Riddle 7
Lisrik Mati
Oleh: Fin
Tiga hari yang lalu, aku dan kakak perempuanku pindah kos ke daerah dekat rumah temanku. Kata temanku kos itu sudah lama tidak ditempati karena rumornya ada hantu di rumah itu, sehingga harga kos itu lebih murah walaupun ada di daerah elite.
Aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena ini kan sudah zaman modern, mana mungkin hantu masih ada? Mengesampingkan hal itu, kos ini masih bagus dan terjangkau listrik bahkan ada televisi, kulkas, mesin cuci dan juga AC.
Suatu sore sekitar jam tujuh tiba-tiba lampu mati. Aku mengecek keluar, ternyata memang pemadaman listrik serentak, karena listrik di tetangga-tetanggaku juga mati. Setelah memastikan hal tersebut aku kembali ke dalam dan menyalakan televisi, eh sial aku lupa, kan sedang mati lampu... Aku lalu hanya duduk santai di sofa depan televisi. Tapi tiba-tiba ada sekelebatan putih di belakang ku yang dipantulkan layar hitam televisi. Aku merinding kaku dan mencoba menoleh ke belakang, tapi hasilnya nihil! Aku refleks berlari ke kamar kakakku yang berada di belakang.
"Mbak! Mbak!! " Aku menggedor-gedor pintunya. Tapi tidak ada jawaban.
"Mbak! Bukain dong! " Aku mencoba lagi. Akhirnya aku langsung masuk kamarnya yang tidak dikunci ternyata dan segera menutupnya tanpa menguncinya soalnya aku nggak punya kuncinya hehe.... Sesampainya di dalam aku segera mengguncang-guncang kakakku yang ternyata tidur.
"Mbak ada putih-putih tadi di ruang depan. " Kataku, tapi tidak ada respon. Aku lalu membuka selimutnya dan betapa terkejutnya aku saat menemui bahwa yang dibalik selimut adalah guling. 'Aduh bagaimana ini? Gimana kalau Mbak ternyata sudah ketangkep hantunya terus dijadikan santapan? ' Aku menggeleng segera membuang jauh-jauh pikiran itu.
Kriekkk.... Pintu kamar kakakku terbuka, menyisakan suara yang memekakan telinga sekaligus membuat bulu kudukku berdiri. Sosok putih itu berjalan mendekatiku.
"Ampun ampun.... " Kataku sambil memejamkan mata. Eh tunggu-tunggu... Sosok putih tadi, berjalan?! Aku langsung membuka mataku dan mendekati sosok itu. Aku kaget sekaligus lega. Sosok putih yang ternyata kakakku itu hanya menatapku dengan wajah bingung, tapi tertahan untuk bicara karena sedang menggunakan masker wajah, takutnya kalau bicara nanti jadi retak. Lalu setelah itu sekitar jam setengah delapan listriknya sudah menyala. Aku senang sekali. Aku lalu ngebut mengerjakan PR ku yang harus dikumpulkan besok.
Esoknya di sekolah, di kelas banyak sekali yang mengeluh tentang pemadaman listrik serentak kemarin.
"Ya ampun, kemarin ngapain ya kok dipadamin, mana PR nya dari Bu Sita yang galak lagi. " Omel Nina.
"Memangkelkan sangat. "
"Iya aku ngebut banget ngerjainnya apalagi dikumpulkan pagi. " Sahut Tata, sahabat Nina.
"Sulit lagi, apalagi kemarin nyalanya baru jam sepuluh malam ya. " Kata Adi yang segardu listrik karena dia tetangga kos ku.
"Iya nih... "
"Heem."
"Eh kalian mau dengar ceritaku kemarin nggak? " Tanyaku.
"Kenapa? Ngerjainnya PR nya browsing nggak nemu? "
"Nggak, jadi... " Aku menceritakan kisahku kemarin dengan tertawa karena mengingat kepecundanganku. Tapi temanku yang mendengarkan ceritaku menatapku dengan aneh. Eh kenapa ini? Memangnya apa yang aneh dengan ceritaku?
Keren
BalasHapusMakasih
Hapus