar karena diganjal softlens tapi malah terlihat seperti kuskus dan bibir yang merahnya dapat mengalahkan lipstik milik guru-guru perempuan. Sebenarnya Lira mirip Hana Sugisaki berkulit kuning langsat dengan hidung mungil mirip Anna di kartun Frozen plus bulu mata yang panjang dan lentik, hanya saja, jika Maia mengatakan seperti itu kepada yang bersangkutan(maksudnya Lira), malah akan semakin seenaknya sendiri dalam berpenampilan. Sekadar mengingatkan, tampilan Lira lebih mirip seperti Gintoki di anime Gintama dihibridkan dengan Yato di anime Noragami hanya saja versi perempuan, tidak jarang Maia menemui Lira di ruang tamunya masih menggunakan baby doll ditambah atribut wajibnya, yaitu ujung selimut yang ditalikan di lehernya sehingga menyerupai jubah Superman! Kalau ada acara diluar ia kadang menyambar kemeja ayahnya yang kebesaran atau jaket ibunya yang biasanya digunakan untuk ke pasar, penampilannya yang paling mentok adalah menggunakan seragam sekolah yang masih tampak kusut, padahal menurut pengakuan empunya seragam itu sudah disetrika. Hey, ini cewek sudah kelas dua SMA tapi tampilannya masih seperti itu.
Walaupun paras Maia tidak secantik Lira, tapi penampilannya lebih baik. Ia selalu menyetrika pakaiannya dan menggunakan bedak tabur tipis saat akan keluar bertemu orang lain, dandanannya pun selalu rapi. Maia mengingatkan Lira sebanyak yang ia bisa, tapi Lira sepertinya masih belum bisa merawat dirinya sendiri.
"Kamu tahu? Busa sabun itu baru bisa terurai setelah 10 hari!" Jawab Lira saat Maia mengingatkan untuk mandi sore.
"Lagi latihan jadi relawan. Kamu tahu? Relawan waktu terjun langsung kadang nggak mandi!" Kilah Lira saat Maia menyarankan untuk menggunakan sabun ecoenzym.
"Wariskanlah mata air untuk anak cucu, bukan air mata, hemat air Mai!" Lagi-lagi Lira mengelak saat Maia menunjukkan binder biodatanya yang menunjukkan bahwa cita-cita Lira bukanlah relawan.
"Udahlah nggak usah peduli kayak gini, cuma tampilan luar aja, orang kan yang paling penting dalamnya, sebersih apa hatinya, secemerlang apa otaknya." Akhirnya Maia pun menyerah mendengar jawaban Lira. Mungkin satu-satunya yang bisa dibanggakan Lira adalah kemampuannya berbicara.
"Mai, akhirnya, timku lolos KIR tingkat kota!"
"Selamat." Ucap Maia tidak kaget.
*******
Lomba KIR tingkat provinsi dimulai setengah jam lagi, Lira dan timnya sudah berada di lokasi.
"Gimana nih, sudah siap?" Atra sebagai ketua tim memastikan.
"Siap dong." Jawab Lira dengan semangat, membayangkan bagaimana panasnya presentasi nanti.
"Emm Lir, kamu pakai jas sekolah aja ya?" Tawar Ina dengan nada sungkan.
"Eh kenapa? Ini aja nggak papa kok."
"Huftt." Atra menghela napas panjang.
"Kan kamu yang paling banyak begian presentasinya, jadi biar mantep gitu lho." Ina meringis.
"Tapi aku nggak bawa, tetep gini aja deh biar kompakan." Lira tidak sadar kedua temannya berusaha memasang muka badak karena satu tim dengannya.
Saat giliran tim mereka maju peserta lain banyak yang berbisik-bisik, sedangkan para juri seakan tidak peduli dengan apa yang akan dipresentasikan oleh tim yang dengan penampilannya saja tidak peduli. Wajah Atra dan Ina sampai merah karena menahan malu, apalagi ini adalah awal bagi mereka, tapi Lira tetap tidak peduli, dan memulai presentasinya. Saat presentasi berlangsung peserta lain dan para juri langsung terdiam karena kemampuan mereka dalam menjelaskan sangat bagus. Presentasi berakhir disambut tepuk tangan.
"Gimana nih, lega kan?" Kata Lira.
"Aku ke kamar mandi dulu." Kata Ina datar, tanpa menanggapi pertanyaan Lira ia langsung pergi.
"Nggak peka sebagai cewek, tapi juga nggak mampu berlogika seperti cowok." Sahut Atra tajam.
"Hah? Apasih? Cuma gara-gara pakaianku yang sedikit kusut ini?"
"Pikir aja sendiri. Eh lupa, kamu kan... Jawabannya iya, cuma gara-gara pakaianmu yang SEDIKIT kusut." Atra beranjak dari Lira yang berdiri mematung.
Lira pun pulang ke rumah dengan perasaan jengkel setengah mati. 'Bisa-bisanya orang cuma lihat penampilan luarnya saja! Terus kenapa nggak mulai awal langsung bilang kalau jangan pakai itu, bukannya malah sok-sokan memberi pilihan, marah tanpa rambu-rambu lagi!' pikirnya.
"Ada apa Lir?" Tanya Maia yang kebetulan sedang membuang sampah di depan rumah. Lira yang kekesalannya memuncak pun akhirnya menceritakan kejadian tadi pada Maia.
"Sekarang kamu tahu kan, nggak semua orang berpikiran sama kayak kamu." Lira bungkam.
"Kebanyakan pasti melihat dulu gimana tampak luarnya, kamu sendiri lebih suka lihat orang yang rapi apa acak-acakan sih?"
"Yaa pasti enakan lihat yang rapi." Lira mulai angkat suara. "Tapi jujur sih, kadang aku sendiri kalau lihat ada orang yang tampilannya lusuh otomatis ngerasa kalau tingkatan orang itu ada dibawah kita jadi sedikit meremehkan, walaupun aku tidak tahu orang tersebut sebenernya kayak gimana." Lanjutnya.
"Jadi temen kamu salah nggak kalau bilang kayak gitu?"
"Ya.."
"Dengan melihat kekeraskepalaan dan ketidakpekaanmu?"
"Hmm iya sih, mereka nggak salah..."
"Terus kamu sekarang mau gimana?"
"Hmm mohon bantuannya lah."
"With pleasure."
Komentar
Posting Komentar