Cerpen 9


Si Teman Sebangku
Oleh: Fin
"Aku sekarang sebangku sama Siska loh..." Kata temanku saat di angkot, yang membuatku bertanya dalam hati 'kok bisa', tapi yang keluar dari mulutku cuma kata 'oo'. Seakan bisa membaca pikiran orang lain, temanku ini malah menceritakan asal-usulnya kenapa bisa duduk dengan Siska yang menurutku populer itu.
Angkot berhenti di depan sekolah, bel masuk yang norak itu terdengar sampai ke jalan raya, membuatku da temanku berlari dengan kecepatan tinggi ke sekolah setelah membayar ongkos angkot kami. Kami berpisah di lorong karena kelas kami berbeda.
Setelah ditempa beberapa pelajaran, bel pulang yang terdengar merdu berbunyi, aku lalu menuju kelas temanku untuk pulang bersama. Sesampainya di angkot lagi-lagi temanku menceritakan tentang teman sebangku barunya itu.
"Anake rajin pol ternyata, kalau nggak bisa tanya carae, nggak langsung njiplak jawaban. Dia tahu nggak bisanya dimana dan nggak patah semangat buat belajar itu sampai bisa." Jelas temanku yang sudah bersama denganku sejak TK itu dengan semangat, membuatku sedikit iri.
Malamnya temanku promosi barang di status whatsapp, karena tertarik akupun membelinya. Esoknya temanku dan teman sebangkunya yang cantik itu datang ke kelasku sambil membawa pesananku.
"Milih aja Fin!" Kata teman sebangkunya itu, aku kaget, bagaimana dia tahu namaku. Akupun lalu memilih yang paling dekat denganku dan mengucapkan terimakasih padanya sambil tersenyum.
*******
Bimbingan belajar(bimbel) khusus kelas dua belas yang diadakan setelah pelajaran dimulai, lagi-lagi kelasku dan kelas temanku berjauhan.
"Aku di kelas atas." Jawab temanku setelah kutanya letak bimbelnya.
Suatu sore, setelah aku keluar dari kelas bimbel aku melihat Siska keluar dari kelas yang bisa dibilang dekat dengan kelasku, aku bahkan baru tahu kalau ternyata kelas kami berdekatan.
"Fina." Sapanya sambil tersenyum, aku mengangguk sambil tersenyum membalasnya. Aku baru sadar kalau aku tidak pernah menyapanya, maksudku menyebut namanya, walau pernah berbincang aku hanya memanggilnya dengan kata ganti 'hey!' atau 'sampean' saja.
Setibanya di angkot, aku ingin bertanya pada temanku bimbel apa yang diambil teman sebangkunya itu.
"Ngambil bimbel ekonomi." Jawab temanku.
"Oo, mau kuliah jurusan apa?" Tanyaku.
"Dia bilang: "Kayaknya aku nggak kuliah, di sekolah aja aku nggak bisa ngerjakan sendiri, masih minta kamu ajari, ulangan masih lihat punyamu, tapi kamu kuliah loh! Kamu pasti lolos, soalnya kamu pinter." ." Aku hanya manggut-manggut mendengar ceritanya.
Sudah berbulan-bulan temanku duduk dengan Siska, sudah melewati suka duka bersama,  pastinya, bahkan mereka sampai tukar-tukaran jam tangan atau gelang. Aku juga sudah tidak terlalu iri dengannya, bahkan sampai tahu kebiasaan, merk yang dipakainya karena cerita yang kudengar setiap hari di angkot. Siska pun juga jadi sering mengincipi jajan yang aku jual di sekolah, jadi lebih rajin, jadi sering bermain voli dengan temanku(hal yang tidak bisa kulakukan), bahkan menjadi perwakilan kelas tim voli saat classmeeting bersama dengan temanku, dan service serta passingnya tidak dapat diragukan lagi.
*******
"Padahal Siska itu, kalau nggak masuk cuma satu hari lo, lusa itu dia ngechat aku katanya besoknya mau masuk takut ketinggalan pelajaran, tapi kemarin dia belum masuk, dan sampai sekarang dia juga belum masuk, kenapa ya..."
"Kalau pusing, lemes, nggak nafsu makan itu bisa jadi typus kah?"
"Bisa jadi." Jawabku.
"Sampean dulu kalau typus juga gitu a?"
"Heem."
"Haduh, masak dia sakit typus sih..." Kata temanku dengan nada khawatir.
Sudah satu minggu sejak itu, tapi teman sebangkunya temanku masih belum masuk dan membuat temanku semakin khawatir. Saat ujian akhir semester satu, sepertinya Siska belum juga masuk, karena aku sendiri tidak pernah melihatnya, entah dengan temanku, apa dia bertemu dengan teman sebangkunya itu atau tidak.
Setelah ujian akhir semester satu selesai, entah kapan persisnya, sepertinya aku melihat temanku bermain voli dengan teman sebangkunya itu di lapangan. Setelah bel pulang berbunyi, aku menuju kelas temanku.
"Nunggu Fayza a?" Tanya Siska.
"Heem." Aku mengangguk.
"Anaknya masih piket, tunggu aja disini." Siska menepuk bangku sebelahnya. Aku pun duduk disitu dengan canggung, tanpa berbicara. Akhirnya temanku selesai piket, dan aku terbebas dari kecanggungan itu.
"Ayo pulang, oiya Fin, nanti nunggu Siska dijemput bentar ya." Kata temanku.
"Heem."
*******
Musim ujian datang, mulai dari USBN sampai UAMBN, tapi lagi-lagi aku jarang bertemu teman sebangkunya temanku itu.
"Loh Siska nggak masuk tah?" Tanyaku saat di angkot.
"Enggak, sakit." Jawabnya dengan muka kesal.
"Oo." Aku tidak berani bertanya lanjut.
Saat UAMBN akan dilaksanakan, pengawas meminta kami memanjatkan doa kepada Siska karena sedang dirawat di rumah sakit. Saat sesi mengerjakan berakhir kami diperbolehkan pulang dan belajar di rumah untuk pelajaran besoknya.
"Ayo pulang." Ajakku.
"Aku sama teman-teman sekelas mau njenguk Siska, sampean pulango dulu." Karena aku belum siap menghadapi UAMBN, aku menuruti saran temanku untuk pulang duluan.
Besok paginya di angkot, aku dan temanku satu angkot dengan guru kami. Setelah salim pada guru itu kami duduk di bangku angkot.
"Siska itu sekelas sama kamu ya? Itu kenapa sih anaknya?" Tanya guru itu pada temanku yang membangkitkan keKEPOanku.
"Iya Bu, sakit dia, tapi nggak di kasih tahu sakit apa." Jawab temanku, lagi-lagi dengan wajah yang seperti kesal.
Saat pulang sekolah pun, di angkot mood temanku ini sangat buruk.
"Ya ampun Fin, nggk bisa mbayangin aku, gimana nanti kalau dia masuk sekolah, gimana pandangannya anak-anak lainnya ke dia." Aku hanya diam memerhatikan, meminta lanjut ceritanya.
"Siska itu lo nggak stress, dia nggak gila, siapa bilang kalau dia sudah lupa sama temen-temennya? Aku lo sama anak- anak kemarin kesana dia juga masih inget aku, dia masih ingat temennya."
"Duh, nggak bisa mbayangkan aku, kan kasihan nanti kalau dia masuk gimana..." Mata temanku sampai memerah dan berkaca-kaca, untung angkot masih sepi menunggu penumpang. Aku hanya bisa simpati sambil menebak-nebak, siapa kira-kira yang paling masuk akal menyebarkan berita yang ngawur seperti itu.
*******
Wabah corona sampai ke Indonesia, yang menghasilkan berbagai keputusan baru, seperti lock down, social distancing, bahkan penghapusan UNBK. Dari desas-desus yang terdengar, acara wisuda pun diundur sampai setelah lebaran bahkan ada yang digagalkan. Aku lalu membuat ucapan-ucapan selamat kepada teman-temanku dengan hand lettering yang akan kufoto lalu kukirimkan pada saat tanggal wisuda yang dulu sudah direncanakan sebelum adanya wabah ini.
Hari-H pun tiba, aku lalu mengirimkannya pada teman-temanku lewat whatsapp, dan banyak yang berterimakasih dan ada yang mengucapkan balik, aku sangat senang. Tapi setelah itu kegabutan melandaku, apa yang harus kulakukan saat masa karantina seperti ini, aku lalu hanya tidur, bangun, bermain handphone, tidur lagi, bangun lagi begitu seterusnya sampai mataku rasanya sakit karena melihat handphone terus. Aku pun lalu mem-freezer aplikasi whatsapp dan permainan offline ku, agar mengurangi penggunaan handphone. Tapi suatu malam sekitar jam 20.39 , tiba-tiba aku ingin sekali membuka aplikasi whatsapp yang pasti membuaku melanggar perjanjian dengan diriku sendiri. Data sudah kunyalakan, tapi pesan-pesan yang masuk masih dari beberapa jam yang lalu, aku lalu melihat status temanku yang dikirim sekitar dua menit yang lalu.
Statusnya berupa screenshoot dari grup angkatan yang membuatku kaget, chat itu berisi: ' Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, innalillahi wa inna ilaihi raaji'un, telah wafat ananda Siskawati kelas XII IPS 2, semoga khusnul khotimah, diterima amal ibadahnya, diampuni semua dosanya, dan keluarga yang ditinggalkannya ditambah kesabaran dan ketabahan oleh Allah SWT, Aamiin Ya Robbal 'Aalamiin.' Hey hey siapa lagi sih ini yang membuat berita ngawur seperti ini, aku jadi ikut kesal. Aku lalu melihat status temanku yang lain yang ternyata juga berisi hal yang sama, aku lalu menanyai temanku yang membuat status itu.
"Iya tah?"
"Iya." Jawaban itu membuatku kaget sekali, aku mau memastikan ke Fayza tapi takutnya malah memperburuk perasaannya. Bayangan-bayangan itu muncul di kepalaku, kenapa dulu aku tidak membalasnya dengan senyum pepsodent saat dia menyapaku, kenapa aku tidak pernah memanggil namanya saat bertemu, kenapa aku tidak mengucapkan 'semoga cepat sembuh' saat dia sakit, kenapa aku tidak memberinya ucapan selamat seperti yang kuberikan pada teman-temanku yang lain, bayangan-bayangan itu membuatku menangis dan merutuki diriku sendiri, kenapa aku begitu jahat padanya? Aku lalu mengechat Fayza tentang rasa sesalku, tapi malah dijawab dengan jawaban yang membuat air mataku malah deras mengalir.
"Nggak papa kok, sekarang anaknya sudah nggak sakit lagi, jadi nggak perlu ucapan 'semoga cepat sembuh', aku senang kok walaupun nggak bisa ketemu lagi, tapi aku bisa cerita ke Allah, tanya ke Allah gimana Siska disana, aku cuma pingin bisa ngomong langsung ke dia kalau 'Aku sudah ketrima jalur SNMPTN, aku sudah diterima kuliah, Sis.' ." Jawabnya sekitar jam 22.42. Aku tapi masih terus menangis sampai tidak kusadari kalau sudah malam, tapi Fayza masih tetap aktif whatsapp.
"Nggak tidur a?" Tanyaku setelah melihat jam yang menunjukkan pukul 00.07

"Aku pinginnya begadang, kan kasihan Siska sendirian, dingin..." Ampun deh, saat membaca itu air mataku rasanya sudah habis sampai tidak bisa keluar lagi, semoga kamu diberi tempat terbaik disisi Allah ya, Sis. Maaf, cuma tulisan ini yang bisa aku berikan agar selalu mengingatmu.

Malang, 19 April 2020


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"