Resensi Buku "Kosmos"
Oleh: Fin
Terima
kasih sebelumnya ke Wedy yang sudah mem-preloved buku ini menjadi setengah
harga dan menawarkannya ke saya hehe:v. Bukunya tiba tanggal 18 Januari, dan 11
Februari baru kebaca sampai kata pengantar gara-gara banyak tbr waktu itu,
akhirnya 19 Juli selesai membaca dan waw bagus bangett! Sempet nyesel juga
kenapa nggak mbaca buku ini dulu baru ikut matkul fisika inti dan partikel,
soalnya di buku ini membahas lebih fundamental menurutku walaupun temanya
astronomi. Mungkin kalau kalian gabut dan bingung mau mbaca buku apa (apalagi
yang anak fisika), buku ini bisa jadi pilihan
1
Identitas
Judul:
Kosmos
Penulis:
Carl Sagan
Penerjemah:
Ratna Satyaningsih
Jumlah
Halaman: ±454 halaman
Ukuran:
12 x 23 cm
Penerbit:
Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun
Terbit: 2021 (cetakan kesebelas)
2
Sinopsis
Buku
Kosmos menelusuri 14 miliar tahun evolusi kosmik yang telah mengubah zat
menjadi kesadaran, asal-usul kehidupan, misi wahana antariksa, rupa beraneka
planet dan bintang, alur hidup tata surya dan galaksi, sampai awal dan akhir
alam semesta itu sendiri. Buku ini memiliki XIII bahasan (selain renugan, kata
pengantar, pendahuluan, ucapan terima kasih, lampiran, bacaan lanjutan, indeks
dan tentang penulis) dengan rincian:
I.
Tepi Lautan Kosmik
II.
Satu Suara dalam Fuga
Kosmik
III.
Harmoni Planet-Planet
IV.
Surga dan Neraka
V.
Lagu Biru untuk Planet
Merah
VI.
Dongeng Para Pelancong
VII.
Tulang Punggung Malam
VIII.
Melancong dalam Ruang dan
Waktu
IX.
Kehidupan Bintang-Bintang
X.
Tepi Ketakterhinggaan
XI.
Bertahannya Kenangan
XII.
Ensiklopedia Galaktika
XIII.
Siapa Juru Bicara Bumi?
Ketiga
belas bahasan tersebut walaupun bisa dibaca secara terpisah, namun akan lebih
baik jika dibaca urut, karena kita juga tidak tahu di halaman berapa pertanyaan
kita terjawab, contohnya seperti pertanyaan saya di halaman 5 yang menyebut
Jupiter sebagai bintang, dan baru terjawab di halaman 179 bahwa Jupiter
merupakan bintang yang gagal terbentuk, “Seandainya massa Jupiter lebih besar
beberapa lusin kali lipat, zat di bagian dalamnya akan mengalami reaksi
termonuklir, dan Jupiter bakal memancarkan cahaya sendiri.”.
3
Kepengarangan
Carl
Sagan (1934-1996) ialah ahli astronomi, kosmologi, astrofisika, sekaligus
penulis sains populer asal Amerika Serikat dan berperan besar dalam penelitian
ekspedisi wahana antariksa Mariner, Viking, Voyager, dan Galileo, atas jasanya
itu ia menerima NASA Medal for Exceptional Scientific Achivement dan Distinguished
Public Service. Kosmos merupakan salah satu karya terbesarnya, terbit
pertama kali sebagai buku dan serial TV (Cosmos: A Personal Voyage) pada
tahun 1980. Versi baru serial TV-nya telah terbit pada 2014, berjudul Cosmos:
A Spacetime Oddysey.
4
Kelebihan
Gaya bahasa yang digunakan menurut
saya tidak membosankan dan mudah dipahami, sehingga masyarakat umum bisa
menikmati membaca buku bertemakan sains ini. Selain menjelaskan perkembangan
alam semesta, Carl Sagan juga menceritakan kisah tokoh-tokoh ilmuwan (yang
sebagian asing) dalam mencari kebenaran sains, dari kisah-kisah mereka kita
juga bisa mengambil amanat, seperti kesenangan Ptolomeus akan ilmu pengetahuan,
keteguhan iman Kepler dalam mencari kebenaran tentang orbit planet-planet,
maupun kekritisan Newton (walaupun beliau tidak menyampaikan terima kasih pada
Kepler dalam karya agungnya). Salah satu kalimat Kepler yang saya sukai yakni
“Dengan sinfoni suara ini, orang dapat bermain melewti keabadian waktu kurang
dari satu jam, dan dapat mencicipi sedikit kesenangan Tuhan, Sang Seniman
Agung… Saya siap menyerahkan diri pada kegilaan sakral… Dadu dilempar, dan saya
sedang menulis buku- untuk dibaca entah sekarang atau nanti oleh generasi yang
akan datang, itu tidak masalah. Buku ini sanggup menunggu seabad untuk dibaca,
karena Tuhan pun telah menunggu 6.000 tahun untuk disaksikan.”.
5
Kekurangan
Secara keseluruhan buku ini bagus, sayangnya
di cetakan kesebelas ini pada halaman 215-230 tiba-tiba muncul kumpulan foto galaksi,
bintang-bintang, misi mejelajah ke planet tetangga, dan lain-lain yang
sebenarnya dibahas di bagian awal, sehingga memotong narasi tentang mazhab
Pythagoras. Menurut saya mungkin akan lebih baik lagi jika penempatan gambar
dan foto pendukung tidak jauh-jauh dari narasi, atau jika tidak memungkinkan
bisa diletakkan di lampiran bagian belakang agar tidak memotong narasi dan
kehilangan fokus membaca. Selain itu mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai
dengan keyakinan masing-masing (seperti evolusi manusia), namun hal tersebut
memang tidak bisa telan secara mentah-mentah, tidak bisa langsung kita percaya
langsung begitu saja karena sains memang masih terus berkembang mencoba mencari
‘kebenaran’, oleh karena itu butuh kearifan juga dalam membaca.

Komentar
Posting Komentar