Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"
Oleh: Fin
Buku
“Things Left Behind” saya pinjam dari perpustakaan daerah (Taman Baca
SMART) tanggal 7 Oktober 2024, dan selesai saya baca tanggal 20 Oktober 2024.
Buku ini sebenarnya sudah saya masukkan antrian di perpustakaan digital, namun
saya tidak kunjung saya peroleh. Akhirnya ketika pengelola Taman Baca SMART
menghubungi saya bahwa terdapat banyak buku baru sumbangan dari Gramedia, saya
langsung menuju ke tempat dan saya menemukan buku tersebut. Silakan membaca
resensi singkat saya tentang buku “Things Left Behind”.
1
Identitas
Judul:
Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah
Tiada)
Penulis:
Kim Sae Byoul, Jeon Ae Won
Alih
Bahasa: Anna Lee
Jumlah
Halaman: xviii+ 199 halaman
Ukuran: 20 cm x 13,5 cm
Hak
terjemahan bahasa Indonesia pada Gramedia Pustaka Utama
Cetakan
kedelapan, Mei 2024
2
Sinopsis
Buku “Things Left Behind” berisi makna-makna hidup yang dapat dipelajari dari mereka yang telah tiada, diceritakan oleh pengurus jasa membereskan barang-barang peninggalan orang yang telah meninggal dunia. Buku ini terdiri dari 4 bagian (kecuali Prolog dan Epilog), sebagai berikut:
• Kata Pengantar: Dunia yang Berubah, Hal-Hal yang Tak Berubah
• Prolog: Yang Diajarkan Mereka yang Telah Tiada
• Bagian Satu Seandainya Mereka Lebih Saling Mengasihi
• Bagian Dua Seperti Apapun Hidup Kita, Kita Berharga
• Bagian Tiga Harapan Yang Muncul Di Titik Terendah
• Bagian Empat Yang Tersisa dalam Hidup Pada Akhirnya
• Epilog: Mengasihilah dan Mengasihilah
Setiap
bagian tersebut berisi 6 hingga 7 pengalaman dari Kim Sae Byoul dan Jeon Ae
Won, dari pengalaman-pengalaman tersebut penyebab meninggalnya bermacam-macam,
baik karena natural maupun tidak.
3
Kepengarangan
Kim
Sae Byoul awalnya bekerja sebagai pengurus pemakaman selama 12 tahun, lalu ia
berhenti dan memulai pekerjaan membereskan barang-barang peninggalan orang yang
sudah meninggal, karena ia berpikir bahwa pekerjaan tersebut daat mengurangi
kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Setelah 10 tahun bekerja, ia merasa betapa
banyak kematian yang menyedihkan dan perlu dikenang. Sebagai orang yang
menerima salam terakhir dari para almarhum, Kim Sae Byoul merasa bertanggung
jawab memberitahukannya pada dunia. Ia berharap para pembaca mengingat satu hal
melalui kisah mereka yang telah meninggal. Buku ini cukup populer dan diadaptasi
menjadi drama Korea “Move to Heaven”.
4
Kelebihan
Gaya bahasa yang digunakan oleh Kim
Sae Byoul dan Jeon Ae Won sederhana dan menyentuh. Banyak amanat yang dapat
kita ambil, seperti harus selalu peduli terhadap sesama, mengunjungi orang tua
dan menghubunginya secara rutin, bagaimana kepedulian kita dapat menyelamatkan
seseorang dari kesepian, sikap berani untuk bertahan dalam kenyataan hidup dan pandangan
kita yang seharusnya tidak menyepelekan ataupun takut terhadap pengurus jasa
membereskan barang-barang peninggalan orang yang telah meninggal dunia.
5 Kekurangan
Buku ini menunjukkan kisah-kisah
nyata dan terkadang terdapat alasan dibalik meninggalnya seseorang, namun ada
beberapa judul (dalam bagian tertentu) yang tidak hanya berisi 1 kisah,
sehingga saya terkadang masih mencari hubungan dengan kisah sebelumnya yang
terdapat dalam 1 judul yang sama tersebut. Terdapat juga beberapa pengulangan
yang disampaikan oleh Kim Sae Byoul dan Jeon Ae Won, seperti tentang bagaimana
mereka (jasa membereskan barang-barang peninggalan) diperlakukan dengan tidak
baik oleh masyarakat padahal jika tidak ada mereka maka yang kesusahan juga masyarakat
itu sendiri. Selain itu penulis juga sering mengulangi bagaimana kita harus
menjalani hidup dengan penuh keberanian dan kepedulian terhadap orang-orang
terdekat khususnya. Mungkin penulis sengaja mengulang amanat tersebut agar
terpatri dalam ingatan dan batin para pembaca.
Komentar
Posting Komentar