Resensi Novel “Jika Kucing Lenyap dari Dunia”
Oleh: Fin
Novel
“Jika Kucing Lenyap dari Dunia” ini saya beli akhir bulan September tahun 2023
dan baru selesai saya baca pada akhir bulan September tahun 2024 (hampir 1
tahun:v). Walaupun memiliki halaman kurang dari 300, tapi entah kenapa waktu
itu saya merasa sangat lamaa. Namun lamanya membaca novel ini terbayarkan oleh amanat-amanat
yang diselipkan oleh penulis dan ending yang bagus.
1
Identitas
Judul:
Jika Kucing Lenyap dari Dunia
Penulis:
Genki Kawamura
Penerjemah:
Ribeka Ota
Jumlah
Halaman: ±255 halaman
Ukuran:
13 x 20,5 cm
Penerbit:
Penerbit Baca
Tahun
Terbit: 2021 (Cetakan IV)
2
Sinopsis
Novel
“Jika Kucing Lenyap dari Dunia” menceritakan tentang pemuda pengantar pos yang
tiba-tiba divonis akan meninggal dalam waktu dekat karena tumor di otaknya,
dalam keadaan kaget dan bingung, ia bertemu dengan iblis (ia menyebutnya ‘Aloha’)
yang memberinya tawaran untuk menghilangkan 1 barang yang ia sayangi (namun ditentukan
oleh Aloha) untuk ditukar dengan 1 hari tambahan usia pemuda tersebut.
3
Kepengarangan
Genki
Kawamura pada dasarnya adalah pembuat film dan ia tidak pernah benar-benar berpikir
sebagai penulis buku. Walaupun begitu ia merasa bahwa cerita yang menggambarkan
dunia tanpa kucing lebih cocok untuk sebuah buku daripada film. Ia merasa
tertantang dan bersemangat untuk menuangkan apa yang tidak bisa ditampilkan di
film pada naskah novel tersebut. Novel “Jika Kucing Lenyap dari Dunia” terjual
lebih dari 2 juta eksemplar dan telah diterjemahkan ke lebih dari 14 bahasa.
4
Kelebihan
Tema yang diangkat menurut saya cukup
unik, ketika barang yang disayangi terpaksa ditukarkan untuk menambah 1 hari nyawa.
Selain itu novel ini tidak hanya bercerita tentang persahabatan dengan kucing,
namun juga tentang keluarga dan bagaimana memaknai hal-hal yang telah kita
miliki. Latar suasana tempat dan waktu dijabarkan penulis dengan baik, saya
bisa membayangkan bagaiman bingungnya ketika mendapat vonis tersebut, banyak
dan bentuk pajangan coklat di tempat tinggal pemuda itu dan saat ia terbangun
karena suara si kucing di pagi hari. Amanat dari penulis pun disampaikan dengan
baik, salah satu kutipan yang saya sukai ada di halaman 224 yakni: “Apakah aku
bahagia atau tidak? Aku tidak tahu. Hanya satu hal yang aku tahu. Hanya dengan pemikiran
diri sendiri, orang bisa sebahagia-bahagianya atau bisa jadi
semalang-malangnya.”.
5
Kekurangan
Alur pada novel “Jika Kucing Lenyap dari Dunia”
mayoritas alur maju (ada flashback juga saat bercerita tentang kucing dan
ibunya), namun saya merasa seperti lamaa sekali dan baru terasa seru mulai bab
keenam. Tokoh dalam novel ini sedikit dan karakternya cukup kuat, sampai saya geregetan
sama si tokoh utama, yang mana pada hari pertama tidak langsung ke ayahnya
namun malah memilih bertemu mantan pacarnya, tapi yaa memang hidup itu pilihan
sih.

Komentar
Posting Komentar