Cerpen 5


Senja Kala Itu
Oleh: Fin

Seperti senja-senja sebelumnya, kami berkumpul di meja makan sederhana yang terbuat dari kayu randu. Bapak, Ibu, dan Aku. Walaupun Bapak bekerja, beliau akan menyempatkan waktunya untuk makan dan berbincang bersama keluarganya.
"Riza, habis makan nanti belajar ya...!" Kata Ibu padaku.
"Untuk apa Bu belajar?" Aku segera membungkam mulutku dengan telapak tangan kananku, karena kalimat itu terlontar begitu saja tanpa niatan.
"Eh?" Ibu tercengang, sedangkan Bapak hanya tersenyum kecil.
Bukan, bukannya aku menyepelekan tentang belajar, hanya saja akhir-akhir ini aku sendiri bahkan baru sadar bahwa aku tidak tahu untuk apa aku belajar. Walaupun aku belajar lebih giat dibanding teman sekelasku, namun tetap saja nilaiku lebih rendah dibanding mereka. Aku tahu, beberapa dari mereka melakukan kecurangan seperti menyontek, membuat catatan kecil, browsing di internet dan kecurangan lainnya yang membuat persaingan di kelas kurang sehat dan akhirnya menghamburkan tujuanku belajar.
"Untuk apa belajar? Ya biar pintar dong!" Jawab Ibu.
"Terus, kalau sudah pintar ngapain?" Lanjutku.
Sebenarnya aku tahu betul ini karena sudah menempuh pendidikan kurang lebih sebelas tahun. Menurut yang kuketahui, orang yang berilmu lebih terpandang di masyarakat, bahkan Tuhan-pun akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Tapi sekarang, banyak orang yang bergelar sarjana namun masih lontang-lantung tidak berguna.
"Hmm." Bapak hanya tersenyum mendengar pertanyaanku dan langsung dipelototi oleh Ibu.
"Nanti kalau sudah punya anak kan bisa ngajari pelajaran yang dulu." Kata Ibu. 'Ewaw... baru umur tujuh belas udah ngomongin anak.' Kataku dalam hati. Sedangkan aku sendiri hanya melongo.
"Kenapa kamu tanya gini? Apa gara-gara nilaimu dibawah teman-temanmu Za?" Bapak yang daritadi diam akhirnya ikut bicara, aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Nilai itu cuma bonus Za, yang penting kamu bisa, tapi sebenarnya ada yang lebih penting dibanding itu." Lanjut Bapak.
"Eh? Ada yang lebih penting daripada bisa pelajaran?" Tanyaku.
"Yang paling penting itu akhlak Za, masa depanmu nggak ditentukan di bangku sekolahmu, kamu nggak akan ditanyai berapa ranking-mu dulu di sekolah saat sudah terjun di masyarakat."
"Emangnya kalau akhlak ditanyakan di masyarakat?" Entah kenapa, aku suka sekali mendebat, kadang aku sendiri tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa.
"Kalau akhlak nggak ditanyakan, tapi dirasakan. Misalnya saja kamu bekerja di perusahaan, karena sikap malas dan tidak jujur yang kamu biasakan mulai sekarang, maka kamu tidak akan bertahan lama di perusahaan itu, perusahaan mana yang mau mempekerjakan pegawai seperti itu." Jelas Bapak.
"Tapi walaupun aku belajar rajin dan jujur aku nggak bisa ngalahin teman-teman." Keluhku.
"Belajar itu buat diri kamu sendiri, yang penting kamu sudah berusaha semaksimal kamu, jadi kalau nilainya jelek nggak bakal menyesal karena memang sudah berusaha maksimal, sebelum mengalahkan yang lain kalahkan dulu sifat malas dan tidak jujurmu, nggak usah medulikan nilai yang lain." Kali ini Ibu yang bicara.
"Huft... baiklah"
Setelah makan, Bapak berpamitan untuk kembali bekerja. Kami mengantar Bapak sampai depan pintu. Aku memandang punggung Bapak yang semakin menjauh, sambil bertekad untuk memperbaiki akhlak dan belajar untuk diriku sendiri.

Komentar

  1. Banyak yang masih belum bisa nemuin makna dan tujuan dari belajar, kalau menurut kalian gimana?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"