(not) Lucid Dream
Oleh: Fin
Aku tidak tahu aku ada di dalam raga siapa. Rasanya aku tiba-tiba terlempar kesini dan kepalaku terisi macam-macam info umum tentang tempat ini. Ada komputer bersusun yang terhubung dengan kabel-kabel, mesin-mesin berdesain kecil yang dipasang di etalase, dan lain-lain.
"Waktu pengerjaan misi hanya 24 menit, selama itu CCTV akan saya matikan." Kata laki-laki berkacamata bulat yang sepertinya adalah pemilik tempat ini.
"Siap." Jawab kami dengan posisi siap. Aku sendiri tidak tahu ini misi apa? Terus kenapa aku bilang siap?
"Ya, mulai!" Setelah mengucapkan itu, orang itu hilang, berteleportasi. Sehingga di ruangan ini haya tinggal 13 orang, termasuk aku.
Aku hanya mengekori orang yang ada di depanku.
"Kuncinya macet!" Seru orang yang paling depan. Lalu, laki-laki yang berada di keempat dari belakang menerobos ke depan dengan wadah air transparan di punggungnya dan selang bertekanan tinggi di tangannya. Kami memberikan jalan. Orang itu lalu mengarahkan selang ke gembok, dan ajaibnya gembok tersebut langsung putus(bukan ajaib sih, memang air bisa digunakan untuk memotong, kalau tekanan dan kecepatannya tinggi). Kami lalu melanjutkan perjalanan, saat menaiki tangga aku baru sadar.
"Loh, ini nanti ke tempat yang tinggi?" Tanyaku ke orang yang ada dibelakangku.
"Maksud kamu? Kan kita emang tujuannya ke atas sana." Orang dibelakangku itu menunjuk menara mirip Masjid Samarra dengan tinggi sekitar 33 meter. Aku langsung mundur teratur, karena aku takut ketinggian. Menurut kode etik, bagi yang tidak bisa melanjutkan langsung ditinggal. Di bawah sana, ada tiga orang yang tidak melanjutkan, aku mengikuti mereka. Toh, aku juga tidak tahu kan, ini misi apa?
Aku mengikuti mereka menuju taman, eh bukan-bukan, tapi halaman, yang ada di bawah menara. Ternyata aku mengenal dua diantara mereka, yaitu Meri dan Nana, kakak kelasku waktu MAN.
"Aku nggak suka aslinya, dimasukkan grup chat tiba-tiba, mendingan langsung PC." Nana menunjukkan grup yang isinya ada nomorku juga, sepertinya ini grup untuk misi tadi...
"Keluar aja Mbak, toh itu juga tinggal 12 anggotanya." Usulku.
"Nggak papa wes Fin..." Jawaban Nana membuatku sadar, jika aku sekarang sedang berada di dalam tubuhku sendiri.
"Fin, ini gimana ya, kalau gini." Meri menunjukkan sketsa jantung dan pembuluh darah disekitarnya. "Butuh tekanan berapa kalo disini, terus kecepatannya berapa?" Lanjutnya.
"Sebentar Mbak..." Aku mendongak menatap langit yang bersih tanpa polusi cahaya(biar kujelaskan, jadi memang pada saat ini ada peraturan agar saat malam semua lampu jalan dimatikan, apalagi sekarang jalan memang sudah tidak dibutuhkan karena sudah ada alat teleportasi yang lebih efisien dan tidak ada pemborosan ruang), mencari jawaban di antara bintang-bintang dan beberapa awan cumulus yang tergantung disana. Tiba-tiba ada cahaya biru berbentuk bintang segilima besar tapi bukan kembang api, yang dilontarkan dengan tinggi sampai hampir setinggi menara. Aku menoleh ke arah sang pelontar, laki-laki itu baru selesai menyelesaikan gerakan akhir setelah melontarkan cahaya. Aku sedikit kagum, karena aku sendiri belum bisa menghasilkan karya seperti itu(zaman ini tidak ada penjual alat-alat atau mesin, bagi yang ingin memiliki harus belajar sendiri untuk membuatnya), tapi laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arah kami, aku langsung kembali tersadar untuk mengerjakan soal dari Meri.
"Itu model pertama." Kata laki-laki itu.
"Ha?" Aku mendongak bingung, laki-laki yang sepertinya sepantaran denganku itu meminta pensil yang ada di tanganku, aku lalu menyerahkannya.
"Ini kalau disederhanakan jadi gini, kalau sudah gini gampang kan? Ketahuan langsung." Laki-laki itu mencoret-coret sketsa Meri.
"Oh iya ya... Ahli banget." Puji Meri, aku jadi terlihat sangat bodoh, padahal ini juga gampang kenapa aku tadi nggak nemu sih?!
"Soalnya kalo nggak ahli nanti impianku nggak tercapai hehe... Apa impian kalian?" Tanya laki-laki itu pada kami, entah kenapa walaupun dia bertanya dengan menggunakan kata 'kalian', tapi rasanya dia hanya bertanya padaku.
"Nggak tahu..." Jawabku akhirnya. Aslinya aku mau menjawab 'Ingin bertemu Allah.' tapi nanti dikira sok agamis, lalu ada ide lain 'Ingin melihat langit bersih, merasakan suasana seperti sekarang yang indah.' tapi impian itu kan yang belum terjadi...
"Every day, i hope to see someone again..." Katanya dengan nada sendu. Aku tersenyum simpatik walaupun tidak tahu siapa yang dimaksud.
Ciit... Cahaya berwarna ungu terlontarkan di langit, bertuliskan tanggal sekarang. Sabtu, 25 Mei 2024. Tanda bahwa misi telah selesai. Aku dan tiga orang lain yang ada di grup itu segera mencari lingkaran teleportasi terdekat dan menempatkan diri didalamnya. Aku mengangguk ke laki-laki itu, sebagai ucapan selamat tinggal. Cahaya putih keluar dari tepi lingkaran menyelimuti apa yang ada di dalamnya.
"See you..." Dari dalam lingkaran aku melihat laki-laki tadi tersenyum. Eh, kenapa aku seperti mengenalnya, tapi siapa? Aku menjulurkan leherku berharap masih bisa melihat siapa laki-laki itu, tapi cahaya putih keburu menutupi, dan Lhab! Aku sudah ada di tempat awal tadi bersama anggota grup lainnya.
"Fin, Fin!" Panggil seseorang, tapi saat aku menoleh, tidak ada yang memanggil. Tiba-tiba aku seperti tertarik ke atas dengan cepat. Saat aku membuka mata, aku berada di sofa, ketiduran.
"Fin, solasi e ndek endi?" Tanya Ibuku. Aku yang masih bingung, hanya menunjukkan letak solatip tanpa mengambilkannya. Aku lalu melihat handphone yang ada di meja sebelah sofa. Rabu, 9 September 2020. "What a beautiful dream. Iku mau sopo..." Batinku.
Komentar
Posting Komentar