Cerpen 2
Tanpa
Nama
Oleh: Fin
"Tes psikologi
selesai, sekarang waktunya istirahat, peserta diharap kembali ke ruangan pukul
11.45 untuk melaksanakan tes akademik." Setelah pengawas itu pergi, para
peserta segera keluar dari ruang tes, mencoba menjelajahi bakal sekolah mereka.
Mega menuju ruang tes teman-temannya yang satu lantai dengannya.
"Gimana?
Sulit nggak?" Tanya temannya saat dia sampai.
"Mm
begitulah..." Jawabnya tidak begitu yakin, ia tahu hasil tes psikologi
dipengaruhi oleh mood saat mengerjakan, dan bisa dibilang mood nya
saat ini sedikit kurang baik. Tidak, tidak, bukan saat ini saja, mulai sampai
di sekolah ini memang sudah begitu, sejak ia turun dari angkot yang sopirnya
menyetel musik dangdut keras-keras dan mengemudikan dengan ugal-ugalan seperti
mengajak sang angkot untuk 'berjoget' bersama dengannya.
"Aslinya
soalnya nggak sulit kan ya, tapi pengawasku nyeremin tau, apalagi aku tadi
datangnya terlambat, jadi duduk di depan deh..." Keluh teman satunya lagi.
"Oiya,
gimana kalau kita tanya teman-teman lain yang ada di lantai bawah?" Usul
temannya.
"Eh endak
deh, aku balik ke kelas aja, tinggal 15 menit lagi masuk." Tolak Mega.
"Iya sih
bener juga, nanti aja deh kalau udah selesai tes akademik." Mega lalu
kembali ke ruang tesnya yang sudah lumayan ramai, bahkan hanya ada beberapa
bangku saja yang belum ditempati pemiliknya. Ia lalu duduk di bangku marmer
kosong yang ada di depan ruang tes, berencana akan masuk ke ruangan saat
pengawas sudah datang, karena dalam ruang tes ini, tidak ada satupun yang ia
kenal. Tiba-tiba seorang cowok keluar dari ruangan dengan terburu-buru lalu
menuruni tangga yang ada di sebelah ruangan dengan cepat.
"Hey, kurang empat
menit lagi sudah masuk!" Seru Mega sambil menuju balkon melihat ke bawah,
tapi suaranya tidak bisa keluar saat ia melihat betapa tinggi posisinya yang
ada di lantai tiga, ia lalu mundur pelan-pelan, takut jatuh, sangat tidak masuk
akal bukan? Padahal di pinggir balkon sudah dipasang pagar tembok setinggi dada
yang mencegah adanya kecelakaan 'jatuh dari lantai tiga', tapi mau bagaimana lagi,
namanya juga takut ketinggian. 'Mungkin dia kebelet beol kali, ngapain mikir
urusan orang.' pikirnya, ia lalu masuk ke ruangan setelah melihat orang membawa
map soal dengan nomor ruangan yang ditempel besar, nomor 8.
Waktu tes dimulai, Mega mengerjakan soal dengan
lumayan lancar karena soal pada tes ini mirip dengan soal tes di sekolah lain
yang pernah ia ikuti, sayangnya waktu itu ia tidak lolos. Eh tidak, tidak,
bukan mirip, tapi sama! Hanya saja soalnya diacak dan jumlahnya tidak sebanyak
soal tes di sekolah lain itu. Mega melirik arloji hijaunya, 'Masih sisa satu
setengah jam lebih tujuh menit, sekarang waktunya ngerjakan yang jurusan IPS.'
pikirnya, ia lalu mengerjakan lembar soal lainnya.
"Waktu
kurang 30 menit ya anak-anak." Kata pengawas singkat, membuat Mega semakin
blank.
"Assalamualaikum."
Cowok yang tadi disangka Mega beol itu masuk ke ruang tes.
"Waalaikumussalam,
kok baru masuk?"
"Maaf Bu,
saya tadi sholat dhuhur dulu, apa saya boleh mengerjakan tes nya?"
"Ada lagi
yang masih diluar?" Pengawas memandang seisi ruangan dan haya dijawab oleh
gelengan beberapa anak, sisanya sibuk mengerjakan tes masing-masing.
"Ya
sudah, ini soal kamu, tapi waktu kamu tinggal 30 menit loh..."
"Iya Bu,
terimakasih." Cowok itu duduk di bangku kosong yang ada di baris kedua.
"Anak-anak,
sekedar mengingatkan ya, besok ada tes non-akademik, tapi hukumnya tidak wajib,
jadi boleh ikut, boleh tidak, kalau yang ikut, jam sembilan pagi sudah disini,
sesuai seperti yang di jadwal."
Tes pun berakhir, Mega turun menuju kelas teman
seangkotnya.
"Ra, pulang
yuk, laper pol." Ajak Mega.
"Iya
sama, tapi aku udah nggak tahan deh, gimana kalo kita makan bakso di deket
jembatan depan sekolah?" Usul Tara.
"Hmm
iyadeh."
"Eh,
besok kamu ikut tes itu apa ndak?" Tanya Tara pada Mega setelah melahap
bakso pesanannya.
"Ikut
dong."
"Halah
nggak usah ikut aslinya juga nggak papa, toh kamu pinter, kan tes ini cuma buat
nambah nilai sebenernya."
"Pingin
aja main catur, udah lama nggak dapet lawan main soalnya."
"Yee
sombong! Aku juga ikut tes dong."
"Voli?
Pasti gara-gara nggak ada temen mainnya kalo di rumah kan?"
"Eh! Kok
bener."
"Hmm,
sama aja dong."
Besoknya, pukul 08.50, Mega dan Tara sudah sampai
di sekolah.
"Eh aku
tes nya di lapangan belakang sekolah ternyata, kamu dimana?" Tanya Tara.
"Aku di
sebelahnya aula, yah beda arah dong" Jawab Mega.
"Ya udah
nanti kalau udah selesai, ketemu disini aja biar nggak bingung."
"Okedeh,
semangat." Mega lalu menuju ke arah timur dan bertemu dengan cowok itu
lagi! 'Ya ampun, anak ini mau ikut olahraga apa coba dengan tubuhnya yang
tinggi tapi kurus itu, kalo kesenggol lawannya bisa-bisa langsung ngguling
itu.' Mega buru-buru menghilangkan pikirannya setelah sadar kalau waktunya
kurang beberapa menit lagi untuk sampai di ruang tes. Sesampainya di ruang tes,
ia mendapat lawan yang sama-sama perempuan.
"Mm, tapi
kalau kamu ke situ, mati lo rajanya." Kata Mega.
"Oiya
lupa, ya udah deh yang ini aja." Lawannya lalu mengganti bidak yang akan
dimainkannya. Permainan lalu berlanjut, pengawas terus berkeliling ke setiap peserta.
"Pak
sudah." Mega mengangkat tangannya.
"O iya
sudah, kamu ya yang menang." Pengawas itu sambil mencoret-coret daftar
nama yang dipegangnya.
"Eh endak
Pak, dia yang menang." Mega menunjuk lawannya.
"Eh
lho?" Pengawas itu bingung.
"Mm
permisi Pak, kalau sudah selesai apa boleh pulang?"
"Oh.. ya
ya silakan." Pengawas itu masih bingung bahkan saat Mega sudah menutup
pintu ruangan tes itu.
Mega buru-buru ke tempat janjiannya dengan Tara tadi,
takutnya Tara sudah menunggunya lama, tapi saat sampai Tara masih belum datang.
Ya sudah aku tunggu di depan ruang itu aja kali, pikir Mega setelah melihat
bangku kosong yang ada tak jauh darinya. Dari tempat duduknya ia bisa mendengar
lantunan nyanyian, qiroah, permainan musik, sepertinya di bagian sini tempat
untuk tes yang kesenian. Lalu Mega melihat cowok itu lagi keluar dari ruang
sebelahnya. 'Ee ternyata kesenian toh, pantesan...' . Tak lama kemudian Tara datang
di tempat janjian sambil celingak-celinguk, Mega menghampirinya dan mengajaknya
pulang.
*******
"Eh
maaf." Cicit Mega karena tidak sengaja menabrak orang dibelakangnya saat ia sedang berjalan mundur mengamati situasi. Mega jadi kepo dan
melihat orang itu dari samping, 'Ya ampun cowok ini lagi! Mimpi apa aku sampe
bolak-balik lihat anak ini!' batinnya, ia lalu pergi ke bawah pohon yang sepi,
biar nggak nabrak-nabrak orang lain lagi. Karena hari ini adalah hari MOS
terakhir, letaknya tidak di sekolah seperti biasanya, melainkan di lapangan
kota.
"Eh kan
jauh dari sini ke terminal." Keluh Tara.
"Bisa
kok, naik hijau dulu baru yang oren kayak biasanya, tapi kalau yang hijau muter
sih, tapi nggak papa kan daripada jalan jauh ke terminal." Mega yang ahli
perangkotan mengusulkan.
"Iya deh,
iya, melayang sudah uang tiga ribuku..." Mereka segera menuju jalan raya,
menunggu angkot hijau. Kurang lebih 23 menit kemudian angkot hijau datang,
memang angkot ini jarang 'muncul' karena memang rutenya tidak strategis dan
tidak famous di kalangan angkoters yang tidak ahli perangkotan.
Angkot itu berhenti depan mereka setelah Mega melambaikan tangannya, mereka pun
masuk, karena tidak ada penumpang selain mereka, jadi bebas memilih tempat
duduk, Tara memilih di pojok belakang sedangkan Mega di pinggir pintu, lalu
angkot itu berjalan dengan sangat cepat, mungkin karena sadar tidak ada yang
akan naik lagi selain mereka berdua.
"Eh, Me,
kamu bayarin dulu ya, nanti aku yang bayarin waktu angkot oren, uangku soalnya
di tas yang bawah banget."
"Oke."
"Sip, eh
Si Nana bikin story, dia jual tas lucu-lucu, ya ampun!" Tara sibuk
dengan gadgetnya, sedangkan Mega menatap lurus ke depan, menembus kaca
jendela angkot(eh emang matanya kayak laser apa?!) .
"Eh? kan
jauh banget..." Batinnya saat melihat gerombolan cowok yang menggunakan seragam
MOS, berjalan kaki di trotoar seberang. Memang benar perkataanya, dari tempat
MOS tadi ke tempat ini kira-kira berjarak 1km. Kalau kalian tidak bisa
membayangkan sejauh apa 1 km itu, sama dengan berkeliling 25 kali mengelilingi
bangunan yang kelilingnya 40 m. Ia lalu mengamati gerombolan itu, bisa saja
salah satu dari mereka ada yang ia kenal.
"Ya
ampun, cowok itu lagi!" Mega pun kaget mendengar suaranya sendiri.
"Kenapa,
Me?" Tara sampai mengalihkan pandangannya dari gadgetnya itu.
"Eh?
Emangnya aku kenapa?" Tanyanya sok amnesia.
"Terserah
deh..." Tara kembali mengecek story teman-temannya di medsos,
menghiraukan kelakuan Mega yang bisa disebut 'aneh' .
"Duh
keceplosan lagi!" Seru Mega dalam hati dengan sebal sekaligus bersyukur
karena ia hidup di zaman modern, dimana manusianya lebih peduli dengan urusan
di dunia maya ketimbang di dunia nyata.
*******
"Udah
asar, tapi pembinanya belum datang, sholat dulu yuk!" Ajak Mega pada teman
satu ekskulnya.
"Sori,
aku lagi halangan."
"Mm ya
udah deh duluan ya, ntar kalo dicariin pembina nya tolong izinin dulu ya."
Mega naik ke lantai dua, letak pintu masuk masjid untuk perempuan.
"Ini
'masih' sepi, atau 'sudah' sepi?" Ia bingung saat memasuki masjid yang
sepi itu, dan meletakkan mukenahnya di di depan. Setelah berwudhu, ia segera
mengenakan mukenahnya, tapi tetap saja masjid itu masih sepi. Tiba-tiba ada
suara berisik dari bawah, tempat jamaah laki-laki, ia lalu menengok ke bawah
dengan hati-hati(padahal juga ada pagarnya). "Untung saja, ada jamaah lain."
Batinnya.
Setelah ikamah,jamaah pun berdiri. Ternyata yang
ikamah tadi adalah teman ekskul Mega. Temannya itu melambai-lambai ke atas saat
melihat Mega. Mega ingin membalasnya(karena bisa dibilang temannya itu jarang
sekali menyapa orang lain, jadi kayak kesempatan langka gitu lho, apalagi nggak
enak kalau tidak membalas sapaan orang lain...), tapi setelah ingat kalau
sedang berada di masjid, Mega segera beristighfar sambil refleks menggeleng,
melihat reaksi Mega, temannya itu juga ikut menggeleng dan beristighfar karena
lupa tempat. Lalu seorang cowok dengan jaket hitam maju untuk mengimami,
setelah melihat teman Mega yang menghadap atas sambil geleng-geleng dan
istighfar, cowok itu jadi mengikuti arah pandangannya. Mega refleks menunduk,
ia sendiri tidak tahu kenapa, kedua kakinya pun serasa tidak bisa digeser.
Walaupun menunduk ia masih bisa melihat cowok itu masih mendongak melihatnya,
waktu seperti berhenti berputar, atau apalah, pokoknya terasa sangat lama,
sampai-sampai wajahnya terasa panas, memerah, 'Cih, siapa sih? Berani-beraninya
lihat lama-lama' batin Mega kepedean, padahal kan bisa saja coeok itu kaget karena jamaah perempuannya hanya satu atau kaget 'Anak ini siapa? Kok tumben salat asar disini?' atau malah bisa juga cowok itu mencari someone yang biasanya langganan menjadi jamaahnya, kan bisa jadi. Mega lalu melempar tatapan tajam ke arah cowok itu
dan berhasil membuat cowok itu berkedip dan geleng-geleng. 'Eh lho? Cowok itu
lagi?' sekarang giliran Mega yang kaget, habisnya cowok yang satu ruangan tes
dan yang pernah ia tabrak saat MOS, sekarang muncul di depannya(eh dibawahnya
ding, kan yang jamaah laki-laki di lantai bawah). Sepanjang sholat asar, Mega jadi
tidak fokus, apalagi imamnya 'cowok itu'.
"Apa
jangan-jangan cowok itu mau balas dendam karena aku dulu minta maafnya nggak
sungguh-sungguh, apa dia kira aku nggak minta maaf karena dia nggak denger, eh
ya salahnya dong kalau nggak denger, tapi kenapa detak jantungku jadi lebih
cepat? Ya Allah ampunilah dosa hambamu ini..." Setelah salam, Mega langsung
berlari ke belakang takut terlihat lagi oleh 'cowok itu', ia berlari sambil
menepuk-nepuk dada, mencoba menetralisir detak jantungnya.
*******
Mega' POV
Seperti biasa, setelah ujian sekolah aku kebelet pipis karena grogi. Aku pun menuju kamar mandi terdekat, sebelah kantin bawah. Namun, saat melewati kantin, aku melihat cowok itu lagi! Tapi dalam posisi makan dan berbincang dengan ibu penjual nasi di kantin. Rasanya aku rela menahan kebelet pipisku untuk melihat ini, tapi sepertinya Penciptanya tidak mengizinkanku melihatnya terus-terusan, jadi aku langsung ngacir ke kamar mandi.
*******
Saat ujian madrasah, aku sengaja datang lebih pagi karena aku belum paham materi, barangkali bisa bertanya atau meminta penjelasan pada teman sebelum ujian berlangsung. Tapi saat datang di lantai tiga, hanya ada anak kelas lain yang di ruang sebelah. Setelah melepas sepatu, aku mulai mencari tempat di depan ruangan untuk membaca-baca.
"Bruk." Ada yang meletakkan tas hitam di samping kananku. Aku menoleh ke kanan, lalu kembali menatap buku kumpulan soalku. Mati aku! Cowok itu lagi, dan jarak kami hanya satu lantai pualam ukuran 1mx1m. Aku semakin tidak fokus, berkali-kali kusadari bahwa aku membaca halaman yang sama terus dari tadi. Aku pura-pura mengambil sesuatu dari tasku, lalu meletakannya di samping kananku untuk penghalang(dan jadi terlihat tambah aneh!), karena disamping kiriku pun sekarang sudah ada anak lain, jadi aku tidak bisa bergeser ke kiri. Aku mencoba membaca buku lagi, tapi percuma. Akhirnya aku membuka whatsapp di handphone untuk mengirim pesan ke teman yang satu ruangan denganku.
"Mil, wes sampe a?"
"Uwes."
"Ndang munggaho." Enak saja aku menyuruh-nyuruh.
"Oke." Untung temanku tidak mudah tersinggung.
"Makasih." Sekitar empat menit kemudian, temanku itu datang, aku langsung mempersilakannya duduk di tempat kosong yang ada di antaraku dan cowok itu. Lalu kami pun belajar dengan damai.
Baru sadar, ternyata cerpen duanya kelewatan...
BalasHapus