Cerpen 11

Senja
Oleh: Fin
   Matahari mulai condong ke barat. Setelah berdoa bersama dan mengucap salam kepada guru yang ada di depan, siswa-siswi kelas enam segera keluar dari kelas. Beberapa anak langsung menuju jalan raya untuk mencegat angkot, ada juga yang pergi ke perpustakaan sekolah untuk menghabiskan waktu menunggu jemputan dengan membaca buku atau sekedar ngobrol dengan teman-temannya.
"Nur, sini!" Panggil perempuan ceking, tegas dan rikat yang kerap dipanggil dengan nama Bu Wiji.
"Iya Bu, ada apa ya?" Siswi jangkung dengan rok plisket merah yang sudah cingkrang dan memakai kerudung bertali di belakang kepalanya itu mendekat.
"Ini lho, kan ada try out di SDN 08, pendaftaran try out nya mulai dibuka hari ini, ini ada sepuluh anak yang Bu Wiji daftarkan termasuk kamu sama Oliv, tolong kalian pergi kesana menyerahkan file-file yang dibutuhkan." Kata Bu Wiji sambil menepuk pundak Nur dan Oliv.
"Baik Bu." Ucap mereka bersamaan. Sebenarnya Nur tidak keberatan, apalagi rumahnya memang dekat(dari SDN 01 ini, maupun dari SDN 08), hanya saja, kenapa teman seperjalanannya malah rivalnya???
   Sepanjang perjalanan, mereka hanya berbicara sekadarnya saja hingga sampai di tempat yang dituju, SDN 08. Tidak seperti di sekolah mereka yang sudah sepi, disana masih banyak aktivitas seperti drum band, pramuka, bela diri dan tentunya ramai pendaftar dari sekolah lain. Nur dan Oliv lalu menuju ke tempat pendaftaran dan menyerahkan berkas, lalu? Selesai. Setelah itu mereka keluar dari tempat itu. Nur sudah bosan dengan kecanggungan dan keheningan yang berlangsung lama ini. Akhirnya ia menunjukkan jalan tikus kepada Oliv, maklum Oliv baru pindah ke desa ini, jadi ia tidak tahu, eh maksudnya kurang tahu letak tempat(dapat dibuktikan saat upacara HUT RI, ia malah nyasar ke lapangan taman rekreasi bukannya ke lapangan upacara, dikarenakan namanya 'sama') apalagi jalan tikus yang seperti ini!
"Lewat sini aja lho, biasanya kalau lagi nganterin Ibuku belanja lewat sini." Nur menunjukkan gang sebelah toko kelontong yang mengarah ke sawah di gang sebelah SDN 01.
"Beneran ada terobosannya nih?" Tanya Oliv. Nur mengangguk mantap, ia bahkan hafal dengan sebelas jalan tikus untuk mencapai rumahnya.
   Semburat jingga berpadu dengan latar biru muda langit, banyak burung yang mulai kembali ke sarangnya. Mereka berjalan di gang tersebut dengan Nur sebagai pemandu, tidak lama kemudian sudah terlihat sawah luas yang sedang ditumbuhi jagung, angin menerpa tumbuhan jagung dengan keras mebuat tumbuhan yang tingginya setara dengan Oliv itu bergoyang-goyang. Langkah Nur dan Oliv langsung terhenti bersamaan.
"Biasanya nggak se-creepy ini deh, surup-surup eh..." Batin Nur, ia menoleh ke Oliv yang mukanya sama terlihat ketakutan seperti dirinya.
   Srek..srekk... Ada suara langkah dibelakang Nur dan Oliv membuat mereka meneguk ludah dengan kompak(padahal biasanya selalu bertentangan). 
"Jangan menoleh ke belakang, terus jalan." Perintah mereka pada diri sendiri, tapi seakan leher mereka ditolehkan dengan refleks untuk menengok ke belakang. Saat menoleh mereka melihat anak perempuan kecil memakai gaun bermain yang sudah dekil, tapi terlihat janggal.
"Mbak siapa?" Tanya anak itu sambil mengorek-ngorek lubang hidungnya yang lumayan besar dengan telunjuknya sendiri(tentu saja siapa juga yang mau mengorekkannya).
"Eehh itu..." Nur dan Oliv sebagai murid paling pemberani hanya gelagapan menjawab pertanyaan anak itu.
"Samen temannya Mbak Ajeng a?" Tanya anak itu lagi, tapi di telinga Nur lebih terdengar seperti 'Kalau kalian bukan temannya Mbak Ajeng, kalian nggak akan selamat!' .
"Eh iyaa." Jawab Nur sambil tersenyum mencoba ramah, tapi yang nampak malah seperti seringaian.
"Iyaa? Yang rumahnya itu?" Anak itu bertanya lagi sambil menunjuk rumah besar bertingkat yang ada di samping sawah menggunakan telunjuk yang ia gunakan tadi untuk mengupil.
"Iya." Jawab Oliv singkat sambil tersenyum terpaksa, hasilnya malah lebih buruk dari seringai Nur. Oliv langsung menggandeng lengan Nur dan menariknya paksa untuk keluar dari gang itu.
"Ya ampun, anak itu muncul dari mana? Tiba-tiba ada di belakang kita?" Oliv heboh sambil mengatur napasnya agar asmanya tidak kambuh.
"Kan ada banyak rumah tadi disitu..." Jawab Nur mencoba berpikir positif sekaligus menenangkan Oliv, tapi yang ada hanyalah ingatannya kalau pintu-pintu rumah itu tertutup semua, wajahnya mendadak kaku.
"Lewat jalan besar aja." Kata Oliv. Nur angguk-angguk menyetujui, 'kalau tadi semua pintu tertutup, lalu anak tadi muncul dari mana?' batinnya.
   Sementara itu qiraah yang menandakan akan datangnya waktu maghrib berkumandang, Nur dan Oliv berjalan dengan terburu-buru.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"