Cerpen 6

Nostalgia
Oleh: Fin

Malam itu, bulan menampakkan fase matinya. Langgar kecil berwarna putih diramaikan oleh anak-anak yang sejak maghrib tadi merconan di halaman depannya.
"Wuzz keren, mercon apa itu kok bisa muter-muter gitu?" Fia yang jarang keluar rumah terkagum-kagum melihat mercon milik teman-temannya yang sudah dinyalakan.
"Huh dasar, cewek tau apaan tentang mercon! Ini nih mercon gasing." Ledek Fikri.
"Eh apa bawa-bawa cewek?! Aku punya mercon capung sama kupu-kupu." Timpal Novi.
"Itu sih bukan mercon, itu cuma kembang api, ini nih baru mercon!" Fikri membanting salah satu mercon dari saku celananya, sehingga mercon itu meledak dan cewek-cewek spontan berteriak kaget. Fina mengintip dengan mata besarnya yang bersinar-sinar dari balik badan kakaknya.
"Waw... keren, ayo Mbak Fia kita beli yang kayak gitu!" Fina yang masih TK membujuk kakaknya.
"Lo! Kan kamu sudah punya mercon kretek!" Kata Fia.
"Tapi yang itu kayak bom asap di Naruto!" Fina mengerucutkan bibirnya sambil menarik-narik ujung jaket coklat kakaknya.
"Heh! Anak kecil nggak boleh main ginian, ini nih mainannya anak yang sudah SD tau!" Sahut anak tambun, salah satu gengnya Fikri.
"Halah! Kamu juga baru kelas satu juga Kul, Bikul...!"
"Ehee..." Bikul hanya meringis.
"Nih tak kasih!" Fikri menyodorkan satu mercon banting pada Fina.
"Huwoo... makasih." Saat Fina akan membanting mercon itu, Mas Dilla selaku muadzin datang.
"Sstt... jangan ramai! Mau adzan isya'." Kata Mas Dilla.
Mereka mengangguk menurut sambil menuju tempat wudhu, lalu sholat isya' berjamaah setelah berwudhu. Mereka langsung berlari keluar langgar setelah berdoa. Ternyata di depan langgar sudah ada rombongan anak kampung selatan dan barat.
"Sudah siap semua?" Tanya Pak Jum, ustadz di langgar tersebut.
"Sudah pak!" Jawab mereka serempak.
"Eh Fin, aku bawa permen, mau?" Tawar Fayza, teman Fina se-TK.
"Mau... eh aku bawa mercon banting lo..." Fina sambil membanting mercon yang tadi didapatnya dari Fikri.
Duarr!!! Sontak semuanya kaget, termasuk Pak Jum.
"Siapa itu tadi?" Pak Jum bertanya dengan tenang tapi membuat semuanya takut.
"Eh.. saya pak." Fina mengacungkan tangannya.
"Jangan main ginian, bahaya, apalagi nanti waktu di jalan raya, siapa lagi yang bawa?" Lalu Fikri dan teman-teman menyerahkan semua mercon yang mereka bawa.
"Nanti Pak Jum kembalikan kalau sudah selesai, dan ingat kalau main mercon harus degan pengawasan orang dewasa!" Lanjut Pak Jum. Fikri dan gengnya hanya mengangguk pasrah.
"Ayo kita berangkat!" Seru Bu Roicha, istri Pak Jum.
Pak Jum lalu membagikan obor pada anak-anak untuk penerangan. Kenapa nggak make senter yang ada di handphone?  Jika itu yang kalian tanyakan. Pada saat itu, jangankan handphone, senter-pun tidak semua orang punya, hanya sebagian kecil.
"Pak Jum, saya juga mau, gandengan sama Fina deh kalau nggak boleh megang sendiri." Pinta Fayza.
"Ya sudah deh, tapi hati hati ya!" Kata Pak Jum sambil memberikan obor yang ukurannya paling kecil, maklum dibuat sendiri sehingga ukurannya beragam.
"Kalau sudah megang obor semua ayo dimulai, Bismillahirrohmanirrohiim..."
"Pak Jum mati!!!" Teriak Fina.
"Huss... ngawur! " Seru mereka bersamaan.
"Eh, maksudku obornya mati." Fina sambil melongo kaget.
"Sudah kan? Ayo berangkat!" Pak Jum menyalakan kembali obor kecil itu.
"Ayoo!!" Jawab mereka kompak.
"Allahuakbar allahuakbar allahuakbar laailaahaillallohuallahuakbar allahuakbar walillah ilham!"
Takbir dikumandangkan, tidak hanya oleh mereka tapi semua langgar melalui speaker-nya masing-masing. Mereka berkeliling desa membawa obor sambil mengumandangkan takbir dengan suka cita, berharap kejadian ini dapat berlangsung terus.
*******
Sayangnya harapan mereka tak terjadi. Langgar tempat mereka mengaji dulu menjadi sepi dan tak terurus. Bahkan saat tarawih hanya ada satu saf laki-laki dan dua saf perempuan. Entah kemana semua anak kecil pergi, apa karena penduduk di desa ini jika digambar menjadi piramida constructive ? Atau karena mereka sudah tidak berminat untuk mengaji dan lebih memilih mengurung diri di kamar bersama smartphone-nya. Entahlah, setidaknya aku pernah mengalami kejadian itu dan akan kukenang walau dunia sudah berubah. Eh, ralat~ maksudku manusianya yang berubah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "Things Left Behind (Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada)"