Cerpen 19
Kuliah Luring
Oleh: Fin
26 Oktober 2021
"Buku, alat tulis, tissue, masker cadangan, handsanitizer, dompet, jas hujan... Oh kurang charge handphone! " Aku mengecek kembali isi tasku untuk kuliah luring sore ini.
"Cepet Fin! Kasihan pak ojolnya. " Teriak Ibu dari dapur.
"Yaa... Assalamualaikum." Aku segera keluar rumah setelah salim.
"Atas nama ALU? " Tanya Laki-laki dengan jaket hitam-hijau itu.
"Iya Pak." Aku menerima helm yang disodorkan pak ojol. "Maaf Pak saya pakai kaos tangan. " Lanjutku. Sebenarnya aku menggunakan kaos tangan ini karena takut wudhuku batal, dimana jam kuliah mepet dengan waktu sholat ashar.
"Oalah saya kira tadi nama cowok... Iya Mbak nggak papa, ini mau ke gerbang UM yang di jalan Veteran ya Mbak? "
"Iya Pak, sudah mulai kuliah luring mulai kemarin sebenarnya. " Sepeda motor pun berjalan dengan pelan, mungkin pak ojol teringat anaknya yang katanya juga semester tiga, sehingga sangat hati-hati saat berkendara.
"Terimakasih Pak. " Aku mengembalikan helm sambil membayar setelah sepeda motor berhenti di depan gerbang yang tertutup untuk kendaraan, namun bisa dilewati pejalan kaki.
"Jangan lupa bintang lima-nya Mbak! " Kata pak ojol setengah berteriak padaku yang berjalan dengan cepat, takut terlambat. Tapi sesampainya di depan fakultas, hanya ada tiga anak yang ada di sana, dan tidak ada yang kukenal. Lalu aku menuju tempat duduk dari semen yang ada di depan salah satu kelas jurusan pendidikan IPA, sambil mulai mengirim pesan lewat whatsapp untuk menanyakan lokasi teman-teman yang lain. Karena gabut, akhirnya aku membuat status berisi video lokasiku sekarang yang banyak ditumbuhi pohon-pohon yang sejuk, rindang sekaligus seram. Beberapa saat kemudian, dua anak yang sepertinya selesai kuliah duduk di depan kelas sebelah.
"Dimana itu Fin? " Ada yang mengomentari statusku.
"Gedung pendidikan IPA. " Balasku cepat.
"Cting! "
"Cting? Notifikasi? " Batinku, aku segera menoleh ke sumber suara. "Loh!!! Hoalah pantesan view status e hampir mirip... " Aku refleks menunjuk mereka berdua. Kalau tidak salah menebak, dua anak tadi adalah Ariko dan Al Barra. "Yokpo yokpo, wes sholat aa? " Tanyaku antusias. Aku pun bingung dengan pertanyaanku, padahal yang mau kutanyakan,' apakah mereka sudah ke kelas dan melihat-lihat?'.
"Hmm iku... " Ariko menyikut-nyikut Al Barra.
"Eh sori sori, maksudku arek iku, Al Barra! " (Berdosa sekali saia:")
"Hah? Apa Mbak? " Sepertinya anak ini menggunakan headset! Aku pun kembali ke tempat dudukku. Sementara mereka berdua menyesali teman cowok lainnya yang tidak bisa hadir karena masih harus karantina 1 minggu sebelum kuliah luring.
"Fin, ndek mana? " Chat Febri dan Sufi, tapi masih belum kubuka karena masih menunggu Aini yang katanya sudah sampai di tugu depan tulisan FMIPA.
"Fin, cepet kesini! " Chat Candra.
"Eh, arek-arek lho wes ndek kelas, ayo wes nang kelas! " Ajakku pada mereka berdua. Kami pun menuju gedung Fisika. Baru enam langkah, aku berpapasan dengan anak berjilbab hitam dan kebetulan Fida dan Candra menelpon karena khawatir aku telat, otomatis nada dering telponku berbunyi keras. "Woww! It's Poororooo! Hi Pororo! Hello friends... " Anak di depanku itu langsung menoleh sambil tertawa.
"Bener Fina kan? " Tebaknya.
"Aini mosok? Ya Allah... Ayowes nang kelas. " Akhirnya kami berempat pun menuju kelas 218. Dari balik kaca yang dipasang ditengah-tengah pintu kayu, terlihat dua anak yang kutebak adalah Sufi dan Tiara, dari posisi duduknya sepertinya mereka sudah lama sampai di kelas ini.
"Eh yokpo iki mbuka e... " Aini bingung mengapa usahanya mendorong pintu kelas gagal. Akhirnya Ariko pun berhasil membuka dengan sekali tarikan. Lalu kami pun masuk kelas dan memilih diantara banyak bangku yang masih kosong.
"Bapak e lho durung datang, padahal wes jam 15.02."
"Eh... Jare Fida ndek kalas 219." Aku membaca ulang chat whatsapp.
"Loh, tapi di jadwal SIAKAD ruang 218 ii... "
"Tapi tapi Candra ngirim foto e Bapak e ndek ruang 219." Lanjutku sambil menatap lekat handphoneku barangkali ada info lainnya yang terpendam.
"Ayo pindah! " Sufi melotot kaget. Kami langsung berdiri, bersiap pindah kelas.
Sesampainya di ruang 219, ternyata sudah ada 6 anak dan Pak Dosen disana, dan sayangnya bangku belakang hampir terisi penuh dengan jarak antar anak yakni 2 kursi. Akhirnya aku memilih bangku kedua dari belakang. Pelajaran pun dimulai, bagi yang kuliah daring dapat melihat penjelasan dari share screen dan papan tulis(walaupun tidak terlalu jelas). Beberapa saat kemudian, Fikri datang dan menuju bangku pojok belakang setelah salam jauh dengan Pak Dosen. Pembelajaran berlanjut lagi, sambil Pak Dosen berkeliling, sesekali bertanya apa yang tidak dipahami atau sekedar mengecek perkembangan hasil pengerjaan tugas kami.
"Karena pembelajaran luring maksimal 2x50 menit, maka kita akhiri untuk kuliah hari ini... " Tepat setelah Pak Dosen mengatakan hal tersebut, alarm harianku berdering, Sufi segera menoleh ke arahku dan kumatikan dengan cepat. "... Kita tutup dengan doa kafaratul majelis. " Lanjut Pak Dosen. Setelah itu kami disilakan meninggalkan ruangan. Aku jadi yang pertama meninggalkan ruangan setelah ingat kalau tadi aku belum sholat. Aku menuju mushola dan membeber sajadah yang kubawa dari rumah.
"Fin... Ini mushola yang buat cowok. "
"Oh sori... " Aku segera keluar, berpindah ke mushola sebelah, ternyata teman-teman juga ada yang masih belum sholat, mungkin karena sama sepertiku yang masih bingung dengan pembagian waktu yang tepat agar tidak bertabrakan dengan kuliah. Setelah sholat, kami berbincang-bincang sebentar dan akhirnya keluar gedung karena sepertinya akan dikunci.
"Waa, pingin daring ae aku, lha arek-arek tibake dukur-dukur... " Velyne merujuk.
"Iyo i. " Tambah Sufi.
"Opomaneh Mbak Pina, ayowes koncoan ambek aku ae Mbak Sup, ojok dibolo iku... "
"Hee kok isone ikulo. " Aku tertawa.
"Wes gerimis, ati-ati pulang e. " Kata Ema. Kami pun berpisah di pertigaan.
"Eh sek tah... Kene nggak foto tah? REK NGGAK PINGIN FOTO TAH? " Tanya Velyne.
"Ayokk! " Nananda langsung berbalik arah begitu mendengar ajakan tersebut. Setelah berfoto, akhirnya kami pulang ke rumah atau kos masing-masing karena UH Fisika Matematika sudah menanti:)) .
Malang, 29 Oktober 2021
Komentar
Posting Komentar