Cerpen 7

Dimana Ikan-ikan?
Oleh: Fin
Siang itu, aku menenteng ember yang berisi ikan hasil tangkapanku dan Bapa. Tadi, selepas memancing, Bapa menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu, ada urusan katanya. Seperti biasa, tanah yang telah diubah menjadi aspal menyerap terik panas matahari berkali-kali lipat, membuat kakiku yang tidak menggunakan alas kaki berjinjit menahan panas. Aku mempercepat langkahku agar segera sampai dirumah.
“Oi…Aldric kata orang-orang di desa atas ada perang, nonton yuk!”  Teriak anak berambut ikal dan berkulit gelap.
“Maaf Roy, ini Mama sudah menunggu ikan ini untuk dimasak, Ko ajak yang lain saja ya.” Jawabku.
“Oke lah, aku lihat sama teman-teman yang lain saja.” Roy melambaikan tangannya lalu pergi.
Saat tiba di rumah, anjingku yang bernama Jack menyambut kedatanganku, dan membuat Mama keluar dari dapur.
“Lho Bapa kemana?” Tanya Mama saat menerima ember berisi ikan.
“Tadi katanya ada urusan.”
“O, eh kok hasil tangkapannya jadi lebih sedikit dari kemarin?” Mama yang menyadari menyusutnya hasil tangkapan ikan protes.
“Ya wajarlah, tanah sisa kerukan tambang itu mau dibuang kemana lagi kalau bukan ke sungai?” Kakek yang sedari tadi duduk di log kayu mulai angkat bicara.
“Apa hubungannya Kek, tanah sisa kerukan tambang dengan hasil tangkapan?”
“Ko ini sekolah jauh-jauh kok tidak ada hasilnya, kan kalau tanah itu dibuang di sungai, sungainya jadi dangkal, terus kalau sungainya dangkal ikannya nggak bisa hidup dong.” Aku menggaruk belakang telingaku yang tidak gatal, mencoba mencerna perkataan Kakek.
“O begitu, kukira limbah kimia pertambangan itu yang membuat ikan banyak yang mati.” Jawabku.
“Ah sudahlah, intinya pertambangan itu tidak menguntungkan sama seka..." Perkataan Kakek terpotong saat Jack menggonggong melihat kedatangan Bapa yang dibopong oleh orang-orang dengan keadaan penuh luka.
"Ada apa ini?" Kakek membantu Bapa duduk di kursi ruang tamu.
"Tadi saat kami menyerang tambang, dan ternyata tambang tersebut telah dijaga oleh tentara bayaran, Bapa ini mencoba menghentikan kami, namun keparat-keparat itu malah menyerangnya." Jelas orang dengan rahang besar dan alis tebal yang mirip ulat bulu.
"Kaki kirinya menjadi sasaran tembak, karna Bapa ini tadi berada paling depan, dan mungkin dikira otak dari penyerangan tersebut." Orang krempeng berwajah panjang ganti menjelaskan.
"Sudahlah tidak papa, tidak usah dipermasalahkan lagi, to cuma kaki kiri." Bapa meringis menahan sakit.
"Terimakasih kalian sudah mengantarnya pulang, sebaiknya sekarang kalian melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing." Mama mengusir mereka secara halus.
    Setelah mereka pulang, Mama membersihkan luka Bapa dan melumurinya dengan tumbukan rumput balam. Untung saja pelurunya tidak bersarang di kaki Bapa, karena hanya menyerempet saja. Sementara itu, Kakek menatap Bapa dengan kesal.
"Kenapa Ko tetap saja membela mereka? Memangnya Ko diberi apa, he?" Tanya Kakek.
"Sudalah Pa."
"Aldric, Ko nanti kalau sudah besar jangan seperti ko pu bapa yang bodo ni, tambang tu sudah jelas- jelas merugikan kita, emas kita diambil dan diolah bangsa lain, yang nanti jika sudah jadi dibeli bangsa kita sendiri." Wajah Kakek merah padam.
"Tapi Kek, Sa dengar sekarang separuh sahamnya sekarang sudah milik bangsa ini." Kataku.
"Dasar, mereka mau menjual separuh saham itu, karena emas kita sudah hampir habis dan mereka tidak mau rugi." Bukannya reda, amarah Kakek semakin menjadi-jadi. Aku hanya bisa meremas bagian samping celanaku dengan perasaan kesal dan bingung yang bercampur aduk.
"Pa sudah, nanti tekanan darah Bapa naik lagi lo!" Kata Mama menenangkan.
    Setelah amarah Kakek reda, aku pergi ke hutan di belakang desa. Biasanya aku kesini disuruh Mama untuk mencari tumbuhan kecil berdaun lebar yang aku sendiri tidak tahu apa nama dan manfaat tumbuhan itu. Sesampainya disana aku duduk di cabang pohon sambil menatap langit yang tertutup sebagian oleh kanopi.
"Kenapa begini? Apa dari dulu memang sudah begini? " Pikirku.
"Kenapa ada yang tidak percaya pemerintah? Apa memang benar kalau pemerintah hanya ingin menguras bahan tambang yang ada disini? Tapi kalau memang benar memangnya tindakan tersebut bisa disalahkan?  Seingatku di sekolah pernah diajarkan kalau kekayaan sumber daya alam itu milik negara dan dimanfaatkan untuk semua warganya, jadi apa salahnya? " Huwaa semakin aku memikirkannya kepalaku serasa ingin meledak, tapi aku tahu ini cuma kesalahpahaman saja.
    Aku lalu kembali memandang langit biru yang dihiasi awan dengan warna yang berbeda dengannya, namun membuat langit tersebut lebih indah. Seharusnya kita seperti itu, pikirku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"