Resensi Buku "Prahara"

 

Oleh: Fin


Buku kali ini merupakan salah satu souvenir pernikahan teman kakak saya (orang yang merekomendasikan bacaan karya Luis Sepulveda) sekaligus penerjemah buku ini. Saat pertama kali membuka buku ini saya langsung suka dengan desain sampulnya yang diberi tambahan panjang ±6 cm yang ditekuk (pada sampul depan dan belakang) sehingga meminimalisir pinggiran sampul rusak atau nglentek.

1 Identitas

Judul: Prahara

Penulis: William Shakespeare

Penerjemah: Dyah Monika Sari

Jumlah Halaman: ±120 halaman

Ukuran: 12,1 x 18,6 cm

Penerbit: L’Avenir

Tahun Terbit: 2022

2 Sinopsis

Cerita diawali dengan kondisi dalam kapal yang hampir karam karena ditimpa badai, di mana penumpang kapal tersebut merupakan orang-orang penting seperti Raja dan putranya, penasehat, Adipati Milan, dan lain-lain. Berlanjut ke latar pulau terpencil di mana Prospero dan Miranda, putrinya yang berusia 15 tahun tinggal. Dari sini kita tahu bahwa Prospero dulunya adalah Adipati Milan, yang karena minat belajarnya tinggi akhirnya diberontak oleh saudaranya yang haus akan kedudukan, di mana saudaranya tersebut merupakan salah satu penmpang dari kapal yang diobrak-abrik oleh peri Ariel, utusan Prospero. Para penumpang kapal tersebut didamparkan Ariel pada pulau terpencil tempat Prospero tinggal dalam keadaan yang terpisah. Melalui Ariel, Prospero pun memberikan ujian dan bantuan sesuai dengan perangai masing-masing. Akankah mereka akhirnya dapat mengetahui kebenaran tentang Prospero dan sadar akan kesalahannya?

3 Kepengarangan

William Shakespeare (1564-1616) merupakan salah satu sastrawan terbesar di Inggris. Ia menulis ±38 sandiwara tragedi, komedi dan sejarah serta 154 sonata, 2 puisi naratif dan puisi-puisi lainnya mulai tahun 1585-1613. Karyanya diterjemahkan hampir dalam semua bahasa dan dipentaskan pemain sandiwara lain di panggung. Prahara merupakan terjemahan dari The Tempest, sandiwara roman-komedi yang ditulis sekitar tahun 1610-1611 yang awalnya tidak begitu diminati, namun pada abad ke-20 karya ini mendapat pujian dari kritikus dan para ahli sastra.

4 Kelebihan

            Saat membaca buku ini rasanya saya seperti menonton langsung teater yang ditulis oleh Pak Shakespeare. Penokohannya sangat jelas baik dari dialog ataupun cerita di masa lalunya. Latar yang digunakan mengingatkan saya akan film Pirates of the Carribean yang keempat, di mana awalnya saya pikir Prospero mirip dengan Blackbeard karena dapat menggunakan “sihir”, namun ternyata berbeda karena sihir Prospero merupakan bantuan dari Ariel dan peri lainnya serta watak kedua orang tersebut berbeda (Prospero orang yang baik menurut saya). Walaupun tema yang diangkat cukup umum (perebutan pangkat), namun banyak amanat yang terdapat pada buku ini. Salah satu kutipan favorit saya yakni: “Aku seorrang manusia yang retak, kini aku yang retak itu terang-benderang,” .

5 Kekurangan

            Sebenarnya saya bingung mencari kekurangan dalam buku ini. Mungkin dari gaya bahasanya, di mana pada dialog pun tidak menggunakan bahasa sehari-hari, namun sepertinya itu wajar untuk dialog sandiwara, apalagi yang bertema kerajaan. Selain itu, pada Babak 1 Adegan 2 dialog Miranda menurut saya seperti dipaksakan ada untuk menanggapi cerita ayahnya, padahal jika tanpa tanggapan “Iya” pun (cerita Prospero terus berlanjut) akan lebih baik.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"