Cerpen 10


Serba Pertama
Oleh: Fin
Sore itu, aku yang sedang asyik rebahan tiba-tiba dikagetkan dengan suara notifikasi whatsapp.
'Selamat Dek, kamu lolos seleksi OSK nya.' Isi pesan dari guru bimbinganku itu berhasil membuatku loncat-loncat kegirangan, sayangnya cuma dalam hatiku saja, soalnya: Pertama, dalam posisi seperti ini tidak mungkin dong langsung loncat-loncat ke lantai dan melepaskan diri dari gravitasi kuat kasur; kedua, loncat-loncat membutuhkan energi besar, sedangkan alasanku rebahan di kasur adalah kekurangan energi; ketiga, pliss ya, ada Ibu dan Kakakku yang sedang curhat duduk di pinggiran kasur, kalau aku tiba-tiba loncat-loncat pasti mereka akan melongo dan image yang kubangun sebagai anak yang pendiam akan runtuh seketika.
"Buk, aku..." Kataku dengan posisi yang sudah duduk.
"Sek toh, gantian kalau cerita." Kakakku ngedumel, sepertinya mood nya kurang baik.
"Aku lolos seleksi OSK." Kataku datar.
"Oo..." "Eh?! Apa!" Seru Ibu dan Kakakku hampir berbarengan. Mereka lalu memelukku yang sok seperti patung kaku, padahal aslinya seneng banget.
"Kapan berangkatnya?" Tanya Ibu.
"Endak tahu, eh belum tahu."
"Gimana sih, ya sudah aku searching-in di google dulu."
"Tanggal 7 April woy, dua minggu lagi!"
"Dua minggu lebih tiga hari" Ralatku.
'Bu, katanya yang di internet, dimulainya tanggal 7 April...' Aku membalas pesan.
'Iya Dek, tapi sepertinya kepala sekolah belum tahu, jadi tidak ada bimbingan dalam dua minggu kedepan, tapi kalau misalnya Bu Intan ngasih bimbingan, kamu bisa apa nggak Dek?' Bu Intan yang sedang online langsung membalas pesanku.
'Oo gitu bu, bisa sekali bu, terimakasih.' Aku sebenarnya nggak enak sama Bu Intan, karena beliau sedang sibuk-sibuknya menyiapkan pernikahannya, eh tapi tunggu dulu...
'Bu, itu bimbinganya waktu jam pelajaran kah?' Tanyaku.
'Iya Dek sebagian, soalnya Bu Intan juga nggak enak kalau ngambil kamu terus waktu jam pelajaran.' Jawab Bu Intan yang terlihat seperti meminta maaf karena jam pelajaranku jadi terpotong, padahal salah satu motivasi terbesarku mengikuti lomba ini adalah untuk mendapat dispen waktu jam pelajaran dan mendapatkan camilan serta makanan yang pasti akan diberikan saat bimbingan, apalagi kalau sudah tembus kota begini.
'Terimakasih Bu.'
Dua minggu setelah itu aku berangkat ke Surabaya, tempat diselenggarakannya OSP. Karena guru pembimbingku sibuk mengurusi pernikahannya, jadi aku diantar oleh guru lain. Kami berangkat naik bus. Saat perjalanan, aku yakin ada lebih dari lima pengamen berbeda yang keluar masuk bus, dan ada tiga penjual, mulai dari koran, makanan ringan dan minuman dingin. Seorang perempuan membawa kerupuk tahu dua plastik besar, dan langsung membagikannya ke penumpang, aku bingung saat menerimanya, bagaimana ada orang sedermawan ini? Pikirku. Lalu perempuan itu memberitahukan keunggulan dagangannya yang sedang kami bawa(ee ternyata promosi) dan mengambil kembali dagangannya dengan kasar bagi siapa yang tidak tertarik untuk membeli. Hal itu tentu sangat menarik bagiku yang baru kali ini naik bus umum(maksudnya bukan bus pariwisata), bagaimana mereka bertahan hidup dengan usaha mereka sendiri tanpa meminta-minta. Setelah beberapa jam, bus mendarat di terminal yang mirip bandara, yang mengingatkanku pada teman SD ku yang berasal dari kota ini dan mamanya bekerja di bandara, apa ini bandara yang dimaksud?
"Ini walaupun terminal mirip bandara, tapi nggak kalah ramai lo, hati-hati." Bu Hani yang menemaniku ke kota ini memperingatkanku.
"Iya Bu, tapi saya dari pengamen keempat tadi sudah nahan pipis Bu, saya izin ke toilet umum dulu ya Bu."
"Ada a uangnya?" Bu Hani sambil merogoh tasnya seperti mau meminjamkan.
"Ada Bu, terimakasih." Aku buru-buru lari ke toilet umum yang ada di bagian selatanku.
Setelah membayar aku kembali ke tempat awal.
"Ayoo cepetan." Bu Hani bangkit dari posisi duduknya saat melihatku. Aku berjalan di belakang guruku itu, lalu ada bapak-bapak yang mendekatiku dan melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu aku ingat pesan Bu Hani agar berhati-hati, aku lalu mendekap dompetku dan menoleh ke arah Bapak itu, setelah kutoleh orang itu pergi sambil mengangkat bahunya. Ternyata beneran ada ya orang kayak gitu, nggak cuma di televisi saja, pikirku. Aku buru-buru mendekat ke Bu Hani yang ternyata menungguku.
"Kenapa itu tadi?"
"Endak papa Bu." Aku lalu berjalan di sebelah kirinya.
"Ya ampun, sejak kapan kamu gini, dari tadi?" Bu Hani menunjuk rok belakangku yang masuk ke celana trainingku, sambil menahan tawa. Pasti ini setelah aku dari toilet, duh... Berarti Bapak tadi aslinya ingin mengingatkanku bukan mau ngambil dompetku, malunya... Akhirnya kami naik grab ke hotel tempat menginap peserta OSP, di sepanjang jalan aku bermain handphone berusaha untuk mengusir rasa malu.
Setelah mengantarku, Bu Hani naik grab lagi menuju hotel terdekat yang sudah disewakan sekolah, karena hotel ini hanya dibooking untuk peserta OSP bidang fisika. Di hotel aku bertemu dengan juara lainnya yang berasal satu kota denganku, tapi saat akan kusapa, sepertinya mereka tidak mengenaliku, karena entah kenapa sejak SD aku gampang menghapal wajah orang lain, tapi banyak yang tidak mengenalku, invisible lah singkatnya. Aku lalu menuju resepsionis, untuk bertanya nomor kamar.
"Rombongan dari kota?"
"Batu."
"Mm sendirian?" Resepsionis di depanku itu mencari orang lain yang mungkin datang bersamaku, seperti rombongan dari kota lainnya yang datang ke resepsionis bersama-sama.
"Iya." Jawabku.
"Tolong tulis nama, nomor handphone yang bisa dihubungi, dan kota asal disini." Resepsionis itu menyodorkan beberapa lembar kertas yang berisi tabel, aku membukanya sampai halaman terakhir yang untungnya masih separuh terisi dan mencamtumkan data-data.
"Satu kamar berisi tiga orang, ini ada kamar yang isinya masih dua orang, peserta dari Lumajang." Resepsionis itu seperti meminta persetujuanku, aku lalu mengangguk.
"Baik, mari saya antar ke kamar nomor 625, mau saya bawakan barang bawaannya?"
"O tidak usah, terimakasih." Toh, cuma satu ransel besar, pikirku. Aku lalu mengikuti resepsionis itu menuju lift. Setelah sampai di lantai enam, pintu lift membuka, resepsionis yang di name tagnya bernama Bayu itu menuju ke kamar yang ada di ujung kiri, lalu mengucapkan kode-kode sehingga pintu yang sudah dikunci itu terbuka.
"Lampunya kalau mau nyala terus diganjal pakai kartu, kartu apa saja." Kata Bayu setelah mempersilakan masuk, aku mengangguk mengiyakan, lalu pintu ditutup dari luar. Setelah tidak ada orang di kamar itu, aku langsung heboh menyoba kursi dan meja kerja yang ada di sebelah jendela besar yang menghadap ke barat, berguling-guling di kasur yang ukuran king size, dan memfoto tulisan nama teman-temanku sebagai kenang-kenangan, hotel ini sungguh fantastis menurutku, jalan dari lift ke kamar pun dilapisi karpet berwarna merah, isi kamar ini pun juga sangat keren, ada dua kasur satu king size satunya kasur tambahan, lalu ada televisi, meja kerja, tiga lampu meja, kaca besar, rak sepatu, jendela besar, kamar mandi yang luas, dan tentunya ada banyak stop kontak sehingga memudahkan men-charge dimanapun. Aku lalu ingat pengumuman tadi, bahwa peserta diharap segera makan, karena jam makan segera habis, aku lalu keluar dan menutup pintu sampai terdengar klik, oh ya ampun handphone ku ketinggalan di dalam dan aku tidak punya kuncinya, aku lemas dan menempelkan pipiku pada daun pintu. Duh, bodoh sekali, rutukku.
Mau tidak mau aku turun ke lantai satu untuk makan, dan kebetulan satu lift dengan anak anak dari Kota Malang, yang dapat kuketahui dari name tag yang dikalungkan seperti yang sedang kupakai.
"Kamu sudah dua kali ini ya ikut OSP." kata pembimbingnya yang menyewa kamar di hotel ini juga.
"Iya, tapi dia malah dulu sudah harapan satu." Anak yang diajak berbicara itu menunjuk teman sebelahnya, lalu mereka tertawa, huwa...aku merasa kecil. Akhirnya lift tiba di lantai satu, aku langsung menuju ke ruang makan dimana sudah banyak pegawai hotel yang meringkasi makanan, aku lalu bertemu salah satu pegawai dan menatapnya dengan tatapan'apa masih boleh?'
"Silakan di sebelah sana." Pegawai itu menunjukkan bagian kanan dimana masih tersedia makanan dan setumpuk piring bersih. Setelah mengambil makan aku melihat ada dua meja yang ada peserta OSP, yang satu kelihatannya seperti anak kalem-kalem, yang satu lagi berisi anak kota yang tentunya aku tidak akan nyaman jika semeja dengan mereka.
"Boleh duduk disini?" Tanyaku sambil menunjuk kursi.
"Iya boleh." Jawab salah satu anak. Setelah duduk aku lalu makan seperti biasa, sampai perutku terisi aku baru bicara, mencoba basa-basi.
"Sampean dari mana?"
"Aku sama Mbak Dina dari Lumajang, kalau Mbak Nia, Mbak..." Aku tidak mendengar lanjutannya, aku hanya mencatat poin penting,  dari Lumajang! Berarti mereka yang satu kamar denganku, sungguh beruntungnya aku.
"Sampean olimpiade apa?" Sungguh basa-basi yang sangat gob***.
"Maksudnya?" Tanya salah satu lagi.
"Fisika? Atau kimia? Atau..." Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, apa yang salah dengan pertanyaanku.
"Aku fisika."
"Fisika."
"Yes, sama dong." Jawabku.
"Loh Mbak, kan memang sehotel ini bidangnya fisika semua." Doeng. Jawaban anak itu membuatku sadar, ya ampun dobel malu deh.
"Oiya lupa." Aku meringis, lalu tiga orang yang bukan berasal dari Lumajang itu kembali ke kamar mereka.
"Aku kamar 625, sekamar sama kalian." Kataku setelah meletakkan piring kotor ditempatnya.
"Ya sudah ayo balik bareng." Kata anak yang dari tadi memanggil dengan embel-embel 'Mbak'.
"Loh tapi aku belum sholat, kamu sudah?" Kata satunya lagi.
"Oiya belum, ayok deh, di lantai dua kayaknya." Jawabku.
"Ya udah aku balik dulu ya, nanti Mbak ketok pintu aja." Kami mengangguk menjawab.
            Setelah selesai sholat aku dan teman baruku itu kembali ke kamar.
Mbak Din, mapmu tak pindah kesini ya.
Oiya Lan, makasih.” Oiya aku baru ingat kalau nama teman sekamarku Wulan sama Dina.
Nah, udah beres semua.” Wulan yang sepertinya orang yang rapi dan tertata itu lalu duduk di meja kerja sambil bermain handphone yang di-charge di stop kontak sebelahnya.
Eh sebentar sebentar, dijadwalnya ini nanti technical meetingnya pakai batik, terus besok waktu lombanya pakai baju almamater, kukira technical meetingnya sebelum lomba pas, jadi aku cuma bawa almamater, gimana nih?”
Nggak papa Mbak Din, pakai itu aja.”
Dimana ya toko batik terdekat,” Dina mencari di google mapOo kalau dari hotel ini, ke arah utara, nanti ketemu perempatan terus nyabrang, nah terus sampe.”
Tak anterin a? Toh sekarang masih jam tigaan, nanti mulainya jam lima  kan.” Aku sendiri kaget dengan tawaranku.
Nggak papa?”
"Loh, aku ikut lah..." Wulan buru-buru melepas charge nya dan menggunakan name tagnya, aku dan Dina juga ikut menggunakan, jaga-jaga kalau nyasar dan ketemu orang yang tepat bisa kembali ke hotel dengan aman.
            Setelah sampai di perempatan yang dimaksud dengan berjalan kaki, kami tidak menemukan toko batik.
"Yah tutup kayaknya." Kataku, sementara Wulan dan Dina sepertinya masih kecapekan.
"Iya terus gimana?" Dina dengan nada cemas.
"Coba cek toko lain Mbak yang masih buka."
"Ini ada, tapi arahnya berlawanan, di sebelah selatannya hotel." Jawab Dina.
"Ayo?" Tanyaku. Lalu kami berjalan ke arah berlawanan dan sampai di sebuah mall.
"Ini?" Dina mengangguk sambil menelan ludah.
"Ayo masuk." Kami pun masuk dan berkeliling, selagi kami berkeliling penjaga stan menawarkan barangnya, mereka tidak tahu kalau yang membawa uang hanya Dina, sedangkan aku dan Wulan hanya membawa handphone kami yang tidak mungkin kami gadaikan mendadak untuk membeli barang yang ditawarkan itu. Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan, kami keluar dari mall itu.
"Ya ampun ada bumblebeeayok foto." Ajakku. Tapi kedua temanku mendelik kaget, oo baiklah aku lupa."Ndak jadi wes." Lalu kami kembali ke hotel sekitar jam empat lebih seperempat.
            Setelah kembali ke hotel, kami foto-foto dan belajar untuk besok, karena technical meeting diundur nanti jam tujuh. Sekitar jam tujuh lebih, technical meeting dimulai, karena tempat duduknya dua-dua, aku duduk dengan peserta dari Kabupaten Blitar yang sayangnya aku tidak mengetahui namanya, tapi anak itu terlihat cantik bahkan tanpa riasan sekalipun, tunggu-tunggu, aku mengedarkan pandangan, ya ampun, isi aula ini seperti bidadari dan makhluk kahyangan lain seperti yang di webtun yang sering kubaca, lagi-lagi aku merasa kecil. Saat technical meeting ada pengumuman bahwa beberapa peserta ada yang  registrasinya bermasalah, termasuk Wulan dan Dina, jadi aku kembali ke kamar sendiri, sudah membawa kunci pastinya. Tidak kusangka aku satu lift lagi dengan anak yang sebangku denganku tadi dan teman-temannya, aku tersenyum dan dibalas, lalu ada cowok jangkung berkacamata tebal yng tiba-tiba naik di lift itu, membuat anak itu grogi sepertinya dia memencet tombol lantai lima, lalu malah terbuka lantai dua dan masuk cowok lagi, lalu dia memencet tombol nomor lima lagi tapi malah terbuka di lantai satu. Anak itu langsung keluar tanpa bisa dicegah teman-temannya.
"Tapi ini lantai satu." Kata temannya.
"Lah kan kita emang mau kesini."
"Loh kok?"
"Ayo." Ajaknya  dengan muka memerah yang tampak lucu dan membuatnya ditolak mentah-mentah oleh temannya.
"Halah mboh wes." Dia menuju ke tangga darurat, lalu entah apa yang terjadi setelah itu, karena pintu lift tertutup. Aku tertawa terbahak-bahak, ups! Kan ada banyak orang, aku langsung diam, menunggu lift tiba di lantai enam.
            Setelah tiba di lantai enam, aku menuju kamar dan mengunci pintu dari dalam, melihat one punch man di televisi, tidak lama setelah itu pintu diketuk, aku membukanya, ternyata Dina dan Wulan. Setelah itu kita belajar bersama lagi, lalu tidur sekitar jam sebelas.
            Lomba dimulai, ternyata tempat dudukku ada di baris paling depan, bangku di sebelah kananku ditempati anak bernama Amrizal dan disebelah kiriku Albert. Albert Einsthan. Dia lalu menoleh kearahku yang kepergok membaca nama yang dipasang di ujung mejanya itu dengan tatapan seperti'hey jangan menyontek!' yee siapa juga yang nyontek, aku kan cuma mengagumi namanya yang 'keren' itu, aku lalu balik fokus mengerjakan soal. Aku membolak-balik soal dan menuliskan jawaban dasarnya di setiap lembar kertas yang berbeda, tapi ya ampun, ini kombinasi dari beberapa rumus! Aku tidak tahan lagi, aku lalu menuliskan rumus yang berhubungan dengan soal saja dan menjawab dengan asal, sampai anak yang sebelah kananku itu kaget bagaimana aku bisa selesai secepat itu. Dia lalu melirik kertas buramku yang hanya berisi keluhan dan hujatan terhadap soal, aku langsung buru-buru berpura-pura menghitung, tapi tetap saja kertas buramku yang kosong masih banyak dan Si Amrizal itu bolak-balik melirik kertas buramku dengan tatapan seperti'kalau nggak butuh kertas buramnya kasihkan ke aku aja deh.' karena kertas buramnya saat kulirik balik sangat penuh.
            Waktu lomba pun berakhir, aku sangat bersyukur sekaligus menyesal. Bersyukur karena sudah selesai dan menyesal karena 'kenapa aku kemarin belajarnya tidak sungguh-sungguh, hey kita kesini bukan unuk rekreasi!' Tapi yang sudah berlalu ya sudah, bukankah pengalaman adalah guru yang paling berharga? Kalau memang begitu harusnya besok-besok aku tidak boleh minder dulu dan harus kerja semaksimalku agar tidak menyesal.
            Setelah lomba, aku, Wulan dan Dina berpisah, tapi kami berharap entah kapan kami akan bertemu lagi. Lalu aku dijemput Bu Hani ke stasiun, lalu kami naik kereta.  Ini pertama kalinya aku naik kereta, tapi aku tidak sempat mengabadikannya seperti saat di bus, karena kereta dipadati penumpang. Aku tiba di rumah sekitar pukul sepuluh malam dan langsung tidur tanpa memikirkan bagaimana hasil pengumuman besok.

Malang, 21 April 2020


 OSP ITU GINI...

Oleh : dinaafka

Suara adzan dzuhur menggema, saatnya jam pelajaran berakhir, terlihat para murid berusaha secepat mungkin keluar kelas. Tidak seperti temannya yang lain, gadis yang duduk tepat di depan guru itu terlihat santai, tak lama ia berjalan keluar menenteng mukena bersama seorang temannya. Saat sedang dalam perjalanan, ia menghentikan langkah, terlihat beberapa orang berkerumun di depan gazebo kelasnya. Ia ingin tau apa yang sedang dibicarakan para juara di sekolahnya itu.
"Sopoan ta iki seng masuk seleksi?"
"Age talah delok en woeee, selak sholat."
"Sek sek ... loh fisika karo komputerr, yahh ... gak lolos gue gais."
Gadis itu menajamkan pendengarannya, lalu kembali melanjutkan langkah. Ia melewati mereka.
"Dina," ucap salah satu dari mereka. Dina menghentikan langkah. Ia menolehkan kepalanya, lalu menghampiri mereka.
"Selamat Din, mean lolos OSK."
Dina mengerutkan kening. Ah, bagaimana mungkin. "Apaan sih, orang aku njawab e ngawur kok."
"Loh iyooo iki delok en talah, aku oleh teko alumni." Dina mendekat, lalu membelalakan matanya.
Kok bisa sih?
Dina kembali mengingat saat pertama kali mengetahui pengumuman. Sungguh aneh, tapi namanya sudah takdir kan? kini ia tengah duduk di halaman sekolah paling favorit di Lumajang. Ia menolehkan wajahnya. Ah, orang ini adalah kenalan pertamanya.
"Wulan," celetuk Dina.
"Iya kenapa mbak?" balasnya sambil tersenyum. Sejak pertama kali melihatnya, Dina rasa anak ini ramah.
"Kamu belajar apa aja selama ini?"
"Nggak banyak kok."
Nggak banyak gimana kalo sampe juara 2 gitu, batin Dina.
"Em ... sama, malah pas OSK kemarin aku gatau jawab apa, hehe, penting rumus yang keluar tak tulis."
"Sama ih." Wulan menghentikan ucapannya. Ia mencebikkan bibir, "Eh, itu temen ku dia pakai batik, tau gitu aku pakai batik dari rumah."
"Loh, emang disuruh  bawa batik ya?"
"Iya mbak, batik bebas."
Dina terlihat terkejut. Bagaimana tidak, ia sama sekali tidak membawa baju batik bebas. Bahkan almamaternya saja bukan batik. Dia ingin menelpon ibunya, tapi sebentar lagi mereka akan segera berangkat.
Ah, mampus Dina.
Beberapa jam berlalu, Dina telah berada dalam mobil. Ia duduk bersama Wulan, kenalan pertamanya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh isi mobil, malu. Dina merasa sendirian, maklumlah dari sekolahnya hanya ada 2 orang yang lolos seleksi. Sementara ia dan teman sekolahnya berbeda mapel, jadi hari perlombaan pun berbeda.
Sepanjang perjalanan, ia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan baju batik. Bahkan setiap melihat toko baju, ia merasa dirinya ingin turun saja dari mobil. Gila bukan?
Lumajang-Surabaya itu cukup jauh, membutuhkan waktu perjalanan yang cukup lama, hampir 5 jam. Rombongannya berhenti di hotel peserta kimia terlebih dahulu, Dina merasa sedikit lega karena ia dapat melihat toko yang menjual baju batik disekitar hotel tersebut. Rombongan mereka mulai berkurang, hanya tinggal peserta fisika dan matematika saja. Samar-samar Dina mendengar pembicaraan peserta yang duduk di belakang.
"Eh eh gais, kalo misal yo, sekamar itu 3 orang. Enak candra dong?"
Siapa candra?
"Hah apaan?"
"Kan kimia ada 3 cewek. Nah kita matematika 3 cowok, kalo fisika broo, 2 cewek satu cowok, wahahaha."
Dina menggelengkan kepalanya, lalu menghembuskan nafas kasar. Mereka itu ada-ada saja, yang nyusun daftar kamar kan juga ngerti. Pinter-pinter kok.......
Selanjutnya Dina sampai di hotel tempat perlombaan fisika, tentunya bersama Wulan dan juga Candra. Para peserta lain terlihat mengantri daftar hadir. Satu hal yang membuat Dina bosan, menunggu antrian.
Dina mengedarkan pandangannya, harap-harap cemas. Ia tidak mau jika tidak sekamar dengan Wulan, ya bagaimana lagi dirinya itu sebenarnya introvert. Setelah mengisi daftar hadir, ia berjalan ke arah resepsionis, beruntunglah dirinya sekamar dengan Wulan. Kamar bernomor 625, tapi kurang satu orang. Sementara Candra, ia akan memiliki 2 teman baru nantinya.
Dina, Wulan, dan Candra melangkah menuju lift. Pertama kalinya bagi Dina mencoba menaiki lift. Ia merasa sedikit takut. Sesampainya di kamar, ia takjub. Ruangan minimalis yang didominasi warna oranye dan krem, sungguh perpaduan yang manis. Saat pertama masuk kamar hotel, ia melihat pintu kamar mandi di samping kirinya, lalu tempat untuk gantungan baju di samping kanannya. Kamar ini dilengkapi dengan 2 kasur, dilengkapi nakas minimalis. Dalam kamar ini juga tersedia televisi, lalu meja kerja di pojok kanannya. Kamar yang sangat elegan.
Tak ingin berlama-lama dalam kamar, Dina segera mengajak Wulan untuk makan siang, ia sangat lapar. Makanan yang disajikan berbagai macam, namun ia mencoba mengambil seperlunya saja. Ia mengedarkan pandangan tidak ada tempat kosong.
"Nggak ada tempat kosong lagi Lan," ucapnya.
"Ayoo, gabung sama mbak itu aja, biar nambah kenalan," balas Wulan dengan semangat.
Ah benar kan, anak ini ekstrovert.
Wulan tampak santai berbincang-bincang dengan peserta dari kota lain itu, sementara Dina hanya berbicara dan tersenyum seperlunya saja. Setelah peserta lain itu pamit, seorang perempuan tampak mengampiri mereka.
"Hai, boleh aku duduk sini."
"Iya mbak silahkan," jawab Wulan.
"Tadi aku ke kamar, kamarnya dikunci. Aku sekamar sama kalia. Kalian yang dapet kamar 625 kan?"
"Iya mbak," balas Wulan cepat.
"Eh, maaf ya, jadi tas kamu masih di luar dong?" tanya Dina.
"Hehe," balasnya sambil tersenyum.
"Yaudah abis ini kita ke kamar yaa. Nama mbak siapa?"
"Fina. Aku dari Batu."
Dina bertanya-tanya, darimana ia tau mereka yang dapet kamar 625?
*
AC tersedia, TV menyala, Wi-Fi yang koneksinya cepat, serta kasur yang nyaman, sungguh indah bukan? Wulan dan Fina tampak menikmati saat-saat bersantainya, berbeda dengan Dina, ia tampak gusar. Berulang-ulang ia mencoba tidak mengingatnya, tapi pikiran itu kenapa masih  berkeliaran juga?
"Rek aku bingung, ndak bawa baju batik."
"Samean bawa apa aja se mbak?" tanya Wulan.
"Aku bawa baju biru putih sama almet kotak-kotak. Besok lombanya pakai baju apa sih?"
"Setauku sih almamater, tapi ditulisnya seragam doang se, " jawab Fina.
"Menurutku mean pakai baju kotak pas TM, terus besok pakai biru putih."
"Nah, iya bener, atau dibalik aja."
"Emmm, tapi kalo ndak ada yang pakai baju kotak kotak pas TM gimana? malu dong akuu."
"Ya gimana lagi mbak," jawab Wulan.
"Em, TM nya jam berapa se?"
"Jam 4 Din."
"Sekarang jam 2, disekitar sini ada toko batik nggak sih?"
"Bentar tak cariin dulu mbak. Em ... bentar-bentar, eh, ada nih?"
"Seriusan?"
"Iya ada."
"Sekarang jam 2 lebih rek, nutuk nggak ya?"
"Ayo wes, pokok ndak lama," ucap Fina.
"Beneran nih mau dianterin, ojok ditinggal lohhh." Dina berbicara sambil memelas.
"Yaudah ayo mbak Din keburu TM."
“Ayo ayooo, gasss poll.”
Dina segera bangkit. Buru-buru ia memasang sendal lalu membawa dompetnya. Mereka berjalan keluar tidak terlalu jauh, sekitar 500 m dari hotel. Terlihat, kendaraan berlalu lalang, serta bangunan yang tinggi menjulang dikiri kanan mereka.
Beberapa jam setelahnya, mereka keluar daridalam mall. Terlihat Dina tengah menenteng tas plastik berisi baju batik. Beruntunglah, ia mendapatkannya dengan harga yang cukup murah.
"He, temen temen ayo foto duluu, " ucap Dina.
"Bahagia banget mbak Din."
"Iya dong kan udah dapet baju, jadi aku nggak khawatir lagi, wahaha."
"Yaudah sini tak fotoin," ucap Fina.
"Loh nggak bisa, kita harus foto bareng dongg."
"Iya kita foto bareng mbak Fin, buat kenang-kenangan."
"Hm, oke deh."
Mereka duduk dibangku yang disediakan di sisi jalan. Bahagia? jelas sekali karena mereka bisa keluar dari hotel. Surabaya itu ramai, maklumlah kota ini termasuk kota metropolitan terbesar di Indonesia. Jangan lupakan cuacanya yang sangat panas itu? sungguh itu sangat mengganggu. Setelah dirasa cukup, mereka kembali ke hotel.
"He rekkk ayooo wes jam mau jam 3, bentar lagi TM."
"Yaampun, yaudah ayo lariii."
"Larii? ayooo deh."
Mereka benar-benar berlari. Ah, tidak lebih tepatnya berjalan tergesa-gesa. Sesampainya di pintu masuk, salah satu petugas memanggil mereka.
"Mbak."
"Iya Pak,"
"TM nya diundur malam ya, jadwalnya segera menyusul."
"Baik pak terimakasih."
"Terimakasih pak."
Wulan dan Fina meneruskan langkah, sementara Dina masih diam di depan petugas tersebut.
"Maaf pak, kalau boleh tau, apakah TM nya nanti harus pakai baju batik?"
"Oh enggak mbak, seadanya saja. Pakai seragam juga gapapa."
Dina cengo, lalu menatap petugas tersebut dengan tas belanjanya secara bergantian.
Ah, sial.
*

9 April 2019. Tepat hari dimana mereka menghadapi pertempuran yang sebenarnya. Dina merasa cemas, jantungnya terpacu begitu cepat. Namun, ia berusaha terlihat santai, bahkan sempat mengajak temannya berfoto di kolam renang. Belum lagi, tadi malam ia melihat teman sekamarnya sedang sibuk mengerjakan beberapa soal, sementara dirinya hanya tiduran. Sekali lagi ia mencoba untuk terus menampakkan senyumnya, bukankah itu senjata paling mempan ?
Tiga jam dilalui Dina dengan sangat berat. Soal Fisika itu hanya ada 8-9 soal, waktu pengerjaannnya selama itu. Jangan harap ia menjawab semuanya, memikirkan satu soal saja ia lama. Duh, dasar Dina.
Setelah keluar dari tempat perlombaan, ia menatap satu-persatu peserta yang mengantri daftar hadir sama seperti dirinya kemarin. Ia melewati mereka, namun tidak menemukan teman sekolahnya. Setelah itu mereka menuju ruang makan, tidak untuk makan, hanya duduk duduk santai. Hari ini terakhir ia bersama teman-temannya.
"Temen-temen, aku pulang dulu ya" ucap Fina
"Iya mbak Fin hati hati."
"Hati-hati Fina, sampai jumpa kembali."
Mereka mengucapkan kata-kata perpisahan.  Fina pulang terlebih dahulu, berkumpul bersama teman daro kotanya. Dina berharap mereka akan dipertemukan kembali nantinya, melalui hari bersama, atau bahkan mengurus acara bersama, siapa tau mereka yang jadi panitia osn nantinya bukan?
Kini tinggalah Wulan, Candra, serta Dina. Mereka tengah membahas soal yang tadi diberikan.
"Ih, susah banget ya tadi soalnya, aneh banget, sampe ada roket roketnya," ucap Wulan.
"Iyooo soro tenan," balas Candra.
"Udah lah temen temen, sudah berlalu. Intinya udah selesai wess," balas Dina.
"Sampek ngelak maneh aku," ucap Candra.
"Gaada hubungane mas, " jawab Wulan.
Tiba-tiba Candra bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju meja. Tanpa merasa malu, ia membawa segelas teh, lalu meminumnya. Wulan membelalakkan mata, bisa bisanya dia minum, padahal mereka sudah tidak dapat jatah.
“Eh  mas candra ngawur."
"Lan, coba itu liat, ampe diliatin satpamm."
"Wow iyaa."
Candra duduk lalu meletakkan tehnya di meja, "Haus gaisss."
"Mas kamu diliatin satpam e loh. "
"Iyooo, ngawur loh candra."
"Ah masa sih. Woaa iya." Candra ngempet senyumnya, "Okeee kita ke atas aja yuk, udah ditungguin mom."
"Okey,"
"Bilang aja pelarian, biar nggak diancem satpam nya,"
Mereka lalu tertawa bersama.
(kyaa aku gatau apa itu ngempet, udah malem gais jadi maless :v)
Mereka memasuki lift. Dina teringat, sebelum pelaksanaan OSP, ia naik lift sendirian, hendak mengambil barang bawaan. Dina memencet tombol ke lantai 6, namun sampai di lantai 2 lift berhenti, lalu orang tersebut memencet angka 4. Lift berdenting, mereka sampai. Setelah itu seseorang kembali masuk, tanpa Dina sadari ia memencet angka 1. Okey, gapapa Dina sabar. Setelah itu Dina kembali memencet angka 6, beruntunglah lify tidak berhenti lagi. Sungguh menyebalkan sekali, karena membuat kepala Dina jadi pusing :v.
Saatnya pulang. Rombongan dari Lumajang telah terkumpul dalam mobil. Tidak ada yang membuka suara, mereka terlihat lelah.
Dina menatap ke samping kanannya, pohon pohon terlihat seperti bergerak, padahal mereka diam. Jika orang lain yang melihat dari bawah, mereka akan memberi pernyataan orang dalam mobil itu bergerak karena mobilnya pun juga bergerak. Gerak relatif, bahkan hidup itu relatif, tergantung bagaimana kita memandangnya.
Dina tidak ingin menyalahkan hari ini. Hari dimana ia hampir tidak bisa menjawab soal fisika. Sebenernya ia ingin menyalahkan dirinya, namun disisi lain ia ingat betapa susahnya meluangkan waktu untuk belajar, sementara tugas sekolahnya terus mengejar.
Siapa yang salah? Relatif.
Tidak ada gunanya menyesal. Lebih baik memulai hari dengan lebih baik lagi. Serta mensyukuri apa yang telah terjadi.
Dina sangat berterimakasih kepada sekolahnya, telah mempercayai dirinya ikut OSK, lalu OSP. Terimakasih juga kepada Wulan yang mau menyapanya, saat saat pertama pengambilan juara, tak lupa kepada temannya yang lain Fina. Dina akan sangat berterimakasih pada mereka karena telah mengisi hari harinya meskipun hanya dua hari saja.
Sampai bertemu dan semoga sukses :)

Ditulis  21 April  2020 pukul 22.03 hingga  22 April 2020 pukul  01.07


Jadi, Kapan?
Dari Wulan untuk Mbak Fina dan Mbak Dina
8 April 2019.
Guruku bilang, aku dan beberapa temanku harus sampai SMAN 2 Lumajang dengan tepat waktu. Itu sudah kulakukan, sama halnya dengan temanku yang lain yaitu Anita dan Fajrin. Ternyata tepat waktu adalah hal yang cukup sulit. Dijadwalkan pukul 5.30 tepat kita akan berangkat. Ternyata, pukul 6.00 kita masih diam di tempat.
Sekitar pukul 6.30, kita semua naik mobil. Ah iya, kita yang aku maksud adalah para juara Olimpiade Sains tingkat kabupaten. Ada 3 perwakilan dari bidang Fisika dan Matematika, juga 4 perwakilan dari bidang Kimia. Dan aku, Wulan Anggraini, juara 2 Olimpiade Sains bidang Fisika tingkat Kabupaten Lumajang. Sepuluh murid ini akan melakukan seleksi tingkat lanjut di Surabaya. Setelah mendengar sedikit drama dari temanku, Candra, karena ternyata ia tidak membawa seragam putih abu-abu. Padahal, saat itu aku juga tidak membawa seragam putih abu-abu. But I like nothing happened.
Aku duduk dengan Dina, dia dari bidang fisika dan meraih juara tiga. Dina seseorang yang hamble, manis dan sangat kondisional. Sepanjang perjalanan, kami bercerita tentang karakter masing-masing, tentang dia yang tak suka ini, aku yang menyukai itu, bertanya itu apa, menjawab itu adalah, atau lain sebagainya. Karena perakapan yang mengalir apa adanya itu, jalan tol yang cukup Panjang dapat terkikis waktu membosankan itu. Kita sampai di Probolinggo, sarapan soto dulu, hehe.
Setelah menghabiskan satu mangkok soto, kami kembali melanjutkan perjalanan. Ah iya, sebenarnya aku tidak menghabiskan satu mangkok sotoku. Aku mempunyai kebiasaan yang sedikit berbeda dengan lainnya. Aku tidak bisa, eh bukan, bukan tidak bisa, tetapi tidak terlalu cepat ketika makan apabila dalam satu mangkuk atau pirinng dicampurkan antara nasi dan kuah, entah itu kuah soto, sop atau rawon. Kebiasaanku ketika memakan sesuatu yang berkuah adalah memisahkannya. Yah, karena soto itu dipesankan oleh guru pembimbing, jadi aku tak berani menyampaikan, “maaf, kuah dan nasiku dipisah saja ya.”
Sekeliling mataku hanya memandang jalanan tol yang terlihat sangat panas. Sesekali ditemani oleh obrolan oleh guru pendamping di sebelah kiriku. Dina terlihat memperhatikan jalan, dan sedikit menghitung ada berapa pohon di sana, ah tidak, aku bercanda. Banyak yang sudah memejamkan mata. Benar, membunuh waktu paling ampuh adalah dengan tidur.
Surabaya.
Mataku banyak melihat tulisan kota besar itu. Banyak banner-banner besar yang menampilkan beberapa iklan gawai, rokok, dan tulisan untuk selalu mematuhi peraturan jalan raya. Mataku terus terbuka, berbinar ketika mengamati satu per satu kesibukan di ibukota Jawa Timur. Mobil terarah pada salah satu hotel untuk peserta OSN Kimia. Mobil berhenti, dan saat itu tubuhku seperti disengat panasnya matahari. Sangat panas, dan sangat-sangat panas. Aku keluar dari mobil dan mencoba mencari angin yang dapat menyelamatkanku.
Aku menghembuskan napasnya ketika mobil kembali melaju, menuju penginapan OSN Fisika. Cukup berdebar, karena ini kali pertama aku berdiri sendiri di Surabaya tanpa orang tuaku. Aku, Dina, dan Candra keluar dari mobil. Sedikit bergetar, karena terlalu lama duduk. Kami berjalan menuju antrian registrasi. Tanda tangan, menerima sertifikat, dan menerima id-card. Guru pembimbing menemani kami menutuju lobi hotel untuk meminta kunci kamar.
625.
Itu tulisan pintu kamar tempatku dan Dina tidur. Sedangkan Candra, ia tidur di kamar sebelah. Dina membukapintu itu untuk pertama kali. Kami merotasikan mata. Melihat suasana kamar yang benar-benar akan kami tinggali untuk sehari.
“Keren,” aku mengangguk, menyetujui pernyataan Dina. Dina meletakkan tasnya di bawah televisi. Sama denganku, aku juga melakukan hal yang sama. Aku meletakkan kaos kakiku di lantai. Terkapar begitu saja.
“Ayo makan.”
Aku mengangguk. Aku harus makan. Candra mengirimku pesan agar turun bersama. Aku, Dina dan Candra menaiki sebuah lift, dan kami bercerita di sana.
Sangat ramai, first impression. Aku mengingatkan diriku lagi, tempat ini adalah seleksi tahap lanjut untuk menuju nasional. Jelas saja ramai, karena kita dikumpulkan dari berbagai kota.
Dina membimbingku menuju tempat piring, ia mengajakku untuk makan ayam dan beberapa jenis gorengan lainnya. Aku menolak, aku sedang tak ingin makan itu. Aku tipe orang yang sangat rumahan parah. Ketika aku keluar jauh dari orang tua, tentu badanku akan merespon dengan tidak nyaman, seperti saat ini, badanku agak demam.
“Permisi, kalian dari Lumajang?”
Itu suara yang asing. Khas medhog dari daerah lain.
“Aku Fina, dari Batu.”
Aku mengangguk, mempersilahkannya untuk duduk di seblahku. Dina memberikan lambaian tangannya dan berkenalan.
“Wulan, dari Lumajang juga,” sahutku.
Fina berdiri lagi untuk mengambil jatah makannya. Kita makan dengan sedikit mengobrol tentang daerah masing-masing.
“Lumajang itu mana sih?”
Aku sedikit tertegun. Aku juga tidak mengerti kenapa Lumajang tidak diketahui oleh temanku yang satu ini. Tapi sebenarnya, aku juga bukan masyarakat Lumajang. Aku Jember’s people.
“Kamu tahu Gunung Semeru?”
Fina mengangguk, “Tau!”
Dina mengangkat jempolnya, “Itu Lumajang!”
Fina membinarkan matanya. Walaupun dari tatapan matanya, ia tidak tahu seluas apa Lumajang. Tapi ia terlihat menghargai kami, peserta Lumajang.
“Aku sama Dina shalat dulu, Wulan tunggu sini ya.”
Aku mengangguk. Aku tidak shalat saat itu, alhasil aku menjadi tempat penitipan gawai.
Pukul 16.00 kita harus segera menuju aula, untuk melakukan rapat.
“Aku ndak bawa baju batik,” Dina mengeluarkan cengirannya. Ia menunjukku dan Fina secara bergantian.
“Kita boleh keluar kok, ayo cari baju batik.”
Fina menyanggupi, aku? Tentu aku mau! Syarat dari setiap peserta adalah memakai idcard. Kita sih santai aja ya, walau pakai id-card masuk Surabaya Plaza, kita masih bisa berkeiling. Mencari spot-spot foto yang dapat kita curi-curi.
Dina sudah mendapatkan batiknya. Dan kami harus segera menuju hotel untuk mandi. Karena tiak mungkin kita terlambat menuju aula untuk perbekalan.
“Rapatnya ndak jadi sekarang Dik, nanti setelah makan malam.”
Kami mengangguk, sia-sia ternyata mandi sore.
Kami kembali dengan wajah yang cerah. Berdiri di atas Kasur dan bersiap untuk berpose. Kami berfoto banyak sekali, dengan berbagai gaya. Kalau mau, nanti aku tunjukkan!
Setelah makan malam, kami menuju aula, mendengarkan setiap pertanyaan dari para peserta dan jawaban dari panitia. Setelah kegiatan itu selesai, kami kembali menuju kamar.
Tapi tidak untuk peserta Lumajang dan beberapa peserta yang mendapat kendala administrasi, tapi tenang, ternyata bisa diatasi dan kami mendapatkan amplop. Yey!
Dina menyurhku untuk tidur, agar kami bisa belajar pukul tiga. Fina tidur sendirian di bawah, dan aku tidur dengan Dina.
9 April 2019
“Ayo, ini terakhir.”
Itu suara dari kita semua, untuk pose yang terakhir kali.
Sebelum memasuki ruang eksekusi, kami menguatkan satu sama lain.
Ah iya, sebelum itu, kami sudah mebereskan barang-barang dari mengembalikan kuncinya. Barang sudah kutitipkan pada kamar guru pembimbing.
Aku duduk belakang sendiri. Dengan keringat dingin yang keluar, aku menyelesaikannya. Dan ya, aku merutuki jawabanku!
Kami bertemu sebentar di depan lobi. Saling bertatapan jika, “kita bertemu kembali, pasti!”
Dan itu kalimat terakhir, aku dan Dina terpisah dari Fina. Kami kembali, dengan angan-angan akan bertemu kembali.
Dan ya, untuk Dina dan Fina, terima kasih. Kalian adalah salah satu bukti, jika persahabatan bukan seberapa lama kita bertemu, tapi seberapa nyaman kita bersatu.
Luvyu:-)
Jadi, kapan kita ketemu, Mbak Fin, Mbak Din?

Komentar

  1. Lebih kayak kumcer nggak sih daripada cerpen, tapi biarin wes :p.

    BalasHapus
  2. Disendiriin keknya better deh. Trus ntar dikasi tautan gitu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"