Cerpen 8

Angkot
Oleh: Fin
Sore itu, setelah bel pulang sekolah berbunyi, tiba-tiba hujan turun deras seakan-akan menyambut siswa-siswi yang berhamburan melewati gerbang sekolah dengan menunjukkan muka kusut mereka karena tertempa pelajaran-pelajaran selama enam hari dalam seminggu. Para pedagang diluar gerbang-pun tampak kaget dengan kedatangan hujan, ada yang langsung memasang payung, bahkan ada pedagang minuman dingin dan es langsung pulang karena perubahan cuaca ini, namun tidak dengan pedagang cilok yang malah tersenyum dan memamerkan dagangannya yang beruap hangat(Memang, jajanan ini selalu laris dalam kondisi cuaca apapun.).
"Yah... Kok hujan sih, padahal kan malming! " Keluh Izka.
"Memangnya kalau malming kenapa? Toh, kamu juga jomblo! " Timpal Lyza, disambut tawa kami semua yang berada di angkot.
"Lek udan ngene iki enak e yo maem mie, nonton TV karo turu kemulan. " Kata Seth.
"Eh... Gila aja, gimana kalau lagi nonton TV terus kesamber petir? Kan itu sinyalnya kebuka! " Paranoid Shin membuat kami semua hanya memasang wajah datar.
"Ngomong-ngomong kamu multitasking ya ternyata... Bisa tidur sambil lihat TV, makan mie juga! "
"Lho yo iyo tah... " Seth, satu-satunya anak yang dapat menanggulangi kepolosan Mina yang hanya membuat kami menepuk jidat dan membuatku berteriak 'Tidak!!!! ' dalam hati dan pikiranku. Memang dua teman kami ini, Seth dan Mina adalah wujud dari ujian kesabaran batiniah.
Angkot yang kami tumpangi menyalip kendaraan di depan dengan lincah dan gesit sampai membuat penumpangnya seperti mengendarai bom bom car. Aku dan teman-teman sampai berpegangan pada besi panjang yang tertanam melintang di jendela.
"Eh gilak, sopirnya Pak Anjing ya? Kok kebut-kebutan." Omel Shin pelan. Awalnya kami pikir dia sedang mengumpat dengan menyebut nama hewan itu tapi dia mengucapkannya dengan wajah datar yang membuat kami bingung.
"Pak... Anjing?" Tanya Izka ditengah kesibukan kami mempertahankan diri dari gejala Hukum I Newton.
"Iya, yang biasanya di dasbor nya ada boneka anjing yang kepalanya bisa geleng-geleng itu lo." Jelas Shin.
"Oo, bukan deh kayaknya ini orangnya nggak ada boneka anjingnya." Kata Lyza setelah melongok ke depan.
"Ya Allah rek aku kangen Pak Barbie sing..." Ucapan Seth terputus karena angkot tiba-tiba berhenti.
"Wadaw!!" Teriak Shin karena tubuhnya terlempar dari pojok belakang ke bagian tengah dan mendarat di sebelah Lyza yang membuat Lyza mengencet adik kelas yang kebetulan ada di pojok depan.
"Eh maaf ya, Dek." Kata Lyza dengan muka semerah kepiting rebus.
"Shin sih!" Omel Lyza, Shin hanya meringis, sedangkan kami menahan tawa.
"Geser woi! Enek wong kate munggah." Seru Seth. Kami pun bergeser memberikan tempat.
"Min, gesernya ke belakang dong, biar orangnya nggak sulit duduknya." Kata Izka.
"Aku tadi geser ke depan soalnya kan habis ini aku turun, biar nanti nggak ngelangkahin orangnya gitu, tapi ya udah deh geser ke belakang aja." Jawab Mina dengan muka polosnya.
Mina, Izka, Seth turun satu persatu, tapi setiap ada yang turun, penumpang lain datang dan membuat angkot penuh sampai ada yang duduk di pintu. Di angkot tinggal aku, Shin dan Lyza. Angkot tetap berjalan dengan gesitnya sampai aku yang sudah perpengalaman mengangkot selama lima tahun merasa mual, ditambah lagi penumpang yang duduk di pinggirku merokok dengan santainya padahal sudah jelas-jelas ada stiker larangan merokok yang dipasang di pintu angkot.
"Kiri, Pak!" Seru Lyza.
"Duluan ya." Kata Shin padaku, memang rumah Lyza dan Shin berdekatan sehingga turunnya berbarengan.
"Permisi.." Kata Shin pada setiap penumpang yang dilewatinya.
"Mm permisi!" Lanjutnya karena orang yang duduk di pintu tidak memberinya jalan keluar. Orang itu lalu memepetkan tubuhnya ke salah satu sisi pintu(Tapi tetap saja tidak ada jalan, soalnya badannya besar). Shin pun lalu melangkahi orang itu dengan sedikit meloncat, tapi naas ujung roknya tersangkut di pinggir pintu sehingga membuatnya terjerembab dan jahitan roknya sobek sampai ke atas, untungnya dia memakai dalaman celana seragam olahraga.
"Pffft." Aku menahan tawaku.
"Hahaha, sini-sini ayo berdiri." Lyza menyodorkan tangannya sambil tertawa.
"Huuh..." Shin sebal sambil memandang orang yang di pinggir pintu yang sampai saat ini tetap di posisinya tanpa rasa bersalah. Angkot berjalan kembali, aku pun juga sedikit sebal pada orang itu, mulai besok aku tidak mengangkot lagi deh biar nggak kayak Shin.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"